the truth is always the truth, sadly the truth is not on my side (yet)

Ceritanya, pas PA Ci Wiek, belajar konsep diri. Ada satu pertanyaan yang ditanyain:”Ada sesuatu yang menghambat kamu dalam menerima diri sendiri?” Partner gw jawab, :”Gak ada, Ci.” Kalau gw jawab: “Rasa bersalah, Ci. Dari kecil aku disalahin terus lho, bahkan buat hal-hal kecil kayak lampu putus, telepon mati, sampai ke hal-hal besar seperti terlambat.” Dan Ci Wiwiek cuma bilang:”Sesi khusus ya untuk masalah ini, walaupun kedengarannya simpel tapi berat lho.”
Gw tau kok kalau gw salah, bahkan terkadang gw selalu merasa ada yang salah. Dari kecil emang gw gak pernah dianggap benar, selalu salah, padahal kesalahan itu bukan gw yang buat.
Puncak kesalahan adalah, ya, sekarang ini. Banyak orang menawarkan diri untuk mendengar, tapi sedikit yang mau mendengarkan. Terkadang baru ngomong sepuluh kata, sudah dibilang, “Kamu yang salah, sih, bla bla bla…” Kalau gini kapan ngomongnya? Orang biasa mungkin bisa sakit hati kalau diperlakukan seperti ini, tapi saya gak boleh sakit hati. Kan udah gede.
Kata teman saya,”Coba deh introspeksi diri, mungkin kamu yang salah, mungkin lho.” Tapi dengan keadaan yang salah seperti ini, apa lagi yang salah? Misalnya loe gak sengaja ngeliat tikus mati, terus pada saat yang sama temen loe ngeliat loe dan nuduh loe membunuh tikus itu. Nah, yang salah siapa? Loe? Kira-kira begitulah.
Walaupun begitu, gw tetep terbuka terhadap kritik kok. Kalau mereka ngasih kritik, gw dengerin, dan kalau itu benar (dan memang harus benar), gw mau berubah, walaupun dalam kenyataannya gw tetep gak akan pernah bener di mata mereka.
Jadi inget, pas wawancara dengan junior, dia pernah cerita kalau temennya ngajak ngobrol dan janji mau didengerin, tapi kenyatannya gak demikian. Mungkin kalau orang lain dengerin, si junior itu bakal disalahin, tapi gw cuma pesen supaya dia mau sabar dengerin dan cari orang yang mau mendengar. Gw pernah merasakan hal yang sama kok, jadi itu bukan teori (kali aja dia baca).
Yang pasti, harus tetep belajar mendengar, sabar, serta profesional.

Banyak orang mau didengar, tetapi sedikit yang mau mendengarkan. Maka, jadilah pendengar itu. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s