that’s how we spent weekend (part 5)

Kalau bisa dibilang, akhir minggu ini saya training jadi guru sekolah minggu lagi hahaha.

Ceritanya, Jumat dan Sabtu ini, saya, Friska, dan Bang Ivan dapet tawaran jadi guide anak berusia 10 tahun ke bawah untuk jalan-jalan karena orang tuanya ikutan konferensi. Tadinya kami ditawarkan ikut kamp remaja sebagai pembimbing, tapi karena kami ga bisa full day disana, jadinya kami jadi pembimbing anak kecil.

Ada 13 anak yang kami bawa jalan-jalan, yaitu Kiani, Adelfos, Fero, Veni, Sema, Bena, Uli, Natan, Nuel, Adi, Yosua, Sammy, Farel (a.k.a Supermi). Ikut juga orang tuanya Feni dan Sammy karena mereka belum bisa mandiri.

Pembagian tugas pada kami bertiga adalah saya yang pegang dan atur duit, Bang Ivan beli makanan dan jadi lifeguard, serta Friska sebagai juru tenang dan penghibur anak-anak kecil karena dia cantik *eh.

Hari pertama kami ke kebun binatang di dekat ITB. Pertama-tama anak-anak ini sopan semua, tapi makin lama ternyata mereka setipe sama anak-anak komsel. Sama-sama ribut dan banyak geraknya. Akhirnya saya malah main kejar-kejaran sama mereka di kebun binatang, malahan saat yang lain udah gak kuat, saya dan anak-anak masih semangat. Ada gunanya juga pelatihan enam bulan itu. Bahkan saking isengnya, ada anak-anak yang hampir dikejar babi dan anjing. Eh yang lain malah bingung dan bertanya-tanya di mana kandang babinya. Oiya, saya ngomong ke anak-anak kalau saya takut sama ular, malahan mereka semangat ke kandang ular, dan mereka bersepuluh menarik saya ke kandang ular bersama-sama. TAKUUUT! Ada cerita lucu nih, soal anak yang bernama Uli. Kalau dia kelelahan, dia tertidur seperti terhipnotis, susah bangun, dan tidak akan terjatuh jika ditinggal tidur sambil berdiri. Kepalanya aja tetap pada posisi normal pada saat tidak tidur. Buset. Lelah bermain, makan di Kantin Barat Laut ITB, saya rempong ngatur makan buat 18 orang. Kenyang makan, kembali ke hotel, berenang. Gak ikutan karena PMS dan halangan hari pertama. Pukul 16.00 membubarkan acara renang dengan memanggil orang tua para peserta. Si Farel ga mau keluar dari kolam renang, tapinya. Jadinya, minjem tenaga Bang Atur buat manggil dia keluar. Selesai, bikin LPJ Keuangan ke Bang Atur, lalu pulang.

Hari kedua, berangkat ke hotel dari Wisma Navigators. Itung itung ngirit ongkos lah. Berangkat bersama Pak Dedi, Bang Erland dan Kak Ayu. Bang Erland tuh seseorang yang bikin buku panduan PA-nya Navigators, dan dari kemaren dia minta saran ke semua orang apa yang kurang dari bukunya. Sampe kecepetan, ketemu sama Kak Sonti, sarapan, dan nungguin Friska dan Bang Ivan bareng para barudak. Begitu mereka sampai, langsung capcus ke Museum Geologi. Sepanjang jalan, para barudak nyanyi lagu “Pelangi Kasih-Nya” cuma bagian agung mulianya diganti sama agung nugroho. gatau mereka dapet ide darimana, cuma gw kepikiran sampe sekarang. Di Museum Geologi, ketemu rombongan 4L4Y level 10, langsung mengamankan para barudak ke tempat sepi. Museum Geologi, di dalam gedungnya, terbagi jadi tiga zona, Sejarah Kehidupan, Geologi Indonesia, dan Geologi dan Kehidupan Manusia. Karena saya geopisis, jadi Friska dan Bang Ivan mempercayakan saya jadi guide gratis, tapi saya cuma lolos di dua ruangan terakhir. Itung-itung gak sia-sia belajar geologi, sayangnya ga bawa lup, jadi kurang seru. Setelah para barudak matigaya, mereka saya bawa ke taman luar museum yang katanya merupakan siklus geologi. setelah main di situ, saatnya bawa mereka ke Taman Lalu Lintas! Di sana mereka puas banget main, ada yang main sepedahan, skuteran, perosotan, mancingan, trampolin, dan lain-lain. Pokoknya pada bahagia semuanya. Selesai main, pertama-tama bawa mereka ke rumah makan padang, ternyata kenanya lebih mahal, jadinya saya harus penuhi janji ke mereka untuk makan siang di KFC. Pada barudak pun bersorak sorai. Udah dibeliin paket KFC, masih ada yang pundung juga karena bukan paket Chaki (mereka ga dikasi mainan, mahal). Setelah kenyang, pulangkan mereka ke hotel, terus berenang lagi. Kali ini mereka ga mau naik dari kolam renang saat waktunya abis, jadinya minta tolong Bang Atur manggil orang tua para barudak. Gatau gimana caranya, tiba-tiba para orangtua berbaris menjemput anaknya. Selesai mengembalikan para barudaks, berpisah dengan mereka, terus pulang.

Capek tapi seneng.

Bonus: “Pelangi Kasih-Nya,” tapi yang bawain ABODA, bandnya kerabat saya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s