What He taught me (part 1)

Tidak seperti biasanya, hari itu aku pulang ke kosan di jeda kuliah. Biasanya aku paling malas ke kosan siang-siang. Takut terlambat kuliah. Maklum, kosanku cukup jauh. Namun mau tidak mau aku harus pulang karena ‘tugas besar’ ku belum selesai. Aku tidak bisa mengerjakannya di kampus karena sifatnya sangat rahasia, menyangkut privasi orang lain.
Sebelum pulang, aku mampir ke kantor sebuah organisasi tempat aku aktif di dalamnya. Ada sedikit urusan. Setelah itu aku mampir di jalan untuk membeli es campur. Saat jalan kembali ke kosan, ada yang menawari aku, “Mau ke bawah? Ayo bareng!”. Aku menolak karena kosanku tinggal berjarak sekitar 50 meter lagi. Setelah kuingat-ingat, ternyata yang menawari aku untuk bareng ke bawah adalah aktivis organisasi yang kukunjungi tadi. Aku langsung merasa, Dia mengajari aku hari itu. “Berani nggak menolong orang lain yang belum kamu kenal?”
Setelah tiba di kosan, aku langsung melanjutkan mengerjakan “tugas besar” itu. Saat aku mengerjakan tugas itu, aku diingatkan bahwa sebenarnya aku belum melakukan apa-apa. Tuhan yang mengerjakan tugasku, aku hanya sebagai alat. Jadi aku diajarkan supaya jangan sombong, karena aku memang belum ada apa-apanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s