Review : Tips of being a non-Moslem women in Nanggroe Aceh Darussalam

Ceritanya awal tahun lalu saya ada survei di Banda Aceh. Buat orang Indonesia, ke Aceh artinya harus berpakaian dan berlaku sopan mengikuti hukum syariat Islam. Nah, kalau laki-laki sih gampang, kalau perempuan gimana?

Sempet googling masalah ini juga, soalnya bingung juga kan pakai baju gimana disana, takutnya salah dan ujung-ujungnya ditangkap polisi syariah. Menurut gossip yang beredar juga katanya perempuan ga boleh pake celana panjang dll dan ga boleh memperlihatkan lekuk badan. Tambah bingung deh. Hasil dari googling bermacam-macam, yang satu bilang harus pake kerudung dan ga boleh pakai celana, yang satu bilang santai aja, boleh pakai celana. Tambah bingung dah.

Akhirnya saya tanya ke teman saya yang asal Aceh tapi dia Muslim, mengenai syarat berpakaian untuk wanita non muslim. Dia bilang sih yang penting sopan, boleh celana panjang, pake syal buat tutup kepala, dan bawa KTP ke mana mana in case kena razia polisi syariah karena pake syal. Jika dilihat KTP-nya nonmuslim sih santai aja. Karena orang Aceh-nya yang ngomong, yaudah saya percaya aja.

Hari berangkat ke Aceh pun tiba. Saya udah ready pake pashmina buat penutup leher, biar pas di bandara Aceh tinggal pake aja. Kali ini pesawat transit di Kualanamu, akhirnya sebagai orang Karo KW 99 nyobain juga bandaranya. Ternyata saya over ekspektasi tentang bandara ini, tapi desainnya oke juga, menyesuaikan kebiasaan masyarakat yang biasanya banyakan yang nganter daripada yang berangkat, jadinya penumpang pas masuk ke ruang tunggu benar benar tinggal boarding aja. Pas di ruang tunggu, makin minder karena penumpang berhijab semua, serasa salah kostum sendiri. Maka diputuskan pas nyampe di Aceh, langsung pake pashmina. Sampai di Aceh, ternyata ada beberapa flight yang sampe barengan, dan saya melihat kenyataan bahwa

GA SEMUANYA BERHIJAB. BAHKAN ADA IBU-IBU PAKE T-SHIRT LENGAN PENDEK SAMA CELANA PENDEK.

Tapi selama di Aceh saya pake syal penutup kepala kok, walaupun turun-turun juga syalnya, namun ga dipermasalahkan oleh orang sana. Demikian. Hal ini saya lakukan selama kerja dan jalan-jalan di Aceh. Pas udah mau balik Bandung, di bandara saya lepas syal lagi, dan orang-orangnya santai aja.

Kata driver yang jemput kami di bandara Aceh, memang di bagian kota seperti Banda Aceh masalah berpakaian lebih longgar, karena boleh pakai celana panjang, namun kalau di daerah pedesaan yang cukup konservatif, ngga boleh pakai celana panjang, bolehnya model gamis atau rok panjang. Bahkan beliau cerita, dulu kalau perempuan bonceng motor engga boleh duduk ngangkang, harus menyamping, namun sekarang diperlunak karena pernah ada kejadian cewek kebelit bajunya atau kerudungnya gitu di roda motor. Belum lagi kejadian jatuh karena duduk menyamping. Bayanginnya aja udah serem L

Setelah masalah berpakaian, sekarang masalah jalan-jalan. Kalau di sini dan harus jalan sama cowok yang bukan saudara, ayah, atau suami, tidak boleh berduaan. Lebih baik jalan sendiri-sendiri atau cari teman untuk menemani, soalnya di sini ga boleh berduaan kalau bukan mahramnya. Kalau ketauan berduaan sama polisi syariah, gosipnya langsung dinikahkan. Kemarin pas jalan jalan saya udah antisipasi, jadinya diusahakan kalau keluar pasti bertiga.

Walaupun kesannya ribet, orang Aceh paling semangat kalau menerima tamu. Mereka berusaha membuat tamu betah, bahkan ini pertama kalinya survei tanpa biaya konsumsi dan snack, mana snack-nya jus dan free flow kopi Aceh ~

Hope it helps, and don’t worry to visit Aceh!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s