Review : Tes TOEIC pakai jasa ITC Indonesia

Sebelumnya, untuk yang menanyakan saya kemana saja sampai tak tulis posting, saya ingin menyatakan bahwa saya masih baik-baik saja. Saya bukan tipe orang yang mau mengumbar private matters apalagi curhat di media sosial.

Puji Tuhan di awal 2019 ini saya dipertemukan dengan teman-teman yang baik, yang rela mensubsidi saya untuk mengambil certificates. Karena saya sadar bahwa kemampuan saya masih kelas teri, jadi saya memutuskan untuk ambil TOEIC L&R serta TOEFL PBT (well, sekarang yang dipakai itu iBT, tapi karena harganya amat mahal ya nanti aja ya kalau udah ada rejeki banyakan dan sudah ada nyali)

Mengapa ambil TOEIC? Emang TOEIC itu apaan?

TOEIC itu sebenarnya sertifikasi Bahsa Inggris juga, namun lebih sering dipakai untuk keperluan profesional, seperti untuk melamar pekerjaan. Nah, si TOEIC ini memang ditujukan untuk yang bahasa aslinya bukan Bhasa Inggris. Untuk kita-kita yang di Indonesia dan jarang berinteraksi dengan expats cocok lah. Di Indonesia, menurut saya, si TOEIC ini cukup underrated, padahal pas mengerjakannya saya lumayan nyaman karena yang dikerjakan sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, seperti baca iklan, nulis komplain, melamar kerja, pesan barang, chatting, dan lain-lain. Intinya ngga serepot tetangga-tetangga sebelah lah. Harganya juga jauh lebih murah dengan sertifikat yang sama-sama diakui internasional. Pas saya tes kemarin, emang rata-rata yang ikutan merupakan orang yang mau melamar kerja atau ada urusan di kawasan Asia Timur kayak Jepan, Korea, Taiwan. Bahkan ada orang asli Taiwan yang tes bareng, katanya kalau di sana lebih umum pake TOEIC, baik urusan studi, kerja, maupun beasiswa.

Nah, terus mengapa saya tiba-tiba pengen tes TOEIC?

Ceritanya teman saya nawarin project, nah salah satu syaratnya itu serifikat bahasa seperti TOEFL iBT, IELTS, atau TOEIC, tapi yang diakui internasional, jadi si TOEFL PBT itu ngga ikutan. Nah sobat misqueen ini kan ngga ada dana buat iBT atau IELTS, jadinya coba pake TOEIC aja, itu pun setelah googling sana sini dan reviewnya bagus. Akhirnya saya coba kunjungi website ETS (yang mengeluarkan lisensi TOEFL sama TOEIC), lalu dirujuk ke salah satu penyedia jasa resmi tes TOEIC (jadi sertifikat kita diakui internasional), yaitu ITC (bukan ITC yang tempat belanja ituuu)

Yasudahlah, jadinya saya membulatkan diri untuk daftar tes, dan ternyata telat dua hari dari waktu terakhir daftar, jadi terpaksa ikut batch selanjutnya. Walaupun providernya di Jakarta, namun si ITC ini kerjasama dengan beberapa institusi untuk penyelenggaraan tesnya sehingga kita nggak harus tes di Jakarta. Kalau saya tesnya di Bandung, pilihannya antara di POLBAN Sarijadi atau Telkom University. Kemarin saya pilihnya di POLBAN Sarijadi, hanya karena laebih dekat, lagian juga kesana sekarang gampang, gak kayak pas saya tes Halliburton dulu. Dari Dago tinggal naik TMB, turun di ujung deket Rusun Sarijadi, terus naik angkot Parongpong yang kuning atau pesen ojol, harganya juga sama aja. Dari halte TMB sekitar 5 menitan lah kalau pake kendaraan, kalau jalan nanjak. Dulu mah nyambung angkot berkali-kali, terus angkotnya pake acara ngetem 😦 Lumayan selisih waktunya, dulu kalau lewat Gegerkalong butuh sejam-an, kalau sekarang sekitar 30 menit udah sampai.

Daftar buat tes di ITC juga cukup mudah, masuk aja ke webnya, terus bikin akun untuk daftar, nanti passwordnya mereka yang buat. Aktivasi akun lewat perintah yang diberikan di email kemudian isi data diri dll. Setelah itu, sistem daftar tesnya seperti belanja di marketplace, kita pilih produk (mau tes apa) serta waktu dan tempatnya. Bagusnya, kalau kita ambil tes, mereka langsung tawarkan supporting productsnya seperti jasa pengiriman sertifikat dan buku latihan, dan bukunya lumayan murah daripada beli di luar. Saya waktu itu nyesel ngga beli, karena ternyata cari reference TOEIC susah sekaliii. Pilihan metode bayarnya juga banyak, jadi ngga repot, hanya saja saya waktu itu salah pilih metode bayar jadinya kudu daftar ulang. Oiya, jeda waktu bayarnya lumayan pendek, sekitar 3 jam, jadi pastikan setelah daftar ada akses untuk bayar ya, misalnya dekat ATM, gopay-nya cukup, atau bisa bayar pake tokped.

Nah, belajarnya gimana? Sama aja sama persiapan tes TOEFL atau IELTS, practice makes perfect! Kalau listening bisa belajar dengan cara dengarkan podcast bahasa Inggris, lagu bahasa Inggris, atau nonton siaran dengan bahasa inggris, TANPA SUBTITLE, boleh kartun buat bocah, Youtube channel (temen-temen sih rekomendasi nonton TED, tapi kalau mau yang ringan bisa nonton Half as Interesting, Geography Now, Try Guys, Tasty, Wendover, dan lain-lain). Nonton serial dengan bahasa Inggris juga boleh, tapi tetap tanpa subtitle. Untuk reading, bisa belajar structure dari latihan-latihan TOEFL, namun untuk memahami bacaan, bisa googling contoh soal TOEIC. Kalau ada yang sediakan tes interaktif, ikutin aja. Waktu itu aku coba mock up test di sini sini sini. Hasilnya ga jauh-jauh amat sama tes aslinya, kalau kemarin aku deviasi skornya sekitar 50 points lah, dengan catatan ngerjainnya benar-benar ya.

Pas hari-H tesnya gimana? Lumayan santai sih, yang ikut 10 orang-an, didominasi pria, yang wanita hanya dua, saya dan di Taiwanese di awal cerita tadi. Yang ikut pas di batch saya rata-rata calon pilot dan mahasiswa kampus gajah yang mau melamar beasiswa ke Korea. Pas nunggu tes, kami semua dikasih minum sama panitia, tapi tidak boleh dikonsumsi saat ujian. Tesnya mulai tepat waktu, 30 menit sebelumnya dilakukan ID check, ga cuma cek identitas sama kartu peserta, tapi juga ada body scan dan difoto dulu. Setelah body check, baru masuk ke ruang ujian. Sistemnya membulatkan lingkaran, tapi alat tulis disediakan semua, kecuali rautan. Namun tenang saja, pensilnya layak pakai dan disediakan cadangan juga. Mejanya juga halus, ngga usah bawa papan jalan jadinya. Pas isi identitas, panduan dari pengawas cukup jelas, bahkan pas penjelasan pertanyaan tujuan tes untuk apa, disebutkan kode-kode calon perusahaan atau beasiswa yang dituju, dan rata-rata cukup terkenal. Kualitas sound untuk listening jernih banget, pake Altec Lansing, dan selama ujian diawasi CCTV. Karena saya sudah lama nggak tes tertulis selama 2 jam, pulang-pulang aku pegal. Mana pas pulang hujan deras dan hampir tersambar petir, lagi 😦

Hasil tesnya lumayan cepat dan bisa diakses di sini sekitar dua hari setelah tes. Saya tes di hari Selasa, Kamis sore sudah bisa diakses. Untuk hasil sesuai target, tapi masih ngga nyangka kalau skor listening saya 495 out of 495. Seumur-umur belum pernah kejadian. Suatu anugerah luar biasa ini mah.

Sekarang tinggal nunggu sertifikat fisik datang ~

Overall, puas sama servisnya!

Advertisements

kemana saja?

*sapu sapu blog

Baiklah, maaf lama tidak upload, mengingat terlalu banyak yang mau diketik jadi lupa mau ketik apa .

jika butuh bantuan, saya bisa dicari di twitter atau instagram. terima kasih.

Review : Operasi Wasir dengan BPJS

sebenarnya operasinya udah lama, mudah-mudahan langkah-langkahnya masih valid sik.

Dulu pas lagi di Yogyakarta untuk liburan berkedok konferensi, wasir saya mengembang sempurna dan engga bisa dikempesin. Tersangkanya mungkin karena saya duduk 8 jam tanpa berdiri (literally) di kereta bisnis, padahal biasanya saya bukan tipe yang bisa duduk anteng dalam waktu lama. Jadilah lima hari di Yogyakarta kesakitan, entah berapa duit dihabiskan untuk amb*ven, borr*ginol, dan suppositoria yang semestinya bisa digunakan untuk makan di raminten dan belanja postcard *tetep. Gara-gara ini jugalah saya pulang pake kereta kelas eksekutif, hanya karena sakitnya nggak nahan, tapi paling tidak nggak se-memalukan waktu saya pingsan di kereta dulu.

Sampai di Bandung lagi, nunggu hari Senin dulu baru bisa minta rujukan. Itupun setelah memantapkan hati jika disuruh operasi, mengingat denger kata operasi biasanya udah serem duluan. Tapi waktu itu nunggu hari Senin-nya ngga lama kok, ga sampe seminggu. Nelpon orang rumah juga, akhirnya orang rumah rela kalau aku dioperasi, dengan catatan operasinya paling cepat seminggu setelah hari Senin nanti.

Tiba hari Senin, saya ke faskes tingkat I dulu untuk minta rujukan dengan bawa kartu BPJS seperti biasa. Untunglah dokternya cewek jadi nggak malu ‘cek belakang’. Kata dokternya emang harus operasi. Ya sudahlah akhirnya dikasih rujukan buat operasi di RS Sariningsih (dan saya sampai sekarang bersyukur kenapa operasinya disana). Ternyata RS Sariningsih ini dulu RS tentara khusus untuk yang melahirkan, makanya banyak dokter ceweknya. Bahkan dokter bedahnya cewek.

Habis dari faskes tingkat 1 langsung ke RS Sariningsih setelah fotokopi surat rujukannya. Untung masih dapat nomor antrian disana. Syarat yang dibutuhkan adalah surat rujukan asli + 2x fotokopi, fotokopi ktp x2, fotokopi kartu keluarga x2, dan fotokopi kartu bpjs x2. Waktu itu dimintai tambahan buat bikin kartu anggota rumah sakit sih, gatau sekarang, dulu tambah 10 atau 25 ribu kalau ngga salah. Kartu anggotanya lucu warna ungu :3

Setelah daftar lalu ku menunggu di depan poli bedah. Aku kira rame, ternyata RS-nya lumayan sepi. Setelah sampai nomorku, masuklah diriku ke ruang dokternya. Dokternya cewek, udah rada senior, namanya Dokter Concepcion Garcia, tapi Indonesia asli kok. Dokternya tegas dan sangat to the point, kalau ketemu pertama kali pasti takut. Cek bentar dan langsung disuruh masuk rawat inap SAAT ITU JUGA, karena besok siang langsung operasi. Mana yang bilang ngantri operasi BPJS itu lama? Kan aku langsung shock, sekalian ngabarin orang rumah karena kalau operasi katanya harus ada yang nungguin. Setelah cek darah dll yang menguatkan keputusan dokter, akhirnya diriku ke apotek untuk tebus obat dan kebutuhan operasi besok, karena di sini sistemnya obat tebus sendiri nanti kasih ke susternya untuk dikasih ke kita lagi. Setelah check-in kamar di area suster, dijelaskan pantangan-pantangan sebelum operasi, disuruh cari orang untuk menemani, dan diizinkan pulang untuk ambil baju.

Sambil pulang, beli cukuran dulu di Riau Junction sekalian mengabari orang rumah kalau operasinya besok supaya didoakan dan tolong jangan panik sekalian minta uang jajan tambahan  Puji Tuhan ada Mba Upi sang penyelamat yang dapat menemani aku sebentar di RS sekalian tanda tangan berkas menjelang operasi. Setelah packing baju, ngabarin ibu kosan sekalian minta doanya karena harus operasi baru balik ke RS.

Malam hari itu akhirnya aku di RS sendirian karena Mba Upi ada urusan. Pas jam 12.00 AM, suster pada dateng dan aku disuruh mengosongkan perut dengan jalan apapun, mulai dikasih pencahar sampai dialiri air lewat selang tapi keluarnya dikit juga. Setelah itu aku dipasangi infus dan mari tidur lagi.

Bangun jam 7 AM, ngga boleh sarapan, mama nelpon lagi di jalan buat nemenin selama aku operasi dan pemulihan. Jam 11 AM, Ci Wiek, Mba Upi, dan mamaku nyampe di kamar, terus bos aku nelpon suruh ngasisten hari itu di kampus (bosku gatau aku masuk RS). Aku pun minta izin ngga ngasisten hari itu karena masuk RS mau operasi. Akhirnya jam 1 siang susternya datang buat cek alergi, lalu kami berdoa dulu supaya operasi lancar, dan akupun digiring ke ruang operasi setelah ganti baju operasi. Masuk ruang operasi pun nunggu dulu karena jadwal operasi hari itu emang mulai siang. Di sebelah aku ada anak kecil jerit-jerit, ternyata mau sunat.

Masuk ruang operasi, ketemu dokter anestesi dan tim bedahnya, lalu disuruh duduk di kasur operasi. Dokter anestesi menyuntik bius di tulang belakang terus ngecek apakah kakiku udah mati rasa apa belum. Pas udah mati rasa baru deh dioperasi. Pas dioperasi ngga ada rasanya dan kayaknya nggak lama padahal anku ngga tidur. Kalau nggak salah setengah jam beres. Cepet juga ya.

Setelah keluar dari ruang operasi, sambil tiduran disuruh tunggu di ruang pemulihan dulu sekitar dua jam baru boleh ke kamar. Selain itu juga ditunjukkan potongan-potongan wasir tak berdosa yang dihilangkan oleh dokter bedah. Aku langsung ngeluh lapeeeer. Setelah dua jam baru balik ke kamar dan sakitnya baru berasa. Pas minta pereda sakit susternya malah marah padahal tadi sama dokternya udah boleh. Akhirnya boleh juga sih obat pereda sakitnya setelah suster luluh hatinya melihat ku menangis.

Menginap semalam di RS, besok paginya dokter visit lagi. Karena kondisiku katanya sudah oke oce, siang itu boleh pulang setelah infus habis, tapi seminggu jangan capek-capek dulu (yang siangnya langsung dilanggar dengan mengejar mamang taksi online buat pulang). Ya udah setelah infus habis, siap siap pulang dengan pake pembalut dulu karena darah yang bercucuran banyak banget di bagian bawah. Pas check-out sempet nanya harus nambah biaya berapa, ternyata ngga nambah biaya kecuali beli wadah buat potongan wasir yang ga sampe 20 ribu.

Seminggu kemudian kontrol lagi ke dokternya dan hasilnya sudah oke. Terima kasih untuk perawatan abis operasi dari mama aku yang mantan perawat. Karena pelayanan BPJS yang super oke oce inilah jadinya orangtua aku promosi gede-gedean ke tetangga san saudara untuk berobat dengan BPJS, bahkan orangtuaku pakai tiap bulan untuk kontrol warga senior (cek kolesterol dan gula darah). Namanya juga sudah merasakan sendiri kan yaa kalau pelayanannya oke, walaupun di beberapa daerah emang rese sih antriannya (lirik puskesmas deket kosan).

Tips and trick berobat dengan BPJS :

  1. Pilih faskes 1 sesuai hati nurani. Kalau emang aktifitas padat, cari yang buka sampai malam. Faskes nggak harus puskesmas kok. Kalau perlu faskesnya yang udah agak lengkap biar nggak ribet, terutama kalau butuh obat aneh aneh.
  2. Biasanya rujukan diberikan sesuai rayon, jadi usahakan faskes 1 menjangkau rumah sakit bagus incaran. Sebagai saran, dulu saya dan orangtua sampai riset agak lama menyangkut faskes tingkat 1 dan rumah sakit rujukan kalau amit-amit harus dirujuk.
  3. Sabar ya kalau harus mengantre. Selain itu sediakan fotokopi KTP, KK, dan kartu BPJS yang banyak.
  4. Jangan lupa bayar BPJS Kesehatan tiap bulan, nggak rugi kok. Kalau mau dapet diskon bisa juga bayar di Marketplace (contoh : tokp3d, buk4lap4k)
  5. Kalau mau operasi wasir, jangan lupa bawa pembalut minimal 28 cm atau popok dewasa. Habis operasi bakal banyak darah bercucuran.

Masih banyak cerita yang lain, tunggu ya!

Note : Tulisan ini tidak diendorse oleh BPJS Kesehatan. Murni atas pengalaman penulis.


RS Sariningsih

Jl RE Martadinata No 9 (simpang Jl Merdeka)

Bandung

Jam antrian pendaftaran rawat non emergency : 08.00-11.00

Lebih detail bisa cek http://www.rssariningsih.com/index.php

Review : Surau dan Silek (2017)

Awal mula kebagian jatah nonton film ini, langsung cari trailer dan sinopsisnya. Setelah nonton trailer dan sinopsis, langsung mikir, “Ini film bukan gw banget.” Maklum (maaf) I’m not a Moslem and I’m not a Minangnese. Selain itu, film-film dan sinetron-sinetron zaman sekarang menurut saya kebanyakan jualan ayat dan terlalu menggurui, sehingga kaum-kaum seperti saya kadang ga bisa mencerna isi film, malah kadang serasa dihakimi. Masalah mulai muncul saat film ini cuma ditayangkan di Miko Mall di Kopo, dan itu berarti ekstra perjuangan, dari utara ke selatan menerjang macet sampai pegal. Dengan latar belakang seperti itu, saya langsung pasang ekspektasi serendah mungkin, setidaknya kalau filmnya tak sesuai ekspektasi masih ada popcorn caramel CGV Blitz yang menghibur.

Sesuai judul, film ini membahas dua hal esensial pada masyarakat Minang, yaitu Surau (tempat ibadah) dan Silek (silat, atau kesenian). Film dibuka dengan tayangan adegan yang cukup kontras, yaitu pertandingan kejuaraan silat antar SD dan pensiunan dosen yang sedang membereskan rumahnya. Adegan antara anak SD tersebut (yang ternyata bernama Adil) dan pensiunan ini sering sekali berganti-ganti sepanjang sepertiga film, sehingga di awal saya menyangka film ini adalah flashback dari pensiunan dosen tersebut, dan ternyata bukan. Adegan saat Adil dan teman-temannya yaitu Kurip dan Dayat bertemu dengan si bapak pensiunan (yang ternyata bernama Pak Johar) menegaskan bahwa ini bukan film biografi. Baru di adegan ini saya nyambung sama ceritanya, yaitu pencarian guru silat terbaik.

Kaitan antara Surau dan Silek digambarkan dengan manis di film ini, tanpa kesan menggurui dan menghakimi yang saya takutkan sebelumnya. Bila disimpulkan, pesan utama pada film ini berfokus pada pembentukan karakter atau akhlak yang baik. Suatu pesan yang universal, namun dikemas dengan nuansa religi. Satu kalimat dari Pak Johar yang paling saya suka :

Lahir silek untuk menambah teman, batin silek untuk mendekatkan diri ke Tuhan.

Bukankah makna silek tersebut dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari?

Melalui film ini, saya salut kepada yang punya ide, karena film ini berhasil memotret sisi Islami dan Minang secara humanis. Kesan orang Minang yang agamis terlihat secara natural di film ini, mungkin karena didukung oleh mayoritas aktor lokal. Hal yang paling berkesan bagi saya adalah sudut pengambilan gambar dan kualitas kejernihan gambar. Serasa nonton film 3D! Pemandangan yang ditampilkan pun sangat indah, kalau tidak tahu bahwa setting film ini di tanah Minang, mungkin kita serasa di film ala Shaolin, bila memperhatikan latar belakang gunung dan Tembok-Besar-Cina wannabe (yang saya penasaran mau ke sana karena bagus banget). Sayang tidak banyak bioskop yang menayangkan film ini, seandainya banyak, siapa tahu film ini bisa menyusul kesuksesan Laskar Pelangi.

Terlepas beberapa adegan yang masih membingungkan (kalau dibahas nanti malah jadi spoiler), film ini layak tonton untuk semua usia, menurut saya. Kalau sempat, tontonlah film ini.

Note:

This post is featured as the blog post for #30thFFB program, held by @ffbcomm_

You can find any reviews, informations, and discussion about Indonesian film using that hashtag.

Review : Dear Nathan (The Movie, 2017)

Dear Nathan adalah salah satu film yang diangkat dari novel. Berkaca dari pengalaman nonton film yang diadaptasi atau berdasarkan sebuah buku, saya berusaha melupakan alur cerita di buku saat menonton film ini, karena kalau dibandingkan dengan buku suka kecewa.

Film ini diangkat dari karya wattpad @eriscafebriani dengan judul sama. Langsung aja ke ceritanya ya. Film ini berkisah tentang dua orang anak SMA, yaitu SALMA (Amanda Rawles) dan NATHAN (Jefri Nichol). Salma adalah murid pindahan dari Bandung yang bersekolah di SMA Garuda. Awal mula cerita dibuka dengan penggambaran bahwa Salma hidupnya lurus-lurus aja dan sesuai dengan pelajaran PPKn. Sayangnya, di hari pertama sekolah, Salma terlambat tiba di sekolah sehingga terancam tidak bisa belajar di sekolah karena pagar sudah terkunci. Untunglah ada seorang siswa yang mau menolong supaya Salma bisa menyelinap masuk sekolah. Belakangan Salma tahu bahwa siswa penolong itu bernama Nathan, murid paling berandal seantero sekolah yang agak emosian, sehingga sering berantem. Sebagai murid baik-baik, tentu Salma berusaha menjauhi orang macam Nathan. Namun, masalah datang ketika Nathan dengan terang-terangan mengejar cinta Salma dan membuat heboh satu sekolah. Berbagai cara digunakan Salma untuk menghindar, tapi sepertinya kesempatan-kesempatan tak terduga justru mengantarnya semakin dekat dengan Nathan. Saat Salma semakin dekat dengan Nathan, ternyata Salma baru tahu kalau ada yang melatarbelakangi kenapa Nathan bisa jadi berandalan, sehingga Salma pun bersimpati dan perlahan jatuh cinta. Saat cinta Salma tumbuh, dia ingin merubah Nathan menjadi Nathan yang baru. Tapi gak mudah ternyata cerita cinta Salma dan Nathan. Akankah mereka bertahan? Akankan masalah yang dihadapi Nathan bisa diatasi? Akankan Nathan tobat? Kalau penasaran, nonton aja filmnya ~

Pas nonton film ini, saya seakan terbawa ke masa lalu. Pertama, setting lokasi SMA Garuda tuh mirip banget sama SMP saya, mulai dari posisi gerbang, posisi kantin, sampai papan peribahasa! Selain itu, peraturan SMA-nya mirip sama SMA saya, kalau telat masuk ya dikunciin di luar, dan ada pemeriksaan seragam sebelum masuk ke area sekolah. Detail pendukung film juga digambarkan dengan wajar, seakan mengenang masa SMA.

Alur cerita film ini tergolong ringan, natural, masuk akal, dan gak dibuat-buat kayak sinetron. Masalah yang diangkat pun khas masalah remaja, mulai dari masalah percintaan sampai masalah keluarga. Mungkin karena saya sering menemukan masalah yang dihadapi Nathan dan Salma, ya, makanya saya bilang nggak lebay. Joke yang digunakan pun mudah dipahami oleh remaja saat ini, namun, pada beberapa scene, gombalnya terlalu berlebihan. Adegan skinship antara Salma-Nathan pun masih dalam batas wajar remaja Indonesia, palingan juga pegangan tangan sama pelukan kalau naik motor. Penempatan soundtrack menurut saya juga sudah tepat sehingga saya bisa menikmati filmnya tanpa keberisikan. Sebagian besar soundtrack karya Hivi pun enak didengarkan, bahkan sampai sekarang ada di playlist Spotify saya. Sayangnya terdapat masalah pada beberapa detail, namun kalau nggak terlalu dipikirkan sih nggak terlalu mengganggu cerita juga. Sama, saran aku, pas adegan toko buku, mestinya yang disorot tuh bukunya eriscafebriani, kan itung-itung ngiklan gratis :p

Bila dibandingkan dengan karya wattpad dan novel berjudul sama, terdapat sedikit perbedaan alur cerita, sehingga bisa dianggap bahwa film ini diangkat dari sebuah karya tulis. Saran saya, anggaplah karya tulis tersebut dan film ini sebagai dua karya berbeda, sehingga nggak merusak ekspektasi.

Some quotes :

Kalau aku terlalu taat aturan, ntar nggak ada waktu mikirin kamu, dong? –Nathan kepada Salma

Aku masih bisa nunggu, tapi inget, nunggu itu ada batas kadaluarsanya –Nathan

*seketika inget si ex-partner-in-crime**dikeplak*

Note:

This post is featured as the blog post for #30thFFB program, held by @ffbcomm_

You can find any reviews, informations, and discussion about Indonesian film using that hashtag.

Review : Tips of being a non-Moslem women in Nanggroe Aceh Darussalam

Ceritanya awal tahun lalu saya ada survei di Banda Aceh. Buat orang Indonesia, ke Aceh artinya harus berpakaian dan berlaku sopan mengikuti hukum syariat Islam. Nah, kalau laki-laki sih gampang, kalau perempuan gimana?

Sempet googling masalah ini juga, soalnya bingung juga kan pakai baju gimana disana, takutnya salah dan ujung-ujungnya ditangkap polisi syariah. Menurut gossip yang beredar juga katanya perempuan ga boleh pake celana panjang dll dan ga boleh memperlihatkan lekuk badan. Tambah bingung deh. Hasil dari googling bermacam-macam, yang satu bilang harus pake kerudung dan ga boleh pakai celana, yang satu bilang santai aja, boleh pakai celana. Tambah bingung dah.

Akhirnya saya tanya ke teman saya yang asal Aceh tapi dia Muslim, mengenai syarat berpakaian untuk wanita non muslim. Dia bilang sih yang penting sopan, boleh celana panjang, pake syal buat tutup kepala, dan bawa KTP ke mana mana in case kena razia polisi syariah karena pake syal. Jika dilihat KTP-nya nonmuslim sih santai aja. Karena orang Aceh-nya yang ngomong, yaudah saya percaya aja.

Hari berangkat ke Aceh pun tiba. Saya udah ready pake pashmina buat penutup leher, biar pas di bandara Aceh tinggal pake aja. Kali ini pesawat transit di Kualanamu, akhirnya sebagai orang Karo KW 99 nyobain juga bandaranya. Ternyata saya over ekspektasi tentang bandara ini, tapi desainnya oke juga, menyesuaikan kebiasaan masyarakat yang biasanya banyakan yang nganter daripada yang berangkat, jadinya penumpang pas masuk ke ruang tunggu benar benar tinggal boarding aja. Pas di ruang tunggu, makin minder karena penumpang berhijab semua, serasa salah kostum sendiri. Maka diputuskan pas nyampe di Aceh, langsung pake pashmina. Sampai di Aceh, ternyata ada beberapa flight yang sampe barengan, dan saya melihat kenyataan bahwa

GA SEMUANYA BERHIJAB. BAHKAN ADA IBU-IBU PAKE T-SHIRT LENGAN PENDEK SAMA CELANA PENDEK.

Tapi selama di Aceh saya pake syal penutup kepala kok, walaupun turun-turun juga syalnya, namun ga dipermasalahkan oleh orang sana. Demikian. Hal ini saya lakukan selama kerja dan jalan-jalan di Aceh. Pas udah mau balik Bandung, di bandara saya lepas syal lagi, dan orang-orangnya santai aja.

Kata driver yang jemput kami di bandara Aceh, memang di bagian kota seperti Banda Aceh masalah berpakaian lebih longgar, karena boleh pakai celana panjang, namun kalau di daerah pedesaan yang cukup konservatif, ngga boleh pakai celana panjang, bolehnya model gamis atau rok panjang. Bahkan beliau cerita, dulu kalau perempuan bonceng motor engga boleh duduk ngangkang, harus menyamping, namun sekarang diperlunak karena pernah ada kejadian cewek kebelit bajunya atau kerudungnya gitu di roda motor. Belum lagi kejadian jatuh karena duduk menyamping. Bayanginnya aja udah serem L

Setelah masalah berpakaian, sekarang masalah jalan-jalan. Kalau di sini dan harus jalan sama cowok yang bukan saudara, ayah, atau suami, tidak boleh berduaan. Lebih baik jalan sendiri-sendiri atau cari teman untuk menemani, soalnya di sini ga boleh berduaan kalau bukan mahramnya. Kalau ketauan berduaan sama polisi syariah, gosipnya langsung dinikahkan. Kemarin pas jalan jalan saya udah antisipasi, jadinya diusahakan kalau keluar pasti bertiga.

Walaupun kesannya ribet, orang Aceh paling semangat kalau menerima tamu. Mereka berusaha membuat tamu betah, bahkan ini pertama kalinya survei tanpa biaya konsumsi dan snack, mana snack-nya jus dan free flow kopi Aceh ~

Hope it helps, and don’t worry to visit Aceh!