Antara Gang Sempit dan Asia Afrika: Sebuah Perjalanan

Ceritanya hari ini saya sama TERRAKRISTAL makan bareng di Restoran Gang Sempit di daerah Pasar Baru. Menunya seperti biasa adalah ayam-kaki-empat. Sebenernya si Bos Nando agak sedih juga karena yang ikut cuma dikit, maklum, akhir bulan. Tapi yasudahlah, karena udah pada ngiler jadinya dijadikan sajah.
Sekitar pukul 19.00, saya, Nando, dan Nuel nyampe di tempat eksekusi, dianterin sama Pabon. Sampe sana, cuma disambut sama Monique dan Simus yang lagi berduaan (jadi inget masa lalu #eeeeeeeh). Sekitar sejaman kemudian, semuanya baru pada ngumpul.Total yang ikutan sekitar 14 orang. Yang paling seru sebelum makan adalah ujian menahan nafsu. Jadi, 15 menit sesudah saya nyampe, makanan baru dipesan lalu beberapa menit kemudian makanannya dihidangkan. Sayangnya, ada beberapa orang yang nyasar jadinya harus ditungguin. Yang (mungkin) gak kuat nahan pada keluar semua, sedangkan saya termasuk orang yang bertahan di dalam (walaupun harus menahan air liur selama setengah jam sambil melihat makanan enak di depan mata, laper lagi). Setelah udah kumpul semuanya, baru doa makan, dan acara makan-makan yang cukup brutal. Maklum, makanannya gak nahan enaknya. Buat yang bisa makan, menunya ada babik kecap (yang lemaknya dikit, jadi gw bisa makan), mi goreng babik, dan babik cah jamur. Buat yang gak pemakan, ada udang asam manis (yang sausnya enak banget), capcai, dan mi goreng ayam. Porsi di Gang Sempit rada brutal banyaknya, kalau dibandingin sama Bakmi Fajar yang ada di deket rumah dan biasa dipesen nyokap, masih banyakan Gang Sempit, tapi khusus untuk mi goreng saya masih lebih suka Bakmi Fajar karena pake mi basah yang bulet-bulet itu, gak kayak Gang Sempit yang bentuk mi-nya kayak Bakmi G*M. Saking gak nahan enaknya, ada yang tadinya gak makan jadinya malah ikutan makan dan yang niatannya diet jadi kalap makan. Maklum, enak banget sih rasanaya. Kebanyakan pada mesen buat makan disini lagi, saking enak dan murahnya. Abis makan, langsung ngobrol-ngobrol buat minta masukan dan mendengar curhatan. Pas lagi di tengah acara, ternyata temen Navs saya, Merwyn dan teman-teman CC-nya makan di Gang Sempit juga, jadinya JoshNick sama Vanno pindah haluan ke Merwyn.
Udah kenyang dan bahagia makan, sekitar pukul 20.30 kami kembali ke aktivitas masing-masing, yang mau futsal gratis ke YPKP, yang mau pulang ya silakan kembali. Sebelumnya, Nuel beli bola ubi di depan Gang Sempit yang enak banget menurut saya dan teman-teman (ubinya kerasa manisnya pas dan tepungnya gak banyak, kalau masih panas garing banget), rupanya dia ikut ketagihan setelah tadi nyicipin punya Pauline. Setelah beli bola ubi, Saya, Nando, dan Nuel berencana naik angkot, tetapi sebelumnya kami jalan kaki dahulu menyusuri Jalan Asia Afrika buat ketemu sama Dago-Kalapa (karena saya lupa kalau mau ketemuan sama Dago-Kalapa naik angkot yang mana dulu). Sepanjang jalan, ketemu sama Alun-Alun Bandung yang ada mesjidnya. Tak lama kemudian, di sebelah kiri kami ada Gedung Merdeka yang buat Konferensi Asia-Afrika yang dulu sering kami temui di buku pelajaran sejarah. Ternyata pada malam hari masih banyak orang yang beraktivitas di sekitar sana, seperti komunitas skateboard yang sedang berlatih, orang-orang yang belajar fotografi, atau orang yang hanya sekadar mengobrol dengan rekannya sambil menikmati malam. Agak jauh sedikit, kami melintasi Hotel Savoy Homann di sebelah kanan, lalu gedung-gedung tua yang cukup apik di kiri kanan jalan. Serasa seperti kembali ke saat-saat bersejarah yang diceritakan di buku pelajaran sejarah dahulu, apalagi didukung dengan gedung-gedung tua yang cukup apik dan penerangan yang elegan, tidak terlalu silau, tidak terlalu gelap, sehingga cukup menimbulkan nuansa artistik. Tidak lupa kami melewati Nasi Goreng PR yang cukup tersohor itu. Sayangnya kami baru makan jadi saya tidak berani memesan satu porsi untuk dibawa pulang. Sekitar beberapa ratus meter kemudian, suasana romantisme gedung tua berubah menjadi deretan gedung bank di kiri kanan jalan. Saya, Nando, dan Nuel kadang-kadang tertawa melihat gedung bank yang berderetan sepanjang jalan, sepertinya hampir 80% bank di Indonesia punya cabang di sana. Apalagi ada bentuk gedung bank yang kadang seperti menonjol sendiri, seperti gedung bank yang hanya berupa sebuah rumah terjepit di anatara dua bank yang gedungnya tinggi, atau gedung bank berdesain ultramodern di antara gedung berdesain klasik. Selama jalan malam itu, saya jadi teringat kembali saat wisata bersama keluarga menyusuri jalan di Singapura. Bedanya, di sana trotoarnya lebih bersahabat sehingga lebih nyaman di jalan, sedangkan di sini trotoarnya kurang nyaman, terkadang saya, Nando, dan Nuel harus berjalan di jalanan kendaraan karena tidak bisa lewat. Sekitar 15-20 menit kemudian, kami tiba di persimpangan Simpang Lima untuk naik angkot Dago-Kalapa ke arah Dago. Saya pulang ke kosan, sedangkan Nando dan Nuel ke beskem.
Demikianlah perjalanan hari ini. Maaf postingnya kepanjangan.

Total Kerusakan:
Menu lauk di Gang Sempit: sekitar Rp 30.000,- sampai Rp 40.000,- per porsinya, tapi satu porsi bisa untuk 2-4 orang saking banyaknya
Nasi Putih: Rp 4.000,-
Bola ubi: satunya Rp 700,- tapi kalau beli tiga buah jadinya Rp 2.000,-
Bayar angkot: aslinya sekitar Rp 3.000,- per orang, tapi ditambahin karena udah malem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s