tersesat di kandang singa: hari 1

Ceritanya akhir minggu ini saya sekeluarga, lengkap, berempat, liburan ala backpacker ke, sebut saja, negara singa. Karena sudah niat backpacking, keberangkatan ini cenderung dirahasiakan dari publik untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Metode ini dirasa cukup berhasil, apalagi untuk orang-orang yang jarang diacuhkan publik seperti saya, buktinya mereka gak ada yang menyadari ketidakhadiran saya di kelas. HAHAHA.

Langsung aja ke topik utama, liburan. Pesawat kami mestinya takeoff jam 06.45, tapi ternyata ada delay sekitar 20 menit. Karena kali ini luburannya pake acara ngecap paspor, jadi agak ribet prosedurnya. Kali ini kata bokap mobil dititip di bandara aja, karena kalau dihitung-hitung ongkosnya jadi lebih murah. Pas di bandara, ketemu nyokapnya Intan, temen SMP. Ternyata kami tujuannya sama cuma beda pesawat. Kebetulan lagi pada saat itu beliau lagi nelepon Intan, karena Intan lagi kuliah di Padang. Perjalanan kali ini naik pesawat jet*, maklum termakan promo yang menyebabkan harga tiket pulang pergi satu orang bisa jadi untuk empat orang. Pesawatnya nyaman, menurut saya lebih nyaman dari pesawat merahputih yang biasa dinaiki. Kerennya lagi, kami naik pesawat lewat belalai yang terbuat dari kaca. Cooool~ Duduknya di pesawat di belakang. Karena ini merupakan penerbangan internasional, announcernya gak pake Bahasa. Full in English, although most of the passengers is Indonesian. Dagangan onboard dan menu makanannya juga lebih keren daripada pesawat merahputih, menurut saya. Curi-curi baca majalah di pesawat, ternyata pesawat yang saya tumpangi merupakan jurusan Perth-Singapore yang transit di Jakarta. Pantesaaan~

Sepanjang jalan, agak sedikit berawan namun mulai cerah saat mendekati Changi Airport. Pas di atas awan sempet berantem juga sama nyokap,

Gw: Ma, itu Batam ya?

Nyokap: Mungkin, kan katanya kita udah deket.

beberapa menit kemudian

Nyokap: Dek, kita udah di atas Singapore nih!

Gw: Gimana ceritanya, itu gedungnya pada pendek, ada tambaknya lagi. Plus ada sawahnya lagi.

Nyokap: Kalau gitu, kita di atas Sumatera.

Gw: Kan tadi Batam udah lewaaat -_____- Masa balik lagi sih? Itu di bawah juga sawit semua.

Nyokap: Mungkin kita lewat Malaysia.

Ya begitulah. Mendarat dengan selamat pukul 10.00 waktu setempat. Di sana GMT+8, untuk nyocokin jam di HP bisa diatur lah. Sampe bandara hp agak diatur dulu biar bisa nerima sinyal, itung itung gak ketinggalan gosip di Indonesia lah. Abis sedikit urusan cap, langsung ke penginapan di daerah Orchard naik MRT, katanya biar ngirit. Beli kartu ez-link, top up, kemudian naik ke MRT yang jaraknya satu terminal dan empat lantai dari tempat landing pesawat. Langsung ke daerah Orchard Road, tempat nginep sekeluarga. Pertamanya rada rebek soalnya ga tau jalan dan gak ada yang mau bantuin. Tapi akhirnya nyampai juga🙂 Kami nginepnya di guest house lho, yang punya melihara chihuahua yang lucuuu~

Abis unpack, langsung ke Sentosa buat beli tiket Universal Studio. Gw sih tau kalau tiketnya bisa dibeli jauh-jauh hari, tapi sekeluarga gak ada yang percaya. Yaudah deh, untuk mengecek kebenarannya, langsung aja ke sana. Dari Orchard naik MRT ke VivoCity, lalu lanjut naik monorail ke Sentosa dari sana. Gw nanya sama officer di information center apakah bener bisa beli tiket Universal Studio jauh-jauh hari, katanya sih iya, tapi kakak gw nanya ke tempat jual tiket, katanya kagak. Yaudah deh, sekeluarga gw udah siap-siap mempermalukan gw. Untuk mencegah pertengkaran, nyokap memutuskan agar kami ke Sentosa, kalau tiketnya harus dibeli besok, itungannya sekalian jalan-jalan di Sentosa dan nonton Song of the Sea, takutnya besok ga sempet lagi🙂. Sampe di konter tiket Universal Studio, ternyata tiketnya bisa dibeli duluan! Makanya jangan remehkan anak kecil kayak saya, mentang-mentang masih kecil nggak didengerin kalau ngomong. Abis beli tiket, foto depan Universal Studios dulu, lalu jalan-jalan keliling Sentosa. Pertama-tama lewat Imbiah, lalu jalan ke arah pantai. Di pantai, ternyata ada sinyal wifi gratis deket stasiun monorail. Mari manfaatkan~ Sambil duduk di deket stasiun, liat ada sejenis mobil wisata, langsung deh ikutan ngantri. Mobilnya lewat tiap 15 menit, tapi kita harus ngantri dulu untuk naik, dan antriannya panjang banget lah bok. Yaudah, jadinya ikutan naik deh. Kali ini mobilnya ke arah Siloso, di sepanjang rute ini banyak tempat wisata seperti Underwater World, tempat nyewa sepeda, restoran, dan lain-lain. Terus pantai di daerah ini ada saungnya, lumayan kalau mau ngadain acara (tapi mahal di ongkos T-T). Cuma ngikutin mobilnya muter dari Beach-Siloso-Beach, terus pada menyadari kenapa ada mobil wisata yang ga berhenti di halte tempat kami naik. Asumsi pertama, pasti ada halte lain. Sebelumnya beli minum dulu di 7/11, soalnya udah pada seret, amunisi air minum abis, dan tap water gak ada yang jalan. Tadinya mau beli yang merek 7/11 soalnya lebih murah, tapi gak ada yang dingin, jadinya beli aqu*a deh. Lirik labelnya, ternyata buatan Babakan Pari, Sukabumi. Kalau di kota singa, harga air minum tersebut bisa ditambah nolnya satu di belakang. Yaa sudahlaaah. Pas abis dari 7/11, ternyata ada sign halte mobil wisata. Ikutin sign tersebut, terus naik mobilnya. Ternyata saking tersembunyinya, jarang ada yang mau naik hihihi. Mobil ini jurusan Beach-Tanjong-Beach. Pas naik, di sepanjang jalur ini pantainya indah banget, terus masih agak sepi. Yaudah deh, jadinya pas udah mau balik ke Beach, turun di dua halte sebelum pemberhentian terakhir, untuk menuju Palawan Beach. Lucunya, di Palawan, ada spanduk yang isinya kira-kira artinya Petualangan Kapten Palawan dan Teman-Teman. Mungkin kata Palawan berasal dari Pa(h)lawan?

Di Pantai Palawan, kami jalan ke titik paling selatan di kontinen Asia. Dari tempat turun tadi, kami harus melalui jembatan gantung yang rada-rada nyeremin untuk ke titik tersebut. Di sana bisa pake teropong umum dengan harga 1 Sing Dollar. Terus kami juga liat pohon kelapa yang kata mama saya kayak wallpaper komputer, dan ada sampah Teh Gelas. Gak ngerti. Abis itu, main dan foto-foto di Pantai Palawan. Pantainya berpasir halus banget, terus kerangnya lucu-lucu dan masih bagus-bagus. Bentuk pantainya juga lucu, pantainya dipisahin kayak sungai kecil, tapi bisa buat berenang. Sayang gak bawa baju ganti. Puas main, balik ke Beach, beli tiket Song of the Sea, kemudian nungguin pintunya dibuka. Sekitar pukul 18.30, pintu dibuka, langsung masuk ke dalam tempat nontonnya yang ada di pinggir pantai. Udah rame aja jam segitu, padahal show baru dimulai satu jam lagi. Suasana tempatnya sih kayak Fantastique, cuma yang ini settingnya perkampungan nelayan. Sekitar pukul 19.40 (di sana matahari baru terbenam pukul 19.00), show dimulai. Ceritanya sih tentang kekuatan suaranya pemain utama yang bisa mengubah segalanya. Seru sih, tapi masih lucuan acara Fantastique. Selesai show sekitar pukul 20.15, langsung keluar, dan di luar rame parah. Mau naik monorail balik ke VivoCity aja ngantri banget, penuh lagi. Nyampe VivoCity, makan di foodcourt atas, porsinya gede pisan. Bagi dua aja gak abis laah -__-. Kenyang sangat, langsung balik ke penginapan, lalu tidur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s