don’t be afraid

memang saya agak tertampar dengan judul di atas, apalagi ketika mengingat resolusi pas mentoring, dimana saya mau lebih peka lagi dengar-dengaran suara Tuhan.

Semua berawal ketika Jumat pagi saya ditelpon Kang Asep buat cek alat, saat saya udah siap menerima kenyataan kalau berangkat bakal diundur karena suratnya ga nyampe-nyampe padahal selalu difollow-up ke sananya. Lalu siangnya tiba-tiba dosen pembimbing kedua sms saya kalau Senin ini saya disuruh untuk briefing, tepat sebelum saya memutuskan untuk agogo kulap osling. Langsung saja saya kroscek ke Mas Reza,nanyain jam berapa kumpul, dan sebenarnya berangkat sekitar tanggal berapa. Sambil menunggu jawaban, saya mengikuti briefing kulap osling dan melihat kenyataan bahwa nama saya gak ada di pembagian kelompok. Setelah itu, Mas Reza balik jawab kalau saya berangkat gak bakal lama lagi, dan pas saya nanya surat saya dimana, ternyata ada kemungkinan kalau surat saya nyasar. LANGSUNG BAHAGIA SEKALIGUS PANIK.

Telpon orang rumah, untuk bilang kalau berangkatnya dipercepat. Terus sms Bu Sans kalau saya tiba-tiba harus agogo sehingga ga ngerti lagi UAS saya gimana, untunglah Bu Sans pengertian dan UAS saya menunggu saya pulang saja.

PA sama Hanni Icha Nanda, berbagi tentang banyaak sekali, mulai dari pemuridan sampai belanjaan. Lalu ikut sertijab Chandi. Sambil nunggu sertijab Chandi, saya nelpon MbakUpita, untungnya beliau gak ngamuk karena aku ke lapangan, tapi pesan beliau cuma satu,

Jangan takut, yakin saja akan penyertaan Tuhan

Keesokan harinya, PA di rumah Ci Wiek. Lanjut sesi curhat tentang keberangkatan TA dan masalah yang belum selesai sampai sekarang. Pas PA, kebetulan lagi ada Mas Agung juga, lalu bersama beliau pun berbagi juga, mulai dari kelas agama sampai penggunaan lampu LED. Dan pesan yang diberikan juga sama,

Jangan takut, selama ini kan Tuhan selalu sertai, pasti kali ini juga. Jangan lupa, penerapan PA-mu kali ini langsung di lapangan lho. Jaga kelakuan.

Bukannya bagaimana, dalam situasi saya yang tidak stabil selama seminggu ini, yang menyebabkan mudah emosian, stres, bahkan sering menangis, ternyata sebagian besar firman Tuhan yang saya renungkan tiap pagi temanya sama, Jangan takut.

Fear not, O land; be glad and rejoice: for the Lord will do great things. (Joel 2:21, KJV)

Say to them that are of a fearful heart, Be strong, fear not: behold, your God will come with vengeance, even God with a recompence; he will come and save you. (Isaiah 35:4, KJV)

Ibadah Minggu ini juga membahas hal yang sama, jangan takut dan kuatir.

Maka, saat saya ketakutan dan kuatir, apalagi dalam keadaan sekarang yang saya rasa saya tidak sanggup menjalaninya, Tuhan berbicara berkali-kali kepada saya, jangan takut. Rasanya saya ingin menangis, dan, saya ingat kembali bahwa Ia selalu bersama dengan saya, walaupun saya dalam keadaan sangat di bawah sekalipun. Masalahnya sekarang, memang kekuatiran saya sering menghambat saya untuk menyerahkan semua beban ketakutan ini kepada Tuhan.

Maka, hari ini, ketika saya mulai takut lagi dan kuatir lagi, saya bisa mengatakan kepada Tuhan, ampuni saya karena masih takut dan kuatir, padahal Engkau berulang kali mengatakan, “Jangan takut.”

Why, my soul, are you downcast?
    Why so disturbed within me?
Put your hope in God,
    for I will yet praise him,
    my Savior and my God.

(Psalm 42 : 5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s