Review : Surau dan Silek (2017)

Awal mula kebagian jatah nonton film ini, langsung cari trailer dan sinopsisnya. Setelah nonton trailer dan sinopsis, langsung mikir, “Ini film bukan gw banget.” Maklum (maaf) I’m not a Moslem and I’m not a Minangnese. Selain itu, film-film dan sinetron-sinetron zaman sekarang menurut saya kebanyakan jualan ayat dan terlalu menggurui, sehingga kaum-kaum seperti saya kadang ga bisa mencerna isi film, malah kadang serasa dihakimi. Masalah mulai muncul saat film ini cuma ditayangkan di Miko Mall di Kopo, dan itu berarti ekstra perjuangan, dari utara ke selatan menerjang macet sampai pegal. Dengan latar belakang seperti itu, saya langsung pasang ekspektasi serendah mungkin, setidaknya kalau filmnya tak sesuai ekspektasi masih ada popcorn caramel CGV Blitz yang menghibur.

Sesuai judul, film ini membahas dua hal esensial pada masyarakat Minang, yaitu Surau (tempat ibadah) dan Silek (silat, atau kesenian). Film dibuka dengan tayangan adegan yang cukup kontras, yaitu pertandingan kejuaraan silat antar SD dan pensiunan dosen yang sedang membereskan rumahnya. Adegan antara anak SD tersebut (yang ternyata bernama Adil) dan pensiunan ini sering sekali berganti-ganti sepanjang sepertiga film, sehingga di awal saya menyangka film ini adalah flashback dari pensiunan dosen tersebut, dan ternyata bukan. Adegan saat Adil dan teman-temannya yaitu Kurip dan Dayat bertemu dengan si bapak pensiunan (yang ternyata bernama Pak Johar) menegaskan bahwa ini bukan film biografi. Baru di adegan ini saya nyambung sama ceritanya, yaitu pencarian guru silat terbaik.

Kaitan antara Surau dan Silek digambarkan dengan manis di film ini, tanpa kesan menggurui dan menghakimi yang saya takutkan sebelumnya. Bila disimpulkan, pesan utama pada film ini berfokus pada pembentukan karakter atau akhlak yang baik. Suatu pesan yang universal, namun dikemas dengan nuansa religi. Satu kalimat dari Pak Johar yang paling saya suka :

Lahir silek untuk menambah teman, batin silek untuk mendekatkan diri ke Tuhan.

Bukankah makna silek tersebut dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari?

Melalui film ini, saya salut kepada yang punya ide, karena film ini berhasil memotret sisi Islami dan Minang secara humanis. Kesan orang Minang yang agamis terlihat secara natural di film ini, mungkin karena didukung oleh mayoritas aktor lokal. Hal yang paling berkesan bagi saya adalah sudut pengambilan gambar dan kualitas kejernihan gambar. Serasa nonton film 3D! Pemandangan yang ditampilkan pun sangat indah, kalau tidak tahu bahwa setting film ini di tanah Minang, mungkin kita serasa di film ala Shaolin, bila memperhatikan latar belakang gunung dan Tembok-Besar-Cina wannabe (yang saya penasaran mau ke sana karena bagus banget). Sayang tidak banyak bioskop yang menayangkan film ini, seandainya banyak, siapa tahu film ini bisa menyusul kesuksesan Laskar Pelangi.

Terlepas beberapa adegan yang masih membingungkan (kalau dibahas nanti malah jadi spoiler), film ini layak tonton untuk semua usia, menurut saya. Kalau sempat, tontonlah film ini.

Note:

This post is featured as the blog post for #30thFFB program, held by @ffbcomm_

You can find any reviews, informations, and discussion about Indonesian film using that hashtag.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s