Pengalaman Daftar S2 di ITB

Ceritanya, yang punya blog ini udah ganti status.
Bukan status single jadi in a relationship (eh tapi kalau yang ini semoga sesegera mungkin), tetapi dari freelance researcher jadi grad student. Minimal ada status kerjaan yang jelas dulu deh setahun ke depan.

Berdasarkan timeline hidup saya sebelum 25 tahun, memang sudah direncanakan kalau tahun 2015 atau 2016 saya akan melanjutkan studi, dan atas anugerah Tuhan emang dapetnya di kampus gajah (lagi). Bukannya anaknya susah move on, tapi memang dikasihnya disini.

Sebenarnya saya sudah daftar di sps itb acid dari saat pendaftaran November 2014 dan Maret 2015, namun karena waktu itu dana belum tercukupi dan masih dalam proses seleksi di suatu perusahaan, makanya saya gak lanjutin. Baru pas April 2015 hati ini mantap untuk lanjutkan studi. Untuk urusan biaya, saya percaya, kalau Tuhan yang nyuruh buat kuliah pasti dananya cukup kok.

Syarat-syarat buat daftar S2 ITB cukup mudah kok dicarinya (dikutip dari sps itb acid), tapi yang saya bahas cuma buat yang Teknik Geofisika yaa

  1. Memenuhi nilai minimum TOEFL ITP 475 atau ELPT 77 dan TPA Bappenas >= 475
  2. Isi formulir online. Isiannya gak susah kok, cuma data diri, alamat, dulu s1nya dimana, dan pernah kerja dimana. Karena saya masih freelance, maka bagian pekerjaan saya kosongkan.
  3. Bukti biaya pendaftaran sebesar Rp. 400.000,- yang dikirim melalui BNI Perguruan Tinggi Bandung, Rekening Penampungan BPP S2/S3 (SPS) No. 0900001035, Jln. Tamansari No. 80 Bandung. Bayarnya bisa di BNI mana saja.
  4. Pernyataan tidak pernah drop out atau mengundurkan diri dari ITB (di atas materai Rp. 6.000,-). Format ada di formulir tambahan magister
  5. Salinan ijazah S1 yang telah dilegalisasi
  6. Transkrip Akademik yang telah dilegalisasi
  7. Foto berwarna 4cm x 6cm sebanyak 3 lembar, klise terbaru
  8. Surat Rekomendasi dari 2 orang (dosen atau atasan). Untuk surat rekomendasi, saya minta dari pakbos saya dan dosen pembimbing 1 saya dahulu. Dosen pembimbing 1 saya malah sempat bercanda pas saya minta surat rekomendasi, katanya khusus saya mungkin surat rekomendasinya satu saja. Nanti saja jelaskan mengapa.
  9. Formulir Tambahan Magister. Di formulir tambahan ini ada lembar yang harus diisi, yaitu daftar prestasi, kegiatan, dan publikasi; serta esai mengapa kita mau mengambil kuliah S2 di ITB.
    Untuk lembar daftar prestasi, kalau memang gak ada boleh dikosongkan, tapi jangan lupa kumpulkan lembar kosongnya pas pengembalian berkas.
    Untuk lembar esai, sejujurnya waktu itu saya bingung mau nulis apa. Akhirnya saya cerita kalau saya mau ngambil kuliah s2 lagi karena emang dari kecil mau jadi geopipis dan pas saya riset, ternyata saya butuh belajar lagi. Selain itu, saya juga menulis kalau nanti sudah lulus bercita-cita jadi geopipis spesialis geoteknik, biar bisa membantu pemerintah bikin bangunan yang bagus.
    Saran saya, untuk formulir tambahan ini, isilah sejujur-jujurnya. Pewawancara suka sekali membahas bagian ini, dan terkadang cukup menentukan lhoo.
  10. Sertifikat Nilai Asli Bahasa Inggris (Score Report) . Saya pakai hasil dari ELPT ITB – daftar di UPT Bahasa ITB, di Labtek 8, harganya cuma Rp. 75.000,- tapi saran saya daftarnya jauh-jauh hari biar ga deg-degan, apalagi kalau mepet waktu pendaftaran. Waktu itu saya daftar awal Maret, dapet tanggal tesnya pas 17 April pas ulang tahun si partner-in-crime Hasilnya lumayan lah, ternyata postcrossing lumayan membantu meningkatkan skill bahasa Inggris saya hahaha
  11. Sertifikat asli Tes Potensi Akademik (TPA).
    atau
    Bagi calon mahasiswa Pascasarjana ITB yang berminat mengikuti TPA membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 325.000,- yang dikirim melalui BNI Cabang ITB, Rekening Penampungan S2/S3 (SPS-ITB) No. 0900001035 Jln. Tamansari No. 80 Bandung (selanjutnya bukti pembayaran dilampirkan dalam berkas lamaran). Karena saya gak sempat urus-urus TPA, jadinya saya ikut tes kolektif di ITB. Ternyata pas saya tes itu diadakan pas bulan puasa, di 10 hari pertama, dan di lantai 4 GKU Timur yang tinggi banget itu jam 7 pagi. Saya sih nggak puasa, tapi masalahnya nyari sarapan dimana ._. Hari sebelumnya lupa nyediain sarapan jadi pagi-pagi ga sempet sarapan. Untung ada biskuit digestive yang bisa dicemil di kamar mandi dan dengan pura-pura batuk saat tes. Hahaha.
    Untuk TPA, saran saya yang penting happy karena benar-benar dikerjakan di bawah tekanan. Gunakan 5 menit pertama buat scanning soal, karena terkadang soal yang gampang itu ada di bagian tengah atau belakang terus soal di nomor-nomor awalnya susah :))
  12. Surat keterangan sehat dari Dokter. Yang ini saya bikinnya di Bumi Medika Ganesha, di Gelap Nyawang. Syaratnya cuma bawa foto 4 x 6 berwarna dan bayar Rp 25.000,-. Pas tes kesehatan ini, saya sempat deg-degan karena saya baru sebulan ikut MCU dan tidak lolos, jadi saya parno takut sakit apa-gitu-yang-parah. Dan ternyata saya sehat-sehat saja.
  13. Berkas lamaran beserta lampiran-lampirannya dimasukkan dimasukkan kedalam 2 map (1 dokumen asli + 1  copy) dan selanjutnya disampaikan sendiri atau melalui pos ke Sekolah Pascasarjana – ITB. Untuk cerita berkas lamaran ini, saya melakukan kesalahan yang cukup fatal, yaitu LUPA MENEMPELKAN FOTO DI FORMULIR dan baru nyadar setelah mengumpulkan berkas :))
    Selain itu, untuk yang suka mengarsipkan dokumen, sebaiknya bikin copy berkas dua kali, karena yang asli untuk SPS, dan yang 1 copy untuk prodi yang kita tuju.

Selain pengumpulan berkas, untuk yang bakal mendaftar di Teknik Geofisika ITB, akan ada tes tertulis dan tes wawancara dalam satu hari. Untuk detailnya biasanya diumumkan H-2 atau H-1 sebelum hari tes via sms oleh Mbak Ibu Lilik. Sebenarnya di sps itb acid sudah ada, hanya saja jadwalnya suka berubah, yang mestinya sehari jadi dua hari, dan sebaliknya.

Untuk soal tes tertulisnya benar-benar tentang kemampuan geofisika. Ada 5 soal esai, dan yang harus dijawab itu cukup 4 saja dalam waktu 60 menit. Soal esainya sih lima, tapi di tiap soal ada subpoinnya. Jadi total pertanyaannya lebih dari 5.
Kisi kisinya :
– Pengetahuan dasar tentang seismik (tentang gelombang dan pengolahan data seismik)
– Pengetahuan dasar tentang geolistrik (biasanya yang keluar tentang VES)
– Pengetahuan dasar tentang gayaberat (biasanya seputar koreksi atau membuat contoh respons)
– Pengetahuan dasar tentang magnetik (biasanya seputar koreksi atau membuat contoh respons)
– Kalkulus dasar seputar vektor, integral, divergen
– Pengetahuan dasar tentang ilmu geofisika itu sendiri
Tiap gelombang soalnya gak pernah sama. Saran saya, belajarlah dari seminggu sebelum jadwal tes yang dipost di sps itb acid. Bahannya cukup banyak soalnya. Yang lulusan s1 Teknik Geofisika ITB aja belom tentu bisa jawab :))

Setelah pusing ngerjain tes tertulis, waktunya tes wawancara, biasanya setelah jam makan siang. Tim pewawancaranya biasanya antara 2 – 4 orang (pengalaman saya dan teman-teman saya) dan pasti ada kepala program studi s2/s3 teknik geofiska dan/atau mantan kepala program studi s2/s3 teknik geofisika.
Pertanyaan tes wawancaranya gak susah-susah amat kok, hanya seputar :
– dulu waktu s1 belajar apa
– kalau sudah bekerja, pekerjaannya tentang apa
– mengapa kuliah lagi
– sumber dana dari mana
– nanti mau mengambil jalur geofisika perminyakan atau terapan
– motivation letter dan lembar prestasi yang dikumpulkan (makanya di bagian ini harus jujur)
– topik skripsi waktu s1 dan jelaskan
– nanti mau tesis tentang apa
– pembahasan materi tes tertulis tadi pagi
– dan pertanyaan-pertanyaan kejutan yang tidak seru kalau dibahas disini

Pada saat saya wawancara, kebetulan yang mewawancara adalah semua dosen pembimbing tugas akhir saya (ada dua) dan satu mantan kaprodi. Karena motivasi saya untuk kuliah sudah diketahui dari saat saya menyusun tugas akhir, maka yang mewawancara saya hanya satu orang, yaitu bapak mantan kaprodi. Kebetulan si bapak mantan kaprodi ini adalah profesor bidang seismik dan jawaban saya di bidang seismik pada tes tadi pagi yang banyak salahnya, dan dulu saya diajarkuliah seismik oleh beliau :)) Aku kan maluuuuu. Setelah itu, bapak dosen pembimbing 2 saya menanyakan pertanyaan yang cukup ambigu, yaitu tentang apakah saya sudah move on dan apakah ada rencana menikah saat kuliah terus kenapa dibahas pas wawancara pak kan saya jadi gak fokus. Kayaknya gara-gara saya sering curhat di lab dan kedengaran oleh beliau nih. Pada akhirnya, bapak dosen pembimbing satu saya hanya ngakak-ngakak di ruang wawancara :))

Khusus untuk lulusan s1 teknik geofisika itb yang mau melanjut s2 itb lewat jalur normal (bukan fast track), ternyata belom tentu diluluskan dengan mulus. Untuk kasus ini, yang lebih mempengaruhi adalah track record di S1 dan kegigihan selama mengikuti tes. Beberapa kakak kelas saya ada yang mengulang sampai 3 atau 4 kali baru lulus lho. Namun untuk pertanyaan wawancaranya, jika lulusan s1 teknik geofisika itb ada bedanya sedikit, tergantung dosennya. Kalau teman saya yang wawancara bareng malah disuruh presentasi ulang tugas akhir-nya tanpa pertanyaan lain karena salah satu tim pewawancaranya adalah penguji saat sudangnya, dan kayaknya nggak puas hahaha.

Selesai dari tahapan yang amat melelahkan itu, tinggal menunggu hasil dari seleksi yang diupload oleh sps itb acid sekitar 2-3 minggu dari tanggal tes wawancara.
Puji Tuhan, saya lulus. Yaudah deh gak freelance lagi.

Hope it helps!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s