A Private Moment: The Best Time, The Best Condition, and Privacy

Hari ini saya (mem)-PA-(kan) si Hanni. Sesuai dengan amanah terakhir Mbak Upi, harus rutin PA, baik untuk memberlengkapi diri sendiri atau orang lain.

Hari ini materinya tentang Saat Teduh (bukan merek buku renungan, seriusan). Langsung tertohok dari paragraf pertama. Intinya tuh saat teduh sebenarnya ‘waktu tenang’ buat jiwa kita dari segala macam kondisi harian yang menggila, dari tugas-tugas tanpa akhir, dan dari segala pikiran. Kalau buat tubuh kita aja kita tahu apa yang terbaik dan tahu kalau malam itu waktunya tidur, masa buat saat teduh aja kita gak ada waktu yang tetap?

Kalau diumpamain, di kelas saya belajar tentang stress dan strain. Stress itu mengakibatkan strain. Biasanya ada gaya yang melawan stress tersebut sehingga tidak terkena akibat stress yaitu strain yang menyebabkan perubahan bentuk batuan (benerin kalau salah). Nah, kalau direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, strain akibat stress itu biasanya sih gampang marah, atau segala macam keanehan yang menyebabkan hidup kita kelakuannya mungkin tak seperti biasa. Sebagai contoh, kalau kurang tidur saya paling gampang marah. Supaya saya gak gampang marah, sebaiknya saya tahu kapan waktu istirahat. Begitu juga dengan jiwa dan roh saya. Supaya gak keluar kelakuan yang tidak memuliakan Tuhan, saya harus rutin saat teduh.

Terus tohokan kedua yaitu soal waktu saat teduh. Hari ini dikasih contoh tentang orang-orang sibuk di masanya yang mungkin lebih sibuk dari saya (seperti nabi, raja, penasihat raja, seorang pemimpin kaum besar, dan Tuhan Yesus sendiri), namun bisa menyempatkan waktu buat saat teduh. Masa saya, yang mungkin dalam segala kehararectican saya masih belum terlalu sibuk, gak bisa nyempetin waktu? Ke laut aja deh.

Yang paling seru tuh tohokan ketiga, sesuai dengan judul tulisan ini, waktu terbaik, kondisi terbaik, dan privasi. Pada pelajaran kali ini, dikasih tahu kalau para  di atas itu selalu memberi waktu yang spesial buat saat teduh dan selalu sama waktunya setiap hari. Terus ada satu ayat yang menceritakan kalau pada saat teduh itu waktunya Tuhan bicara pada kita dan kita mendengarkan seperti seorang murid. Si Hanni bilang kalau seorang murid yang mau belajar harus menyiapkan kondisi tubuhnya yang paling baik agar dapat menyerap pelajaran. Kalau sama guru di dunia aja begitu, apalagi sama Guru segala guru? Harus dalam kondisi paling wokeh dong! Kalau soal privasi, saya bandingin sama si Nasya anak ibu kos saya. Tadi saya ditendangin sama dia cuma gara-gara dia mau nyusu sama ibunya. Kata ibunya sih gak cuma saya yang diusir (caranya ditendangin) sama dia, semua orang juga, bahkan bapaknya. Kebayang banget lah, kalau anak kecil aja butuh privasi buat sama ibunya, gimana dengan kita sama Bapa di Surga? Harus lebih keren dong. Makanya tadi pas lagi PA belajar juga kalau saat teduh itu waktu pribadi berdua dengan Tuhan, gak boleh ada yang ganggu termasuk segala kehararectican kita.

Yang pasti kuncinya cuma satu, saat teduh tuh waktu kita bersekutu dengan Tuhan secara pribadi. Hubungannya dua arah, kita berbicara kepada Tuhan lewat doa, dan Dia berbicara lewat firman-Nya.

Jadi malu, kadang sering bolong saat teduhnya, hihihi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s