Kerja Kelompok dan Apresiasi

Jadi, himpunan saya baru saja mendapat ketua himpunan baru. Jujur saja, mungkin saya merupakan salah satu orang yang tidak kaget dengan kemenangannya. Mungkin kalau di tingkat kampus, dia merupakan seorang mahasiswa yang biasa-biasa saja. Tapi dia mencalonkan diri dengan dasar satu sikap, dia cinta dengan himpunan, itu saja. Belum lagi, dia memiliki tim kampanye yang sangat solid dan sangat mendukung. Kalau lihat dia saat masa kampanye, segala macam cara dilakukan untuk mempublikasikan ketua himpunan baru tersebut, jadi kerasa banget deh pekerjaan dia dan tim suksesnya. Jadi, bisa disimpulkan bahwa memang dia layak menang. Selain ada niat yang murni, juga didukung oleh tim yang solid. Terbukti deh jadinya teori 1+1=3 kalau bekerjasama, apalagi didasarkan oleh hati. Semoga saya bisa bantu, deh.

Kalau soal apresiasi, temen saya cerita lain lagi. Ceritanya, ada beberapa teman yang merasa pekerjaannya kurang diapresiasi, bahkan cenderung ‘dipekerjakan’ sehingga mereka banyak yang undur. Teman saya bertanya-tanya kenapa mereka malah menjadi undur dan bingung bagaimana cara mengapresiasinya. Sebagai orang yang pekerjaannya jarang banget diapresiasi (ya iyalah, keberadaannya saja jarang disadari), saya tahu kok rasanya, tapi kenapa malah saya tidak undur? Mengherankan.

Emang logikanya kadang-kadang kita capek melakukan apapun yang gak ada hasilnya, dan apresiasi itu, selain merupakan (mungkin) hasil yang diharapkan, bisa juga sebagai cadangan energi supaya lebih semangat, tergantung motivasi juga sih. Kalau motivasi kita emang tulus, biasanya gak ada apresiasi malah gak bikin kesel kok, gak ada apresiasi malah berarti kita lebih bebas berkreasi, dan dari situ ketauan siapa yang beneran tulus sama yang enggak.

Terus kalau minta diapresiasi gimana dong? Apresiasi itu bukan sekedar terima kasih di mulut saja. Apresiasi itu bisa dari hal kecil, seperti membantu kalau bisa, nanyain kabar atau perkembangan, dateng ke acaranya, dan hal-hal lain yang mungkin dirasa cukup, seperti beliin makanan kalau yang bersangkutan belum sempat makan, dan hal lainnya. Sama, satu lagi, JANGAN PERNAH MINTA orang tersebut untuk seperti kita baik secara langsung ataupun tidak langsung. Contohnya, dulu waktu kita mengerjakan suatu hal, kita bisa multitasking dan hasilnya bagus. Sekarang adik kita kendalanya mungkin berbeda dengan kita, kalau secara tidak langsung mungkin mereka agak sedikit memiliki beban berat. Kalau hal ini, saya pernah merasakan. Punya kakak yang super (entah itu kakak kandung, kakak mentor, senior, atau kakak PA) emang kadang-kadang bikin minder. Bahkan pernah ada satu waktu saya tidak mau mengerjakan sesuatu seperti kakak saya karena takut dicela habis-habisan. Tapi saya tetap jadi diri sendiri aja, siapa tau bisa berimprovisasi, dan hasilnya bisa dilihat, lah, walaupun masih sering dicela orang.

Udah dulu ya,maaf kalau mendadak random.

*postingan pertama pake firefox for bubuntu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s