What a small world

Kalau dibilang, keluarga saya di ITB makin lama makin besar aja. Apalagi keluarga di Nav dan di himpunan, yang kalau dibilang udah seperti ‘zona nyaman’ buat saya.

Dulu, kalau bisa dibilang, di Navs dan di himpunan saya gak kenal siapa-siapa, pokoknya bisa dibilang super newbie deh. Tapi, lama kelamaan saya jadi banyak kenal dan dikenalkan dengan banyak orang, yang ternyata relasinya gak jauh-jauh amat. Hal ini makin kentara bahkan ketika saya PA sama Ci Wiewiek yang kerabatnya tersebar di seluruh Indonesia, bahkan seluruh dunia.

Alkisah, Ci Wiewiek sering banget cerita soal kerabatnya yang setelah ditelusuri masih ada hubungan kerabat dengan orang lain yang kerabatnya Ci Wiewiek juga (nahloh pusing). Contohnya begini. Ci Wiewiek kenal sama adik PA saya yang orang tuanya merupakan senior dari Ci Wiewiek (adik PA saya sempat bingung saat saya cerita). Atau orangtua teman anaknya memiliki saudara yang merupakan saudara PA beliau. Begitu ceritanya. Panjang deh, bahkan kadang-kadang cerita tersebut bikin saya kagum sekaligus melongo. Bagian paling serunya, Ci Wiek pernah memuridkan isterinya sepupu saya (dan beliau bengong pas saya cerita). Ya, pokoknya intinya adalah kalau ditelusuri pasti ada aja hubungannya, dan pastinya selalu bikin kagum aja, kok bisa yaa.

Saking seringnya diceritain soal relationship, akhirnya giliran saya yang kebagian cerita relationship super panjang itu. Selain cerita tentang kakek saya (bukan kakek kandung, beliau adalah adik dari ibunya ayah saya) yang dosen di kampus saya dan temennya bokap yang dosen juga (dan beliau penasaran banget sama saya), ada cerita lain lagi. Mungkin bisa dibilang bikin bengong, atau bikin ketawa sedikit lah.

Pertama, saya diberi amanah untuk membimbing adik PA saya membimbing orang lain lagi. Nah, orangtua dari orang tersebut ternyata junior dari orang tua adik PA saya (dan hal tersebut bikin adik PA saya bingung, kenapa sepertinya semua orang kenal orangtuanya. Haha). Orang yang akan dibimbing tersebut malah lebih bingung lagi, kok kayaknya cuma berputar di situ-situ aja ya. Ci Wiek malah odah cerita ke ibu dari orang yang akan dibimbing oleh adik PA saya. Mungkin beliau malah bingung.

Kedua, soal angkatan 2011 di jurusan saya yang tiga digit terakhir NIM-nya sama dengan saya (istilahnya: adik NIM). Nah, hal ini membuat hampir semua orang yang kenal saya di kampus bisa tertawa terbahak-bahak, bahkan mengira saya bercanda. Ceritanya, adik NIM saya namanya sama dengan salah satu partner-in-crime saya, suaranya juga mirip. Bedanya, dia lebih tinggi sedikit. Fakta lebih unik lagi, adik NIM saya di-PA-kan oleh teman sekomunitas PA saya juga. Jadi, gak boleh marah-marah. Partner-in-crime saya malah pernah menanyakan kepada saya, gantengan mana partner-in-crime saya dengan adik NIM saya. Haha.

Itu aja dulu. Mungkin soal relasi yang kalau ketemu ada ujungnya itu bisa dibilang kebetulan, kata sebagian orang dan siapa suruh kebanyakan kerabat. Tapi menurut saya bisa saja itu bukan kebetulan. Bisa saja karena komunitas yang sehat itu seperti itu, ya jadinya ketemu sama yang itu lagi, walaupun gak direncanakan. Atau mungkin ada ide lain?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s