pray without ceasing

*sama seperti minggu lalu, temanya masih tetap doa*

Jumat lalu, saya nonton Kick Andy yang membahas tentang orang yang menunggu untuk memiliki anak sampai kira-kira 21 tahun lamanya, bahkan, ketika ditawarkan cara-cara alternatif, mereka malah memilih untuk setia berdoa dan berusaha dengan cara yang seharusnya.

Hari ini mama saya cerita kalau bapak saya ditawarkan lanjut ke S3, padahal tadinya bapak saya iseng nanya buat naikin level pendidikannya dari MA ke M.Th ke salah seorang petinggi STT di Pulau Jawa, mumpung ketemu pas hajatan (yang pastinya bikin saya tambah bingung, terus saya harus kuliah sampai setinggi apa?). Tapi, bukan itu poinnya, ada satu poin lain yang lebih bikin saya tergelitik.

Mama saya cerita, kalau bapak saya disuruh bikin surat permohonan ke seseorang, yang merupakan bapak rohani dari bapak saya, dan orang yang nyuruh bapak saya itu ga tau sebelumnya kalau ternyata bapak saya sudah kenal sama tujuan pengiriman surat. Nah, pas bapak saya cerita kalau yang bakal dikirimin surat itu ternyata udah dia kenal sejak dulu kala, yaudah orang tersebut bingung. Malahan, mama saya bilang ke bapak saya, kalau bapak saya minta surat rekomendasi dari bapak rohaninya, mungkin aja responnya bakal beda, mungkin aja bapak rohani dari bapak saya akan menjadikan ini sebagai sebuah kesaksian karena HAL INI SUDAH DITUNGGU SELAMA LEBIH DARI 30 TAHUN. 

Ceritanya, dulu bapak saya dianjurkan untuk lanjut ke sekolah theologia, tapi beliau gak mau, malahan maunya kerja saja. Mungkin saja bapak rohani dari bapak saya mendoakan selama beberapa tahun, terus mungkin saja sudah lupa dan buku permohonan doanya yang menuliskan hal ini udah ganti (memang bapak rohani dari bapak saya selalu menuliskan pokok-pokok doa dalam sebuah buku agenda, saya lihat pas ketemu di Singapura). Tapi, yang saya dan orang tua pelajari, walaupun kita udah lupa pernah mendoakan hal tersebut, tapi arsip Tuhan gak hilang, bisa aja pas kita udah beneran pasrah dan gak mau mengingatnya, Dia kabulkan, tepat pada waktunya. Bagian kita cuma berusaha dan sabar menunggu.

Yaudah deh, denger cerita ini saya dan keluarga jadi lebih dikuatkan, bahwa Tuhan itu gak selamanya mengabulkan doa secara instan, mungkin aja selama nungguin jawabannya gak enak, tapi manis di akhirnya.

Agak sedikit out of topic sih, tapi sempet kepikiran juga, kalau misalnya bapak rohani dari bapak saya khotbah di gereja saya di Bandung, serumah saya bakal heboh kali, ya. Terakhir aja pas saya cerita kalau temennya khotbah di gereja saya aja bapak saya udah heboh -__-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s