what He taught me (part 3)

Hari ini saya diajarkan bersyukur dan, seperti biasa, tujuan hidup saya.

Hari ini dia membelikan (atau saya masih ngutang dan belum ditagih, kurang tahu juga,) saya makan siang. Sebelumnya dia bertanya, apakah menu makanan yang saya inginkan, dengan opsi ayam dan kerang. Saya memilih kerang karena kalau saya memilih ayam agak ribet makannya. Selain itu saya tidak lupa berpesan agar dia jangan membelikan saya makanan yang pedas. Dia malah bilang kalau saya masih anak kecilšŸ˜¦. Tapi kan saya memang belum berani makan pedas, paling tidak menunggu keluarga saya kembali dari Bandung pada liburan mendatang (karena waktu mereka datang terakhir kali, saya malah diare).

Akhirnya dia membelikan saya makanan (sampai saat ini saya tidak tahu makanannya gratis atau tidak. Nanti ditanya lagi). Menunya nasi, kerang, dan tumis usus ayam. Sebenarnya saya anti makan jerohan, jadi begitu saya menerima makanan tersebut, saya berpikir bagaimana cara saya menghabiskannya. Apalagi dia berpesan kepada saya untuk menghabiskan makanan tersebut. Kalau makanannya tidak habis, dia akan marah.

Kali itu adalah pertama kalinya saya makan sambil menangis karena saya bingung bagaimana menghabiskannya. Akhirnya, beberapa menit kemudian, dia bilang begini, “Yaudah, sini gw abisin makanannya.” Kali ini saya benar-benar tidak tega padanya. Saya merasa diri saya tidak tahu berterima kasih dengan usahanya membelikan saya makanan. Selain itu, saya gagal memenuhi permintaannya untuk menghabiskan makanan saya.

Setelah makan, kami mengerjakan tugas kembali. Sekitar pukul 16.30, saya masuk ke kelas Agama. Kali ini Mas Teja membahas topik mengenai peran mahasiswa dalam masyarakat.

Ada satu pertanyaan yang sangat mengganjal di hati saya. Pertanyaan itu adalah, “Apa yang dapat kamu lakukan untuk memajukan Indonesia?” Sampai sekarang saya bingung menjawab pertanyaan tersebut. Mungkin saya tidak seperti teman-teman saya yang begitu kritis tentang keadaan di sekitarnya. Mungkin saya tidak seperti teman-teman saya yang begitu ingin menjadi sukarelawan demi menolong orang lain. Mungkin saya tidak seperti orang lain yang ingin menjadi aktivis kampus, pada pendebat yang ingin memajukan kampus. Di saat teman-teman saya heboh mengurus pertukaran pelajar atau tawaran magang di sebuah perusahaan terkenal, saya terkesan tidak tertarik dengan hal tersebut.

Mungkin orang-orang menganggap saya terlalu cuek, tidak mau tahu masalah yang terjadi. Tetapi saya lebih memilih memperhatikan orang-orang terdekat saya lebih dahulu. Lebih baik saya berfokus kepada sedikit orang supaya orang itu dapat membagikan kebaikan kepada orang lain daripada banyak orang tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saya lebih suka mengambil bidang yang tak populer, supaya saya dapat membagikan Kasih itu kepada orang lain. Jika saya mengambil bagian yang populer, banyak orang yang tidak mendapat Kasih itu karena sudah banyak orang yang melakukannya. Ke tempat yang tak populer itu tantangan tersendiri.

Banyak orang melakukan sesuatu karena ada maunya, tapi saya berusaha untuk melakukan tujuan hidup saya dengan tulus. Walaupun tidak banyak yang mendukung, tetapi saya harus tetap maju.

 

Yang paling penting itu menjalin hubungan baik dengan orang lain. Percuma kamu menasihati seseorang jika kamu tidak punya hubungan baik dengan orang tersebut.

-Dwi Hadi Setya Palupi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s