mungkin cuma Tuhan yang sayang sama saya

Jadi teringat renungan selama satu minggu ini yang kalau disimpulkan kira-kira begini: dunia pasti akan bertambah tidak adil, dan pasti kamu akan sering diremehkan. Kalau sakit boleh nangis kok, karena menangis itu mempunyai dampak penyembuhan yang besar. Satu yang pasti, Tuhan itu Hakim yang adil. Serta jangan lupa akan panggilanmu, mengapa kamu bisa dipilih melakukan tantangan ini, walaupun emang sakit banget, pasti melalui hal ini Tuhan mau melakukan perkara yang sangat besar, asal kamu mau dipakai oleh-Nya. Dia tidak butuh orang-orang berkompeten, Dia butuh orang-orang taat. Musa aja dulu pas awal pelayanannya gak ada yang mau dengerin dia, kok, tapi akhirnya hampir semua orang di dunia ini bisa kagum sama dia. Itu kan karena dia mau dipakai Tuhan. Masa kamu gak mau sih dipakai sama Tuhan? Manfaatnya gede lho.

Langsung aja ke topik pembicaraan. Seperti biasa, ceritanya gak ada satu orang pun yang mau satu kelompok sama saya, intinya mereka menganggap kalau satu kelompok sama saya itu aib terbesar, dosa yang tak termaafkan, sehingga kalau tak terpaksa mending gak usah satu kelompok sama saya. Terus saya nanya sama asp*ak, boleh gak kalau saya kerja sendiri karena gak ada yang mau sama saya, dan mereka mewajibkan saya cari kelompok, karena ternyata di tempat saya jumlahnya genap. Udah nego sama semua orang, ternyata tetep gak ada yang mau sekelompok sama saya. Ya sudahlah, sendiri saja gapapa, daripada gak lulus (walaupun katanya kalau ngerjain sendiri juga terancam gak lulus, yaudah deh ngambil resiko aja, kalau gak lulus gara-gara praktikum gak dinilai ya ngulang aja tahun depan, yang penting kan gw udah usaha ngerjain).

Merasa sedikit kesal (tapi gak bisa ngomong, abisnya kalau ngomong sama mereka serba salah, kalau ngomong dibilang cengeng dan kekanak-kanakan, kalau gak ngomong ntar dimarahin), gw malah curcol ke temen gw dan nasihatnya sama seperti dahulu. Katanya, “Loe harus berubah. Gak boleh menye-menye dan manja lagi. Kalau mau minta tolong jangan ngawang,” dan segala nasihat yang mungkin udah gw sering dengar dari mereka. Pengen sih gw ngomong gini, “Kalau kekanak-kanakan dan menye-menye gw udah usaha supaya gak menye-menye, tapi kadang gw juga nyadar kalau sebenernya gw masih berjiwa kekanak-kanakan. Kalau soal gw manja, emang cewek yang pulang sendiri naik angkot jam 11 malem dan minta ditemenin itu manja? Pergi ke tempat rawan bahaya karena loe suruh beli sesuatu yang katanya ‘penting’ sendirian itu manja? Minta ditemenin jalan itu manja? Minta tolong diangkatin barang yang berat karena gw gak kuat itu manja? Kalau menurut loe itu manja, oke, mulai sekarang gw gak akan minta dianterin pulang kalau malem-malem, seberbahaya cerita cewek diperk**a kalau naik angkot sendiri atau terancam diculik dan dibunuh kalau itu yang loe mau, biar gw gak manja. Kalau pergi siang-siang sendirian, gw udah biasa, buktinya jarang kan gw minta tolong sama kalian kecuali kalau benar-benar butuh, itupun kalian sering menolak karena mungkin gw gak berkenan di mata kalian, dianggap seperti sampah, bahkan kalau gw mau ngasih suatu info penting, nanya lewat sms, twitter, wall facebook, atau ngomong di depan mata kalian dengan menyebut nama kalian (seperti yang kalian inginkan) juga masih tidak merespon. Kalau saya butuh sesuatu, saya akan usaha sendiri mencarinya, walaupun dana dan tenaga saya akan habis, supaya tidak dibilang manja oleh kalian. Katanya ‘keluarga’, tapi keluarga yang saya kenal tidaklah demikian.”

Udah meledak, akhirnya amunisi terakhir dikeluarkan, nelpon nyokap. Kata nyokap, “Yah, cerita lama terulang lagi. Biarin aja kali, yakin aja, walaupun kamu dibenci semua orang, Tuhan tetep sayang sama kamu, kok. Inget aja, Tuhan itu adil. Biarin aja mereka ngomong apa, kalau kamu sedang sakit atau kesulitan sering dianggap berbohong, mereka sering tidak menganggap kamu ada, kamu dianggap jelek, aneh, tidak pantas hidup, tapi Tuhan tetep sayang sama kamu, kok. Mungkin setelah kamu melalui hal ini, kamu akan dipakai untuk menolong orang lain dengan masalah yang sama. Pasti melalui hal ini ada yang bisa kamu dapatkan yang belum tentu mereka dapatkan. Jangan sampai karena kamu stres usus kamu bermasalah lagi, tahu kan sakitnya gimana. Kadang-kadang ada benernya juga kata Bapak, kalau mereka ngomong apapun gak usah ditanggapi.”

Mungkin emang gw gak bisa marah, kadang gak bisa ngomong, tapi gw tau kalau Tuhan denger teriakan gw yang tak terucapkan. Yang pasti, dari penolakan mereka terhadap gw, gw jadi bisa menerima orang-orang yang pernah merasakan penolakan juga. Selain itu, gw bisa terlatih menyembunyikan perasaan, belajar menjaga perasaan orang lain, mudah meminta maaf, dan mungkin lebih nempel sama Tuhan🙂

Maaf random malam hari dan maaf kalau ada yang tersinggung. Gw udah siap kok kalau misalnya kalian ingin marah dan mungkin tambah benci sama gw, yang penting gw udah jujur, seperti yang kalian inginkan dalam sebuah ‘keluarga’.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s