everybody has their plus side, even in a small things

Jadi, Selasa kemarin ceritanya saya ketemuan sama Lala (bukan nama sebenarnya), adik PA-nya teman saya. Ketemuan sama Caca tuh ceritanya buat bahas serah terima jabatan sebagai penjaga database. Dan, ternyata, acara serah terima jabatan itu malah beleber ke arah lain.

Semua berawal dari suatu pertanyaan simpel saya buat Lala:

“Gimana adik PA? Udah sampai mana ceritanya?”

dan dijawab,

“Kak, sampai sekarang belum diwaro nih.”

Yaudah, dari kalimat itu, berujunglah pada curhat si Lala, bagaimana jadi kakak PA yang baik, karena, seperti saya dua tahun lalu, dia merasakan hal yang sama. Minder.

Memang, secara tidak langsung, kami diperhadapkan pada penilaian sekitar, dan mungkin malah jadi beban sendiri, bahwa seorang kakak PA haruslah orang yang super, minimal IP-nya x.xx, gak pernah bercacat cela, rajin ibadah, dan lain-lain yang bisa bikin orang lain bilang, bahwa kakak PA itu harus jadi teladan (dengan standar setinggi itu).

Dulu, mentor dan kakak PA saya juga seperti itu. Bahkan saat itu, stigma yang sama juga melekat di otak saya. Bagaimana tidak, melihat mentor dan kakak PA teman saya yang kumlaut, bisa jadi asisten (dan salah satunya asisten praktikum saya), jadi menteri K*, BP di himpunan, fastrack pula. Kalau ceritanya si Lala, dia malahan lebih minder karena kakak PA-nya, kalau bisa dibilang, superwoman, karena sesuai dengan kriteria yang saya ceritakan di atas.

Lalu, saya memulai dengan satu pertanyaan,

“Kalau kamu punya kakak PA yang sakit enam bulan, pernah dapat E pas kuliah, mau nggak?”

Lala bilang, tidak.

Saya bilang, “La, itu saya.”

Dan, dia cuma bisa bilang, “Beneran?”

Yaudah, langsung saja saya cerita tentang masa awal saya memulai kelompok Lele Maskoki entah-apa-namanya. Masa dimana saya menolak, terus saya sempat sakit sehingga buat PA aja susahnya (karena sambil ngejar matakuliah biar lulus semua, capek cin ngulaaangnyaa), dan, saya membagikan kalimat dari Mba Upi yang sampai sekarang menguatkan saya:

Kalau mau menolong orang, kekuatan kamu di lutut (doa) bukan mulut. Tuhan panggil orang yang mau, bukan yang mampu. Kalau kamu mau, Tuhan pasti mampukan, kok.

Terus saya cerita lagi, walaupun saya tau kelemahan saya segambreng, tapi saya juga harus usaha dong buat jadi kakak PA yang baik (baca : jadi teladan). Ya, sesuai sama pernyataan di atas, kalau saya mau, pasti dimampukan, dan itu jadi semangat buat saya biar bisa bertindak sungguh-sungguh.

Terus, hubungannya sama judul di atas?

Ceritanya lanjut lagi nih, saya ngingetin juga ke si Lala, “Mungkin kamu gak sesuper orang-orang di atas, tapi pasti akan ada plus-side, atau sesuatu yang bisa dibanggakan dari kamu, dari adik PA-mu. Misalnya aja, kamu bisa diajak ngobrol bareng, hampir selalu punya waktu kosong untuk menyempatkan PA, dan orangnya sabar. Sebagai contoh, walaupun saya mungkin dibilang gak punya prestasi menonjol banget, seorang partner-in-crime saya, (now he is Mr. President, but he hasn’t told me yet, my friends DOES.), pernah bilang gini:

“I envy you because I see that you has a lot of extra time, to study happily, finish the tasks without thinking of the super busy agenda, mingle with our friends, and also having time helping others, such as being lecture assistants at the class.”

Nyes gila. Seseorang dengan jabatan supergila lho yang ngomong kayak gini.”

Yeah. Even a superstar will envy with the ordinary human, and vice versa.

Lalu gw bilang ke Lala, “Kamu punya kelebihan kok, La. Mungkin dengan jurusan kamu, atau kemauan kamu, atau kepribadian kamu, pasti ada kok, cuma suka gak nyadar aja, dan mungkin keadaan sekarang bisa bikin kamu jadi teladan, di antara kuliah yang super hectic bisa bagi waktu? Cuma Tuhan yang bisa bikin kamu kayak gini, dan itu akan jadi kesaksian kamu nantinya. Mungkin orang gak bakal inget kamu sebagai si kumlaut, tapi sebagai orang yang bisa lulus tepat waktu dengan hasil baik tapi masih punya waktu buat orang lain. Banyak lho orang yang ingin seperti itu. Kadang aku juga minder dengan adik-adik PA-ku. Yang satu banyak yang ngelamar jadi koordinator ini dan itu, bayangin, dilamar orang lho, yang satu lagi levelnya udah dunia. Mungkin kalau bukan Tuhan yang mampukan, udah mundur teratur kali akunya. Tapi, puji Tuhan aku dimampukan untuk nolong mereka, dengan punya waktu dan bisa buat ngigetin kalau ada salah dengan elegan. Kalau dalam menolong, bukan mereka yang belajar, tapi kita, dan aku udah pernah merasakannya. Tunggu aja waktunya, sementara ini doain aja dulu, kalau dikasih waktu untuk ketemu, manfaatin bener-bener.”

Oiya, tulisan ini bukannya untuk membenarkan dosa-dosa saya ya, tapi untuk lebih membangkitkan semangat Lala-Lala lain yang ingin menolong orang, tapi terkendala perasaan gak mampu dan minder. I’ve been there. Cuma kalau misalnya emang kamu sibuk dengan jadi BP atau punya jabatan segambreng, jika dikasih kesempatan buat nolong orang lain, yasok aja, jarang lho ada orang yang punya kesempatan kayak kamu, apalagi punya plus side kayak gitu. Ada juga orang yang ngomong, kalau Tuhan juga panggil orang yang sibuk. Mengapa? Karena mereka lebih bijak dalam menggunakan waktu yang ada. Mungkin juga kamu bisa jadi inspirasi buat orang yang kamu tolong, benar?

Tapi, sebenarnya, setelah menolong biasanya jadi terpacu buat ningkatin akademik dan berusaha sebaik mungkin, buktinya sekarang saya malah jadi lebih baik hohoho. 

Sebenarnya, biar seru dalam proses belajar bersama ini, setelah berdoa untuk memulai, ada satu kalimat sakti yang sering saya ucapkan kepada semua yang saya tolong,

“Disini kita belajar bersama, kalau ada kekurangan, boleh saling mengingatkan, ya!”

dan kalimat itu memang memotivasi sekali, semua jadi saling termotivasi, dan menimbulkan rasa saling membangun.

Maaf panjang dan gak jelas. Pada saat saya ngomong dan nulis lagi, memang rasanya seperti mengingatkan kembali diri sendiri. Maaf juga kalau ada salah kata.

dengan sedikit perubahan.

Januari 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s