quickie story about geothermal survey and social impact

DISCLAIMER : I’m not an expert in geothermal, yet a worker in that (but soon to be, in about a month). This is just my opinion, nothing more or less. Maaf juga kalau ke ujung makin ga jelas.

Iseng-iseng baca berita tentang penolakan pembangunan geothermal field, saya jadi inget pengalaman TA lapangan saya yang belum sempat dipublikasikan. Ceritanya, bulan lalu saya ikutan sama salah satu badan pemerintah (sebut saja P) buat survei prospek geotermal di suatu daerah di Lampung. Awalnya sih pas research seru-seru aja, malahan menurut saya malah lebih seru di sini daripada Karangsambung (lagian ngeliat singkapan aja udah kayak ketemu harta karun aja)
Saya jadi ingat, pas hari-hari awal survei, saya sempet nanya sama pimpinan proyek saya:

ME : Pak, nanti kalau ternyata di sini prospeknya gede, terus dibangun pembangkit listrik, penduduk yang tinggal di sini gimana? Digusur, gitu?

PP : Ah, enggak kok, ga bakal digusur, paling juga kita beli tanah mereka barang satu atau dua hektar buat pipa sama sumur, kan pembangkit listrik panas bumi gak kayak ladang minyak yang butuh lahan gede. 

ME : Oh, gitu ya, Pak. Tadinya saya udah takut aja mereka digusur, kasian juga ngeliatnya, ternyata enggak toh. Sip deh kalau gitu, Pak.

Memang pertamanya saya takut kalau proyek yang saya kerjakan bisa menggusur lahan orang seperti lahan minyak, namun ternyata kata pimpinan proyek saya sih enggak juga kemungkinannya. Jadi, bisa dibilang dampak sosialnya untuk sementara gak gede-gede amat. Dan, ternyata, pas saya di sana, ada satu hal juga yang mungkin gak dipelajari di kampus, tapi saya pelajari di lapangan :
SEBAGUS-BAGUSNYA PROSPEK GEOTERMAL, TANPA DUKUNGAN PENDUDUK SEKITAR, GAK ADA GUNANYA.
Mungkin kalau saya lihat, selama saya disana, hari-hari pertama diisi oleh briefing dari kepala tim saya dengan para helper yang merupakan tukang ojek dan buruh tani di daerah tempat kami survei. Sebagian besar waktu briefing digunakan kepala tim saya untuk menjelaskan kegunaan geotermal kepada para helper, salah satunya, untuk pembangkit listrik agar mereka gak keseringan kena pemadaman listrik, yang mungkin setiap dua hari mereka rasakan. Kalau mereka belum mengerti, besoknya dilanjut lagi. Kalau briefing tentang setting alat mungkin cuma sebentar, sampai kadang saya mikir, sebenernya ini briefing apa penyuluhan?
Kepala tim saya juga pernah cerita kalau selama saya dan tim saya tinggal di sana, kami harus hormat kepada pak kades, pak kadus, dan semua warga. Tidak boleh membuat mereka kecewa. Itulah yang dikatakan sekaligus diteladankan oleh ketua tim saya, walaupun beliau kadang-kadang lawak juga sih. Yang pasti, ketua tim saya selalu menekankan, apapun yang kita lakukan di sana dalam rangka mencari prospek, walaupun bagus, tanpa dukungan dari masyarakat tetep gak ada gunanya. Mending santai aja di Bandung kalau gitu daripada capek-capek naik gunung sampai malam.
Selama di sana, setelah diberitahu demikian oleh kepala tim saya, saya jadi semangat dalam melakukan penelitian bersama mentor saya. Melihat penampilan kami yang cukup aneh, kadang kala kami memang harus menjawab pertanyaan dari penduduk sekitar yang penasaran tentang apa yang kami lakukan. Tentu saja saya belajar sabar dari mentor saya yang selalu menjelaskan dengan bahasa yang sederhana mengenai gravity dan panas bumi.Pendekatan secara sosial tersebut, baik secara langsung maupun tidak, ternyata mempengaruhi berjalannya reseach kami. Bahkan, tak jarang, penduduk setempat memberikan data yang kami minta tanpa kami tanyakan, seperti keberadaan mata air panas dan anomali geologi yang menunjukkan keberadaan potensi panas bumi.Yang paling membuat saya menjadi lebih semangat, ketika sedang ditugaskan jaga camp, kemudian hampir setiap hari ada pemadaman listrik, padahal camp kami berjarak hampir 15 km dari PLTA, saya bahkan juga sempat riset di PLTA tersebut. Kan aneh -.-. Dari pengalaman tersebut, saya jadi ingat percakapan saya sama Pak Kadus yang rumahnya saya tumpangi selama riset,

PK : Begini, Dek, saya dan orang-orang di sini ingin berusaha agar kalian kerasan riset di sini, karena kami yakin bahwa yang kalian lakukan pasti akan membawa manfaat bagi daerah kami.

ME : Amin, Pak. Saya harap begitu. Saya juga kasihan lihat di sini sering mati lampu.

Pas pengolahan rawdata pertama, saya sempat degdegan dengan hasilnya, takutnya saya mengecewakan Pak Kadus, Pak Firman, Pak Rohmadi, Pak Santo, dan Pak Hendrik serta penduduk sekitar. Apalagi, saya sempet mau nagis ketakutan pas nunjukkin hasil processing saya sama ketua tim. Pas ngeliat hasil saya, ketua tim saya cuma bilang,”Hasilnya bagus.” terus dia manggil semua orang buat liat. kayaknya sih hasil perjuangan semua orang kebayar, soalnya dari metode saya keliatan kalau prospeknya bagus.
saya langsung sms mentor saya untuk bilang terima kasih. rasanya seneng banget.
dan, sebelum pulang, saya bisa bangga bilang ke Pak Kadus, pas beliau nanya prospek dari riset kami,

“Pak, kemarin saya olah data, hasilnya ternyata prospeknya cukup baik, untuk sementara. Semoga bisa dilanjutkan supaya di sini ada pembangkit listrik ya, Pak, biar di sini tidak usah sering mati lampu lagi.”

Semoga nanti setelah pengolahan data terangkum semua, hasilnya menjadi cukup baik, sehingga, asa penduduk tempat riset saya, agar tidak sering mati lampu lagi, bisa terwujud. Amin.

Kesimpulannya, ternyata kalau pas survei ada pendekatan sosial dengan bahasa yang sederhana, niscaya penduduk sekitar pada terima-terima saja, bahkan berharap besar. Apalagi kalau apa yang dilakukan akan membawa manfaat besar bagi mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s