what He taught me (part 4)

Selama beberapa hari ini saya belajar banyak hal. Mungkin dalam posting kali ini saya dapat membagikan beberapa.

Ceritanya hari Rabu kemarin saya melakukan Pendalaman Alkitab bersama Mbak Upi dan Kak Irene. Kemarin kami membahas tentang bagaiman menjadi seorang pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik harus taat. Taat dalam kepemimpinan harus 100% didasarkan atas kasih kita, jadi singkatnya kita harus taat dengan tulus, bukan dengan maksud lain. Ketaatan karena kasih dan ketaatan karena sebab lain dapat dibedakan seiring berjalannya waktu. Sebagai contoh, saya ambil kasus tentang keanggotaan pada himpunan saya. Saat masih osjur, semua orang harus taat, mungkin saat itu semua orang terlihat taat, tapi setelah masuk ke dalam himpunan, kita dapat membedakan mana orang yang taat saat osjur karena mencintai himpunan tersebut atau karena ada maksud lain. Yang mencintai himpunan biasanya akan berusaha untuk memajukan himpunannya, salah satunya dengan cara kalau ada acara himpunan yang butuh kontribusinya, ia tidak akan segan-segan memberi bantuan. Sedangkan bila ia masuk himpunan tidak atas dasar mencintai himpunan, setelah ia lulus osjur, ia akan ‘hilang’ tidak mau tahu dengan urusan himpunan.

Sebagai calon pemimpin, kita harus mau taat kepada pemimpin kita, karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau taat pada atasannya. Selain itu, Tuhan tidak suka dengan calon pemimpin yang malas (sangat menohok saya dan Kak Irene) serta perlunya optimisme dalam melakukan segala sesuatu, karena menjadi calon pemimpin itu amatlah berat. Fakta terakhir yang diingatkan adalah, walaupun sudah banyak yang kita lakukan, namun perjuangan kita menjadi pemimpin yang sempurna masih belum selesai. Mungkin saja kita baru maju sebesar 0,1%.

Hari ini saya juga belajar banyak. Sebenarnya saya hari ini ikut seminar Foto Cerita yang diadakan oleh National Geographic Indonesia. Seminar ini pembicaranya adalah Mas Didi dan Om Rey. Pada seminar kali ini kami tidak diajarkan mengenai dasar-dasar fotografi, tetapi bagaimana menjadikan fotografi itu sebagai sarana untuk menyampaikan pesan kemanusiaan. Dalam membuat foto cerita, yang penting adalah membuat sebuat foto yang memiliki makna. Teknik adalah urusan belakangan. Membuat foto cerita dapat diumpamakan sebagai membuat sebuah komik. Yang penting ada opening dan ending yang jelas, serta cerita dari foto tersebut dapat dimengerti dengan mudah serta ceritanya runtut. Penjelasan pada sebuah foto cerita tidak usah panjang-panjang karena foto itu sendiri juga sudah bercerita.

Dalam mencari foto, kita juga harus memperhatikan hal-hal berikut. Pertama, kesabaran untuk mendapatkan momen yang tepat untuk sebuah foto. Kata Om Rey, di National Geographic, foto-foto dalam sebuah artikel diperoleh setelah usaha pencarian yang cukup lama, berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Dari 10.000 foto yang diperoleh selama pencarian, hanya sedikit foto yang bisa masuk ke dalam majalah. Kemudian saya diajarkan untuk memperlakukan objek foto dengan manusiawi. Bersikaplah rendah hati. Bersikaplah seolah-olah kita adalah orang yang butuh dia. Meminta izin dengan baik-baik sebelum memotret. Jika tidak diizinkan, ya cari objek lain. Kita juga boleh punya pilihan kok. Tapi jika terpaksa, lakukan secara candid.

Yang pasti, kesimpulan hari ini aadalah belajar ketaatan dan kerendahan hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s