Some things about Myanmar

Last month, I was having my first overseas business trip to Yangon, Myanmar (later we called it as MTrip). In my opinion, Myanmar is a mysterious country, because the information that you gathered on Internet is not as same as reality and also with the knowledge from the embassy.

*switch to Bahasa Indonesia*

Buat bangsa Indonesia, Myanmar merupakan salah satu negara yang bisa dikunjungi buat backpackingan seru! Percaya nggak, di luar penginapan dan tiket pesawat, saya cuma mengeluarkan biaya 40 USD untuk 4 hari, atau setara dengan Rp 600.000,- (kurs 1 USD = 12k rupiah), dan 50% nya buat oleh-oleh kayak postcard, kaos, dll. Itu aja udah bikin koper penuh. Jadi, buat yang pengen wisata buat nambah pengalaman aja, bisa murah banget ~

Langsung aja ya, ini beberapa bocoran kalau misalnya pengen ke Myanmar (info per September 2014, bisa aja ganti)

1. Ibukota Myanmar namanya Naypyidaw (CMIIW), bukan Yangon. Baru pindahan beberapa waktu lalu.

2. Khusus Warga Negara Indonesia, Vietnam, Kamboja, Laos, dan Filipina, KE MYANMAR BEBAS VISA. Artinya cukup bawa paspor tanpa harus apply visa ke kedutaan. Asal cuma tinggal di sana kurang dari 14 hari. Info ini valid dari petugas kedutaan, dan buktinya saya sendiri lolos meja imigrasi sana.

3. Gak ada penerbangan langsung ke Myanmar. Harus transit Singapura, KL, atau Thailand. Silakan pilih yang termurah sesuai skyscanner.com. Jangan lupa pas pesan tiket pesawat untuk mencantumkan opsi halal food/muslim food untuk yang berpantang, jika penerbangannya menyediakan makanan.

4. Untuk soal hotel, saya kurang tahu karena dipesankan sponsor. Tapi, berdasarkan info yang beredar, hotel-hotel bintang 3 ke atas harga kamar per malam sekitar 60 – 90 USD, dan sudah dilengkapi sarapan pagi. Kalau untuk hostel saya kurang tahu, karena dikasihnya hotel.

5. Mata uang Myanmar, kyat (dibaca : chat) hanya bisa ditukarkan di money changer di Myanmar. Dari Indonesia sebaiknya bawa USD yang mulus tak bercacat, kalau bisa ada pecahan-pecahan kecilnya biar ngga ribet.

6. Konvensi di Myanmar : 1 USD = 1000 kyat, tapi di money changer biasanya harganya beda, 1 USD antara 800 – 950 kyat, tergantung nominal USD yang ditukarkan dan keberuntungan. Saran saya, kalau misalnya datang berkelompok, barengan aja nukerin ke kyat pake lembaran 100 USD, bedanya per 1 USD bisa 50 kyat. Kan lumayan😀
PS : nuker di bandara sama bank lokal sama aja.

Oiya, pada beberapa daerah turistik, bayarnya pake USD, seperti kalau mau masuk ke Shwedagon Pagoda. Makanya bawa nominal USD yang kecilan (seperti 1 USD) dan lembarannya bagus, supaya bisa bayar pake uang pas. Berdasarkan pengalaman, kalau bayar pake nominal gedean, suka dikasih kembalian pake lembaran yg bulukan, dan mereka ngga mau nerima USD yang bulukan.

Sama, tukarkanlah USD dengan kyat secukupnya, kecuali mau menjadikan lembaran kyat sebagai kenang-kenangan ketika tiba di Tanah Air.

7. Tempat wisata yang terkenal : Yangon, Bagan, Mandalay. Tapi saya baru ke Yangon aja. Sila googling tentang ketiga tempat tersebut.

8. Untuk para penggemar sarung dan sendal jepit, saya sarankan agar kedua benda tersebut dijadikan benda wajib selama di Myanmar, karena semua orang pake sarung dan sendal, mulai dari kuli bangunan sampai pejabat negara. Oiya, sarung mereka namanya longyi (atau longji). Bahannya lebih kaku dari sarung yang biasa dipake ke mesjid.

Kalau mau ngasih kenang-kenangan ke warga lokal, sebaiknya sarung khas Indonesia, karena pasti kepake. Apalagi kalau ngasihnya sarung batik.

9. Soal makanan dan minuman, harganya relatif sama dengan di Indonesia, tapi wine dan beer jauh lebih murah karena di Myanmar ada kebun penghasil anggur dan gandum. Selama di sana saya puas nge-wine agar alergi tidak kumat.
Sebagai contoh:

  • harga mi instan cup sekitar 300 kyat atau sekitar 4000 rupiah.
  • bir satu kaleng sekitar 900 kyat atau sekitar 10000 rupiah

di hotel tempat saya menginap, harga bir dan wine sama dengan harga jus.

10. Untuk teman-teman muslim, soal makanan halal saya kurang tahu, tapi setahu saya sudah ada beberapa muslim restaurant di Myanmar, seperti di dekat Shwedagon Pagoda. Namun, kata dosen saya yang muslim, sebaiknya kalau mau makan di resto coba cek dulu apakah mereka menyediakan menu bab*ik atau tidak, atau lebih baik pilih opsi vegetarian saja (di Myanmar banyak vegetarian food juga). Jika terlalu waswas, beberapa makanan instan di minimarket Myanmar sudah mencantumkan opsi halal, bahkan sebagian diimpor dari Indonesia dengan bungkus yang umum kita lihat🙂

11. Kalau misalnya mau naik taksi, sebaiknya minta tolong orang lokal untuk menawar tarif taksinya, agar tidak kena tipu. Taksinya nggak pake argo soalnya. Biasanya tarif orang lokal sama orang asing beda antara 500 – 1000 kyat.

12. Banyak nanya sama orang lokal, terutama yang bisa bahasa Inggris, terutama kalau mau pergi kemana-mana. Minta tolong dituliskan alamat yang akan dituju dengan bahasa Myanmar, biar nggak nyasar dan diputar-putar.

13. Butuh peta gratis? Bisa diambil di Tourist Center di Bandara. Bahkan kadang di hotel tersedia juga atlas kota yang bisa dipinjam.

14. Anda butuh kartupos? Bisa dicari di Yangon Central Post Office, Bogyoke Market, atau di Airport. Kalau pengirimannya bisa ke Yangon Central Post Office atau di Airport Post Office, cuma waktu terimanya cukup bertaruh sih. Bisa nyampe atau enggak.

Biaya kirim ke luar negeri dari Myanmar : 500 kyat pake perangko, 1000 kyat buat registered mail.

15. Suka nawar kalau belanja? Silakan gunakan skill ini saat beli oleh-oleh. Barang-barang bisa ditawar harganya, bahkan bisa diskon kalau belinya banyakan.

16. Yang terkenal dari Myanmar adalah kerajinan batu jade sama pagodanya, jadi, kalau mau cari suvenir, ya sekitar tema itu lah. Kata yang suka sama perhiasan, kalung sama gelang batu jadenya bagus dan murah🙂 Bisa lah dijadikan opsi oleh-oleh.

Kalau gantungan kunci sama gelang umumnya harganya 1 USD, boleh ditawar kak kalau beli banyakan.

17. Sebagian besar bangsa Indonesia, terutama suku tertentu, mukanya mirip dengan warga Myanmar lokal. Contohnya, saya. Bahkan beberapa kali saya diajak ngomong pake bahasa Myanmar karena disangka orang lokal.

*kejadian ini juga terjadi di Thailand*

Sebaiknya kemiripan ini jangan digunakan untuk beberapa keuntungan sesaat, seperti masuk ke taman hiburan. Beberapa taman hiburan memungut tarif masuk hanya bagi warga asing, warga lokal gratis, ya, jadi jangan nyamar ya :p

Sementara itu dulu ya, semoga membantu kalau ada rencana pengen ke Myanmar, kali aja ada rejeki dan tentunya promo tiket😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s