officially 25.

Maaf lama ga posting, ternyata jadi mahasiswa banyak tugasnya, walaupun tahun ini jarang dinas luar. Semoga tahun depan bisa jalan-jalan berbayar lagi hehehe.

Akhirnya yang nulis blog ini tambah tua lagi. Tahun ini umur 25 tapi kelakuan masih aja kayak bocah. Dulu pas kecil, mikirnya kalau udah umur 25 mestinya udah punya anak dan kerjaan, tapi kenyataannya sementara ini masih single dan masih jadi mahasiswa (tapi mahasiswa pascasarjana)

Untuk tahun depan, doa saya nggak muluk-muluk. Tesis lancar, gelar master di tangan sebelum abang saya dapat gelar masternya, dan punya kartu pegawai sendiri alias dapat pekerjaan tetap. Sekalian semoga usaha bapak mama abang lancar, keluarga sehat-sehat, dan rukun-rukun selalu.

Gak aneh-aneh amat, kan?

Review : Mengurus Mutasi Kendaraan Bermotor

Disclaimer : Cerita ini terjadi bulan Januari 2016. Perubahan harga dan prosedur berlaku, menyesuaikan dengan lokasi pembaca. Info lebih detail silakan tanya Samsat terdekat.

Sebagai warga negara yang sedikit baik, si bapak mengamanahkan agar motor bekas yang umurnya lebih dari 20 tahun itu supaya diurus STNK-nya. Harga motornya sih gak seberapa, tapi kalau ditangkap polisi itu lumayan bikin malu.

Kenapa perpanjang STNK urusannya jadi balik nama? Jadi, ceritanya, kalau mau perpanjang STNK itu butuh KTP asli dari orang yang namanya tercantum di STNK. Nah, masalahnya, kan si bapak beli motor bekas dari pihak kedua, dan pihak pertama pemilik motor sebelumnya cuma ninggalin fotokopi KTP doang. Makanya si pak polisinya nyuruh balik nama aja sekalian.

Nah, prosedur balik nama yang akan saya tuliskan merupakan balik nama di kawasan Polda Metro Jaya, tepatnya Jakarta Timur vs Tangerang Selatan

HARI 1.
Langkah pertama adalah ke Samsat asal dari kendaraan bermotor, dalam cerita ini merupakan Samsat Jakarta Timur. Tempatnya bisa di-googling aja, pokoknya patokannya tuh halte busway Kebon Nanas. Ada papannya yang lumayan gede juga kok. Dari halte busway kira-kira lima menit jalan kaki kalau jalannya lama banget.

Pas sampai di samsat, langsung masuk di area cek fisik buat gosok nomor rangka dan mesin. Karena kondisinya motor si bapak ga bisa dibawa ke samsat karena jauh banget, maka saya pake lembar cek fisik bantuan (yang sampai sekarang saya ga tau gimana cara dapatnya). Setelah cek fisik, langsung ke fotokopian terdekat, fotokopi KTP, STNK, BPKB. Petugas fotokopinya udah tau kok, kalau bingung bilang aja mau fotokopi buat balik nama.

Setelah urusan fotokopi, lanjut ngantri buat legalisir di loket 2. Di sini kasih fotokopi KTP, STNK, BPKB, dan lembar cek fisik buat dilegalisir. Nah nanti petugasnya nanya tujuan legalisir bukti cek fisik, bilang aja balik nama dan sebutkan tujuannya sesuai domisili KTP kita. Di sini bayar Rp 40.000,- lalu tunggu dipanggil untuk dapat hasil legalisir. Nah nanti nama yang dipanggil tuh nama yang di STNK ya,bukan nama kita. Hahaha.

Setelah dapat hasil legalisir, baru masuk ke gedung samsat yang depan untuk ke loket mutasi. Nah gedung samsatnya agak tricky dalam perhitungan lantai, kalau di floor directionsnya bilangnya lantai dasar – 1 – 2 – 3 tapi petugasnya taunya lantai 1 – 2 – 3 – 4, biar gak bingung saya bilangnya lantai 1 -2 – 3 – 4 ya.

Untuk urus balik nama, kita diarahkan ke loket 5 di lantai 2, posisinya paling ujung dekat tangga. Petugasnya bakal minta paket legalisir cek fisik dan mengecek kelengkapan berkas serta menyerahkan formulir yang harus diisi. Karena ceritanya motor bekas itu belum dibayar pajaknya selama tiga tahun enam bulan, maka saya harus bayar pajaknya dulu. Sialnya saya mengurusnya di awal Januari, saat Sunset Policy berakhir, makanya diketawain petugasnya :)) Karena belum bayar pajaknya lebih dari setahun, maka saya harus ke loket khusus di lantai 3 buat penerbitan surat tagihan pajaknya. Di loket ini saya menyerahkan paket legalisir cek fisik tadi untuk diterbitkan surat tagihan pajaknya. Tunggu sebentar, lalu datanglah surat tagihan pajaknya. Kalau kasusnya kayak saya yang lebih sekian bulan, nanti tagihan pajak pada sesi ini dibulatkan setahun ke bawah, dan sisanya baru dibayar di sesi berikutnya, jadi jangan seneng dulu kalau tagihannya kurang. Kemudian gunakan tangga terdekat dari loket tadi untuk naik ke lantai 4 untuk bayar tunggakan pajak. Di lantai 4, langsung serahkan surat tagihan pajak ke loket Jasa Raharja untuk penerbitan lembar tagihan asuransi. Setelah lembar tagihan asuransinya diterbitkan, langsung serahkan surat tagihan pajak + tagihan asuransinya di loket Bank DKI. Tunggu sebentar hingga nama yang di STNK dipanggil. Kemudian kita lunasi pembayaran pajak dan ambil tanda terimanya. Setelah dapat tanda terima bayar bajak, kemudian kumpulkan paket legalisir cek fisik, tanda terima bayar pajak, kwitansi pembelian kendaraan bermotor yang bermeterai Rp 6000,- dan tanggalnya maksimum seminggu dari aplikasi, serta formulir yang sudah diisi ke loket 5 di lantai 2. Kalau misalnya kwitansinya bermasalah, kayak saya yang tanggalnya setahun sebelum aplikasi, bisa diganti kok, kata petugasnya tanggalnya seminggu sebelum aplikasi biar harga jual kendaraan nggak turun. Selain menyerahkan dokumen yang dibutuhkan, di loket ini bayar Rp 150.000,-
Petugas akan memberikan tanda terima yang menyatakan waktu permohonan balik nama kita selesai diproses. Standarnya sih maksimum 16 jam kerja dari pengajuan aplikasi, dengan 1 hari kerja itu 8 jam, maka maksimum 2 hari lah dari pengajuan aplikasi. Nah, kata bapaknya maksimum ngambilnya 3 hari kerja setelah tanggal yang ditulis.

Total pengeluaran hari 1 :
Legalisir cek fisik : Rp 40.000,-
Fotokopi : Rp 6.000,-
Bayar biaya mutasi : Rp 150.000,-
Total : Rp 196.000,- (belom termasuk bayar pajak dan transport)

Saran : Sebaiknya dalam kondisi sehat, karena capek juga jalan dari tempat cek fisik ke lantai 2 – 3 – 4 – 2. Mana tangganya curam, lagi. Saya malah saking kecapekannya malah nyasar beberapa kali 😦

HARI 2.
Pagi-pagi ke Samsat Jakarta Timur, langsung ke loket 5 di lantai 2 untuk menyerahkan tanda terima aplikasi balik nama. Kemudian petugas akan mengarahkan kita ke loket fiskal. Dari loket fiskal, kita diberi surat tagihan buat bayar kekurangan pajak yang belum dibayar. Kemudian balik lagi ke loket Jasa Raharja untuk penerbitan tagihan asuransi (formalitas aja kok, isinya kalau nggak salah sih cuma bayar fee 3000 rupiah), lalu menyerahkan surat tagihan + tagihan asuransi buat bayar kekurangan pajak. Setelah mendapat bukti pelunasan, kembali ke loket 5 di lantai 2, ambil berkasnya, tanda tangan di buku tamu dan dadah dadah sama petugasnya  lanjut ke loket fiskal. Di loket fiskal, serahkan berkas dari loket 5 untuk diterbitkan surat fiskal. Di bagian ini, akhirnya nama yang dipanggil adalah nama kita. Setelah dapat surat fiskal, langsung ke bagian arsip di lantai 1 belakang (ada tulisannya) untuk ambil arsip surat kendaraan.

Karena selesai jam 11 pagi, langsung jalan ke Samsat Tangerang Selatan. Untuk Samsat Tangerang Selatan, ada dua pilihan, yang di Ciputat (Jalan RE Martadinata, dekat komplek polisi) atau di Serpong (sebelah Disdukcapil Tangerang Selatan, dekat Sinarmas World Academy). Saya pilihnya yang Ciputat, soalnya gampangan ke situ dan berdasarkan pengalaman bapak saya, antriannya JAUH LEBIH PENDEK dari di Serpong. Dan ternyata beneran sih. (ga dibayar sama petugasnya)

Di Samsat Ciputat, langkah pertama adalah legalisir cek fisik lagi (tapi gak bayar sih). Kemudian, setelah nanya sama petugasnya, saya diarahkan untuk fotokopi berkas di fotokopian belakang, bilang aja buat balik nama, nanti petugasnya akan meminta berkas yang dibutuhkan untuk difotokopi. Setelah fotokopi selesai, langsung ke lantai 1 buat ambil map dan formulir. Isi formulir sebisanya (yang diisi yang ada keterangannya di KTP kita, nomor telepon kita, dan yang ada di STNK aja, kalau ga ada keterangannya nggak usah) kemudian masukkan berkas + formulir + BPKB lama ke dalam map yang disediakan. Map tersebut kemudian diserahkan ke loket 2.2 di lantai 2. Sambil menyerahkan map, tunjukkan KTP kita, tunggu sebentar dan kita akan menerima bukti pengambilan STNK dan BPKB. Kemarin sih nunggu 10 menitan lah. Kalau berdasarkan pengumuman, di Samsat Ciputat waktu proses aplikasi maksimum 8 jam, dan di Samsat Serpong maksimum 16 jam. Jadi bapak saya gak bohong kalau dibilang lebih cepet ngurus di Ciputat. Kata petugasnya, acara bayar STNK-nya nanti aja pas pengambilan STNK, dan estimasi biaya STNK bisa ditanyakan di loket RC di sebelah loket 2.1, supaya tahu kalau balik lagi bawa uang berapa :)) Ngambil STNK-nya juga terserah asal nggak lupa aja.

Total pengeluaran hari 2 :
Legalisir cek fisik : Rp 0,-
Fotokopi : Rp 6.000,-
Total : Rp 6.000,- (belom termasuk bayar pajak dan transport)

HARI 3.
Setelah dapet cuti dari pak bos, akhirnya bisa balik buat ngambil STNK 😀 Dengan membawa uang cash secukupnya, tanda terima, dan BPKB, saya balik lagi ke Samsat Ciputat. Langsung masuk, serahkan tanda terima ke loket 2.2, dan tunggu dipanggil sama kasir. Beda, ya, sama di Samsat sebelumnya, jadi di sini elderly friendly dan gak bikin pegel. Hahaha. Cuma nunggu dipanggil kasirnya agak lamaan, karena nunggu kuota jumlah orang yang mengurus balik nama dipenuhi dulu baru diproses. Di sini baru bayar pajaknya, langsung diserahkan bukti tanda terima, dan tinggal tunggu STNK diserahkan. Saat ambil STNK, nanti petugasnya menjelaskan untuk ambil plat kendaraan baru dan pengurusan BPKB. Katanya sih pengurusan BPKB bisa kolektif, biayanya 230ribu, waktunya antara 2-3 minggu. Terus ditakut-takutin kalau ngurus langsung biayanya 210 ribu. Tapi karena saya anaknya rada mager ke Ciputat, mending ngurus sendiri aja.

Setelah dapat STNK, langkah pertama adalah ambil plat di lantai 1. Kumpulkan lembar STNK yang warna kuning, lalu tunggu dipanggil. Setelah dapat plat, langsung ke bagian arsip di sebelah tempat ambil plat, bilang mau pinjam berkas buat fotokopi untuk keperluan urus BPKB ke Komdak. Tunjukkan lembar STNK yang biru, kemudian petugas akan menyerahkan berkas yang diperlukan. Balik lagi ke fotokopian, fotokopi berkas yang dipinjamkan bagian arsip + STNK, kemudian kembalikan berkas yang dipinjam ke bagian arsip.

Langkah selanjutnya adalah urus BPKB ke Komdak alias Polda Metro Jaya. Nah, pintu masuk Kondak ada dua, kalau pake kendaraan pribadi, ojek, atau taksi, masuknya dari pintu Jalan Gatot Subroto (yang gapuranya gede). Kalau pake transjakarta kayak saya, bisa juga turun di halte Polda, terus masuk dari pintu pejalan kaki yang nyelip di samping jembatan penyeberangan. Jalannya rada jauh, tapi lebih mendingan daripada Jembatan Penyeberangan Semanggi. Nah di sini langsung ke gedung Ditlantas (yang warna biru). Sebelum masuk, kita antri untuk cek kelengkapan berkas seperti set fotokopian berkas + BPKB + KTP. Kalau berkas dirasa lengkap oleh petugas, nanti akan diberi struk nomor antrian. Langkah selanjutnya adalah antri formulir di sebelah kiri bagian informasi. Karena itungannya mutasi, maka saya diberikan formulir tulis tangan. Setelah dapat formulir, langsung bayar biaya BPKB di BRI yang terletak di ujung gedung. Biaya urus BPKB dalam rangka mutasi adalah … Rp 80.000,- untuk kendaraan roda dua dan Rp 100.000,- untuk kendaraan roda empat. Untung ngurus sendiri. Hahaha. Sambil menunggu antrian dipanggil, bisa digunakan untuk isi formulir. Ketika antrian dipanggil, langsung serahkan berkas + bukti bayar, lalu petugas akan memberikan tanda terima yang menyatakan BPKB selesai 1 minggu kalender dari tanggal pengajuan aplikasi. Berarti gw dikerjain orang Samsat ._. Tapi ngambilnya boleh telat, yang penting inget. Hahaha. Pas ngambil BPKB nanti, yang dibawa adalah fotokopi STNK dan fotokopi KTP yang ngambil. Sampai sekarang (waktu penulisan post ini) BPKB-nya belom diambil. Jadi aja belom.

Total pengeluaran hari 3 :
Fotokopi : Rp 2.000,-
Biaya urus BPKB : Rp 80.000,-
Total : Rp 82.000,- (belom termasuk bayar pajak dan transport)

Nanti pas ambil BPKB akan saya ceritakan lagi ~

Jadi, setelah dihitung-hitung, total biaya urus mutasi balik nama adalah
Rp 196.000,- + Rp 6.000,- + Rp 82.000,- = Rp 284.000,- belom termasuk pajak dan transport.
Bila ditotal, biaya beli motornnya si bapak + biaya urus mutasi + tunggakan pajak dll MASIH LEBIH MURAH dari harga pasaran motornya. Si bapak hepi, sekeluarga hepi karena ga rugi. HAHAHA

Di save dulu lah, kali aja disuruh ngurus mutasi lagi.

Hope it helps!

 

 

366 to first quarter

As my age increase, I realize that age is just a number.
And, each year, my hope for the next year, become more realistic than before.
Like a lamp guide a path, the lamp doesn’t show the far object, but the near object, maybe that’s life.

As long as everything is under control, it is OK. When it doesn’t work as planned, just switch to next plan.

Finally, I hope, when I end the first quarter next year, I will have something to be proud of, and, at least, make my parents and big bro happy.

As simple as that.

Pengalaman Daftar S2 di ITB

Ceritanya, yang punya blog ini udah ganti status.
Bukan status single jadi in a relationship (eh tapi kalau yang ini semoga sesegera mungkin), tetapi dari freelance researcher jadi grad student. Minimal ada status kerjaan yang jelas dulu deh setahun ke depan.

Berdasarkan timeline hidup saya sebelum 25 tahun, memang sudah direncanakan kalau tahun 2015 atau 2016 saya akan melanjutkan studi, dan atas anugerah Tuhan emang dapetnya di kampus gajah (lagi). Bukannya anaknya susah move on, tapi memang dikasihnya disini.

Sebenarnya saya sudah daftar di sps itb acid dari saat pendaftaran November 2014 dan Maret 2015, namun karena waktu itu dana belum tercukupi dan masih dalam proses seleksi di suatu perusahaan, makanya saya gak lanjutin. Baru pas April 2015 hati ini mantap untuk lanjutkan studi. Untuk urusan biaya, saya percaya, kalau Tuhan yang nyuruh buat kuliah pasti dananya cukup kok.

Syarat-syarat buat daftar S2 ITB cukup mudah kok dicarinya (dikutip dari sps itb acid), tapi yang saya bahas cuma buat yang Teknik Geofisika yaa

  1. Memenuhi nilai minimum TOEFL ITP 475 atau ELPT 77 dan TPA Bappenas >= 475
  2. Isi formulir online. Isiannya gak susah kok, cuma data diri, alamat, dulu s1nya dimana, dan pernah kerja dimana. Karena saya masih freelance, maka bagian pekerjaan saya kosongkan.
  3. Bukti biaya pendaftaran sebesar Rp. 400.000,- yang dikirim melalui BNI Perguruan Tinggi Bandung, Rekening Penampungan BPP S2/S3 (SPS) No. 0900001035, Jln. Tamansari No. 80 Bandung. Bayarnya bisa di BNI mana saja.
  4. Pernyataan tidak pernah drop out atau mengundurkan diri dari ITB (di atas materai Rp. 6.000,-). Format ada di formulir tambahan magister
  5. Salinan ijazah S1 yang telah dilegalisasi
  6. Transkrip Akademik yang telah dilegalisasi
  7. Foto berwarna 4cm x 6cm sebanyak 3 lembar, klise terbaru
  8. Surat Rekomendasi dari 2 orang (dosen atau atasan). Untuk surat rekomendasi, saya minta dari pakbos saya dan dosen pembimbing 1 saya dahulu. Dosen pembimbing 1 saya malah sempat bercanda pas saya minta surat rekomendasi, katanya khusus saya mungkin surat rekomendasinya satu saja. Nanti saja jelaskan mengapa.
  9. Formulir Tambahan Magister. Di formulir tambahan ini ada lembar yang harus diisi, yaitu daftar prestasi, kegiatan, dan publikasi; serta esai mengapa kita mau mengambil kuliah S2 di ITB.
    Untuk lembar daftar prestasi, kalau memang gak ada boleh dikosongkan, tapi jangan lupa kumpulkan lembar kosongnya pas pengembalian berkas.
    Untuk lembar esai, sejujurnya waktu itu saya bingung mau nulis apa. Akhirnya saya cerita kalau saya mau ngambil kuliah s2 lagi karena emang dari kecil mau jadi geopipis dan pas saya riset, ternyata saya butuh belajar lagi. Selain itu, saya juga menulis kalau nanti sudah lulus bercita-cita jadi geopipis spesialis geoteknik, biar bisa membantu pemerintah bikin bangunan yang bagus.
    Saran saya, untuk formulir tambahan ini, isilah sejujur-jujurnya. Pewawancara suka sekali membahas bagian ini, dan terkadang cukup menentukan lhoo.
  10. Sertifikat Nilai Asli Bahasa Inggris (Score Report) . Saya pakai hasil dari ELPT ITB – daftar di UPT Bahasa ITB, di Labtek 8, harganya cuma Rp. 75.000,- tapi saran saya daftarnya jauh-jauh hari biar ga deg-degan, apalagi kalau mepet waktu pendaftaran. Waktu itu saya daftar awal Maret, dapet tanggal tesnya pas 17 April pas ulang tahun si partner-in-crime Hasilnya lumayan lah, ternyata postcrossing lumayan membantu meningkatkan skill bahasa Inggris saya hahaha
  11. Sertifikat asli Tes Potensi Akademik (TPA).
    atau
    Bagi calon mahasiswa Pascasarjana ITB yang berminat mengikuti TPA membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 325.000,- yang dikirim melalui BNI Cabang ITB, Rekening Penampungan S2/S3 (SPS-ITB) No. 0900001035 Jln. Tamansari No. 80 Bandung (selanjutnya bukti pembayaran dilampirkan dalam berkas lamaran). Karena saya gak sempat urus-urus TPA, jadinya saya ikut tes kolektif di ITB. Ternyata pas saya tes itu diadakan pas bulan puasa, di 10 hari pertama, dan di lantai 4 GKU Timur yang tinggi banget itu jam 7 pagi. Saya sih nggak puasa, tapi masalahnya nyari sarapan dimana ._. Hari sebelumnya lupa nyediain sarapan jadi pagi-pagi ga sempet sarapan. Untung ada biskuit digestive yang bisa dicemil di kamar mandi dan dengan pura-pura batuk saat tes. Hahaha.
    Untuk TPA, saran saya yang penting happy karena benar-benar dikerjakan di bawah tekanan. Gunakan 5 menit pertama buat scanning soal, karena terkadang soal yang gampang itu ada di bagian tengah atau belakang terus soal di nomor-nomor awalnya susah :))
  12. Surat keterangan sehat dari Dokter. Yang ini saya bikinnya di Bumi Medika Ganesha, di Gelap Nyawang. Syaratnya cuma bawa foto 4 x 6 berwarna dan bayar Rp 25.000,-. Pas tes kesehatan ini, saya sempat deg-degan karena saya baru sebulan ikut MCU dan tidak lolos, jadi saya parno takut sakit apa-gitu-yang-parah. Dan ternyata saya sehat-sehat saja.
  13. Berkas lamaran beserta lampiran-lampirannya dimasukkan dimasukkan kedalam 2 map (1 dokumen asli + 1  copy) dan selanjutnya disampaikan sendiri atau melalui pos ke Sekolah Pascasarjana – ITB. Untuk cerita berkas lamaran ini, saya melakukan kesalahan yang cukup fatal, yaitu LUPA MENEMPELKAN FOTO DI FORMULIR dan baru nyadar setelah mengumpulkan berkas :))
    Selain itu, untuk yang suka mengarsipkan dokumen, sebaiknya bikin copy berkas dua kali, karena yang asli untuk SPS, dan yang 1 copy untuk prodi yang kita tuju.

Selain pengumpulan berkas, untuk yang bakal mendaftar di Teknik Geofisika ITB, akan ada tes tertulis dan tes wawancara dalam satu hari. Untuk detailnya biasanya diumumkan H-2 atau H-1 sebelum hari tes via sms oleh Mbak Ibu Lilik. Sebenarnya di sps itb acid sudah ada, hanya saja jadwalnya suka berubah, yang mestinya sehari jadi dua hari, dan sebaliknya.

Untuk soal tes tertulisnya benar-benar tentang kemampuan geofisika. Ada 5 soal esai, dan yang harus dijawab itu cukup 4 saja dalam waktu 60 menit. Soal esainya sih lima, tapi di tiap soal ada subpoinnya. Jadi total pertanyaannya lebih dari 5.
Kisi kisinya :
– Pengetahuan dasar tentang seismik (tentang gelombang dan pengolahan data seismik)
– Pengetahuan dasar tentang geolistrik (biasanya yang keluar tentang VES)
– Pengetahuan dasar tentang gayaberat (biasanya seputar koreksi atau membuat contoh respons)
– Pengetahuan dasar tentang magnetik (biasanya seputar koreksi atau membuat contoh respons)
– Kalkulus dasar seputar vektor, integral, divergen
– Pengetahuan dasar tentang ilmu geofisika itu sendiri
Tiap gelombang soalnya gak pernah sama. Saran saya, belajarlah dari seminggu sebelum jadwal tes yang dipost di sps itb acid. Bahannya cukup banyak soalnya. Yang lulusan s1 Teknik Geofisika ITB aja belom tentu bisa jawab :))

Setelah pusing ngerjain tes tertulis, waktunya tes wawancara, biasanya setelah jam makan siang. Tim pewawancaranya biasanya antara 2 – 4 orang (pengalaman saya dan teman-teman saya) dan pasti ada kepala program studi s2/s3 teknik geofiska dan/atau mantan kepala program studi s2/s3 teknik geofisika.
Pertanyaan tes wawancaranya gak susah-susah amat kok, hanya seputar :
– dulu waktu s1 belajar apa
– kalau sudah bekerja, pekerjaannya tentang apa
– mengapa kuliah lagi
– sumber dana dari mana
– nanti mau mengambil jalur geofisika perminyakan atau terapan
– motivation letter dan lembar prestasi yang dikumpulkan (makanya di bagian ini harus jujur)
– topik skripsi waktu s1 dan jelaskan
– nanti mau tesis tentang apa
– pembahasan materi tes tertulis tadi pagi
– dan pertanyaan-pertanyaan kejutan yang tidak seru kalau dibahas disini

Pada saat saya wawancara, kebetulan yang mewawancara adalah semua dosen pembimbing tugas akhir saya (ada dua) dan satu mantan kaprodi. Karena motivasi saya untuk kuliah sudah diketahui dari saat saya menyusun tugas akhir, maka yang mewawancara saya hanya satu orang, yaitu bapak mantan kaprodi. Kebetulan si bapak mantan kaprodi ini adalah profesor bidang seismik dan jawaban saya di bidang seismik pada tes tadi pagi yang banyak salahnya, dan dulu saya diajarkuliah seismik oleh beliau :)) Aku kan maluuuuu. Setelah itu, bapak dosen pembimbing 2 saya menanyakan pertanyaan yang cukup ambigu, yaitu tentang apakah saya sudah move on dan apakah ada rencana menikah saat kuliah terus kenapa dibahas pas wawancara pak kan saya jadi gak fokus. Kayaknya gara-gara saya sering curhat di lab dan kedengaran oleh beliau nih. Pada akhirnya, bapak dosen pembimbing satu saya hanya ngakak-ngakak di ruang wawancara :))

Khusus untuk lulusan s1 teknik geofisika itb yang mau melanjut s2 itb lewat jalur normal (bukan fast track), ternyata belom tentu diluluskan dengan mulus. Untuk kasus ini, yang lebih mempengaruhi adalah track record di S1 dan kegigihan selama mengikuti tes. Beberapa kakak kelas saya ada yang mengulang sampai 3 atau 4 kali baru lulus lho. Namun untuk pertanyaan wawancaranya, jika lulusan s1 teknik geofisika itb ada bedanya sedikit, tergantung dosennya. Kalau teman saya yang wawancara bareng malah disuruh presentasi ulang tugas akhir-nya tanpa pertanyaan lain karena salah satu tim pewawancaranya adalah penguji saat sudangnya, dan kayaknya nggak puas hahaha.

Selesai dari tahapan yang amat melelahkan itu, tinggal menunggu hasil dari seleksi yang diupload oleh sps itb acid sekitar 2-3 minggu dari tanggal tes wawancara.
Puji Tuhan, saya lulus. Yaudah deh gak freelance lagi.

Hope it helps!

Review : Dendeng Batokok Dago, Masakan Padang Tanpa Santan!

Sebenarnya sudah sering lewat dan makan di sini, udah upload di Instagram juga, tapi baru sempat tulis reviewnya sekarang.

Karena signagenya yang lumayan catchy, dan karena teman-teman di grup angkatan -yang pada suka membahas masakan Padang- membahas dendeng batokok, saya jadi kepengen. Nah, kebetulan, si restoran Dendeng Batokok ini ada di dekat kosan saya, kalau jalan kaki masih nyampe lah, masih jauhan Kantor Pos Dago Atas.

Pas masuk ke arena makan, langsung serem, karena takutnya mahal. Interiornya seperti kafe! Di bagian depan, ada display sampel makanan, tapi di dalam kaca. Pesanan kita baru akan dimasak setelah dipesan.  Tanpa ragu-ragu, langsung pesan Dendeng Batokok. Pesanan cukup cepat lah sampainya, standar resto padang.

Pesannya sih cuma nasi sama dendeng batokok, tapi yang tiba itu nasi-dendeng batokok-kuah sop iga-lalap sayur berupa timun, selada, dan labu siam rebus-serta sambal. Dengan kata lain, bisa dibilang sebagai bakbik-panggang-karo versi sehat dan halal. Syedap.

Kembali ke dendeng batokok. Setelah dimakan, sepertinya daging dendengnya dibakar, karena ada sensasi somkey-nya. Dagingnya empuk dan sambal hijaunya tidak terlalu pedas. Rasa dagingnya juga seperti BPK! Senaaaaang!

Karena senang, jadilah kunjungan berulang kesini, bersama partner-in-crime. Dia doyan juga soalnya. Yasudahlah. Jarang-jarang ini selera makannya setipe. *eh kok jadi curhat ya*

Selain dendeng batokok, ada menu lain seperti nasi goreng, ayam bakar, dan lain-lain. Yang pasti minus santan. Untuk yang lagi clean eating sepertinya juga bisa makan disini 🙂

Ke sini lagi? Nanti ya setelah Lebaran.

===

DENDENG BATOKOK DAGO

Jalan Ir H Juanda (sebelah Borma Supermarket)

Jam buka : 11.00 – 24.00 (pernah malam mingguan disini sampai dikode sama pelayannya)

Harga : di bawah Rp 50.000,- per menu

Review : Sari Sari Aneka Jajanan Pasar, Bandung

Semua berawal ketika negara api menyerang saya jalan kaki ke rumah bos saya, terus di jalan ada tukang klepon enak dan kleponnya baru diangkat dari kukusan. Sayangnya kalau pengen klepon lagi, agak jauh jalannya jadi pegel.

Lalu, baru ingat, kalau sering baca review tentang Sari-Sari di blog yang sering saya kunjungi. Katanya sih enak, kuenya lengkap, dan harganya terjangkau. Selain itu, akhir-akhir ini konsumsi berupa snack dari acara Prodi atau Fakultas selalu pakai Sari-Sari. Kebetulan mau meetup Postcrosser di Jalan Banda juga, jadinya kan sekalian lewat, itung-itung ngirit ongkos.

Jadilah saya mampir ke Sari-Sari demi sebuah klepon. Waktu itu pukul 11.00 WIB.

Posisi Sari-Sari terletak di depan Total Buah Tirtayasa. Gedungnya berbentuk rumah jadul Belanda, kesannya seperti makan di rumah teman. Begitu masuk, bisa dilihat etalase yang menyajikan berbagai kue-kue jajanan pasar serta menu-menu sarapan yang dapat diambil dengan sistem swalayan. Ada juga makanan kering dan cemilan khas Bandung yang dijual di sini, namun di etalase depan kasir. Tampilan interiornya saya suka, terkesan nyaman, dilengkapi dengan hiasan-hiasan berupa gambar dengan penjelasan beberapa kue yang dijual. Desainnya terkesan jadul tapi tidak norak, selain itu etalasenya cantik, jadinya setiap kesini pasti saya foto terus upload ke Instagram 🙂 Sistem belanja di sini adalah ambil makanan yang mau dibeli lalu bayar ke kasir. Nanti di kasir akan ditanyakan apakah akan dimakan di tempat atau dibawa pulang? Kalau dimakan di tempat, makanan yang dipesan akan dipindahkan ke wadah saji berupa piring bambu, mangkok melamin, atau piring keramik, tergantung makanan yang akan dimakan. Di sini teh tawar panasnya gratis dan free refill. Yang membuat serasa di rumah, mug untuk penyajian teh tawarnya tidak ada yang sama 🙂

Cerita klepon tadi bagaimana? Sayangnya, kali ini saya kalah tempur karena kleponnya habis diborong sama seorang ibu, di depan mata saya, karena saya kurang sigap. Yasudahlah. Tapi masih terhibur karena bisa menemukan kroket kentang isi daging dan choi pan, yang susah ditemukan di Bandung Raya ini.

Kali kedua ke sini, masih dengan misi mencari klepon. Klepon dapat, namun choi pan tidak. Maklum, datangnya pukul 11.30, di saat weekend, dan setelah ada kunjungan ibu-ibu yang berwisata ke Bandung menggunakan bus pariwisata. Saat kunjungan ini, melihat kwetiau goreng di etalase, namun tidak sempat beli.

Kali ketiga ke sini, hari Minggu jam 12.00, tiba-tiba ingin kwetiau goreng di Sari-Sari, namun kehabisan, tinggal kroket kentang saja. Yasudahlah. Mungkin harus lebih pagi lagi. Sempat nanya ke kasir di sini tentang jam buka tempat ini, katanya sih pukul 05.00 udah buka, tapi hasil googling saya mengatakan kalau bukanya puku 06.00. Entahlah mana yang benar.

Kali keempat kesini, datang sekitar pukul 09.00, dan sudah ramai saja, padahal weekdays lho! Hari ini akhirnya dapat kwetiau gorengnya :”) Rasanya seperti menang perang! Langsung beli 2, satu buat makan di tempat dan satu lagi untuk bawa pulang. Pas belanja di sini, terlihat bahwa untuk kue-kue yang populer, bisa saja dalam sejam sudah habis.

Jenis kue yang dijual di Sari-Sari memang cukup lengkap, hampir seluruh jajanan pasar di Indonesia yang cukup populer ada di sini. Namun, saran saya, kalau kehabisan, silakan kembali lagi esok hari. Saat kehabisan klepon waktu itu, dapat bocoran dari bagian dapurnya, kalau suatu jenis kue sudah habis maka tidak akan ada restock untuk hari itu.

Untuk soal harga, setiap kue yang dijual di sini harganya sangat terjangkau, memang lebih mahal dari di pasar tradisional namun sama atau lebih murah dari harga kue danusan kampus atau kue di kantin kampus. Makanya saya sampai beberapa kali kesini, hahaha.

Ke sini lagi?

===

SARI SARI ANEKA JAJANAN PASAR

Jalan Sultan Tirtayasa No 17 Bandung (depan Total Buah)

Jam buka : 05.00 – 19.00 (kata kasirnya)

Range harga : di bawah Rp 50.000,- untuk setiap menu

update!

Halo!

Maaf udah lama nggak posting. Sedang sibuk mengerjakan proyek besar pertama saya sebagai kuli geopipis. Walaupun gak ke lapangan tetapi memonitor lapangan dari jauh tuh capek juga ya 😦
Selain itu IBS dan GERD saya kumat 😦

Nanti kalau saya agak luang sdikit, mau posting lagi. Ada tempat makan kesayangan yang baru!

Stay tuned 😀