Lembang ‘Trip’

Hari Sabtu kemarin, saya sama temen-temen jalan-jalan ke Lembang, untuk mengunjungi situs Sesar Lembang. Perjalanan dimulai pukul 06.15 dari kosan saya yang terletak di puncak bukit. Karena buru-buru, jadinya gak sempat menyiapkan makan siang berupa bihun goreng(padahal bahannya udah disiapin). Terpaksa deh membeli nasi kuning dekat kosan. Buru-buru lari ngejar angkot untuk ke kampus, ngintip sebentar ke kosan teman, dikirain saya ketinggalan, ternyata malah saya yang duluan.

Dari kosan, saya naik angkot ke kampus yang merupakan titik pertemuan kami. Ternyata saya sampai kampus duluan, malahan masih sempat pakai sepatu, dandan sedikit *eh, sama sarapan pagi. Sampai kampus baru sadar kalau nanti di situs yang dikunjungi gak ada makan siang, yaudah pasrah kelaparan aja deh.

Berangkat pukul 07.30 bersama Om Gusde, Pak Budi Brahmantyo, sama Waskito. Pas sampai Kafe Halaman, si Om galau mau lewat mana, akhirnya diarahkan jalan ke situsnya sama Pak Budi. Karena lewat ‘jalan tol’, jadinya kami sampai terlalu cepat, sekitar 20 menitan kali. Waskito langsung meninggalkan kami untuk menjemput rombongan yang lain, jadinya saya sama OmGusde nemenin Pak Budi nungguin bocah-bocah yang belum nyampe tersebut. Pak Budi sibuk bikin sketsa, saya sama si Om mengambil gambar melalui ponsel, kalau ada yang gak dimengerti kami curi-curi untuk nanya ke Pak Budi. Tidak lama kemudian, Isal sama Nunu sampai di situs. Karena rombongan kelamaan datangnya, Pak Budi ngajakin kami ngopi i warung dekat situs tersebut. Isal sama Pak Budi ngemil sambil minum kopi, saya sama Om Gusde nyobain hampir semua cemilan di warung tersebut. Udah kenyang, karena si bapak duitnya berwarna biru, akhirnya kami dibayarin. Jadi gak enak, makasih ya, Pak!

Beberapa menit setelah kami meninggalkan warung tadi, rombongan pun datang. Langsung aja sama Pak Budi diajakin naik ke Gunung Batu, situs pertama yang kami kunjungi. Di sana kami dijelaskan tentang Sesar Lembang dan asal usulnya. Setelah dirasa kurang puas jika melihat dari perhentian pertama kami, si bapak ngajakin lagi buat naik ke puncak gunung. Rombongan pada mendengarkan penjelasan Pak Budi tentang cekungan Bandung (dan ternyata banyak fakta unik yang baru saya ketahui), sedangkan saya, Om Gusde, dan beberapa teman sibuk mengagumi keindahan Kota Bandung dari puncak Gunung Batu. Setelah sesi di puncak gunung selesai, kami turun untuk menuju perhentian selanjutnya. Karena saya fobia ketinggian, maka saya turun duluan biar gak panik ketinggalan.

Dari Gunung Batu, kami menuju singkapan Sesar Lembang yang ada di dekat Bosscha sebagai situs kedua yang dikunjungi kali ini. Pas udah dekat Bosscha, Pak Budi menunjuk ke arah suatu bukit untuk memberitahu kami bahwa itulah situs berikutnya. Saya hampir menjerit karena tempat itu tinggi sekali (saya fobia ketinggian) . Ternyata setelah tiba di situs tersebut, masih lebih ngeri Gunung Batu. Situs kedua yang dikunjungi merupakan singkapan sesar Lembang yang terletak di tengah kebun cabe dan kol dekat Observatorium Bosscha (tau gini bawa nasi, terasi, garam, bawang, ulekan, dan ikan asin goreng buat makan siang). Lebih elit dikit daripada kebun bapak saya. Saya sama Om Gusde baru pertama kali ke arah Bosscha, keliatan deh bingungnya sambil mikir Bosscha di mana, jadinya si bapak dengan antusias menunjukkan Bosscha di mana. Kata beliau, kalau mau ngeliat bintang dateng ke Bosschanya malem hari, tapi kalau mau ngeliat pemandangan sekitarnya datengnya siang-siang. Hampir saja saya sama Om Gusde nanyain kebunnya Pak Ardiwilaga (yang di Petualangan Sherina) dimana. Karena rombongan kelamaan datang, saya, Om Gusde, dan Pak Budi masih sempat foto-foto dulu. Bahkan si bapak karena kelamaan nunggu malah mencari pohon untuk berteduh sambil mendengarkan lagu jazz. Ternyata si bapak gaul dan asik juga, sepertinya. Beberapa menit kemudian, rombongan datang dan acara dilanjutkan lagi. Ternyata acaranya mulai kecepetan, jadi masih pada sempet nanya ke bapaknya. Puas deh.

Abis jalan-jalan belajar tentang Sesar Lembang, lanjut acara keakraban sampai sore. Seru deh, pokoknya🙂 Pulangnya sekitar pukul 16.00 bareng Nando, Ajay, Om Gusde, sama Ovy. Tadinya mau lanjut ke Punclut atau Majalaya, namun karena udah pada tepar jadinya langsung pulang. Pokoknya seneng banget abis jalan-jalan soalnya pemandangannya keren banget dan banyak ilmu baru yang didapat.

Keesokan harinya, muka langsung belang, perih banget rasanya, kayaknya efek terbakar sinar matahari (sunburn). Langsung ga berani keluar rumah untuk beberapa hari, kalau keluar-keluar ya pake sunblock. Kayak ke pantai aja.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s