Review : Surau dan Silek (2017)

Awal mula kebagian jatah nonton film ini, langsung cari trailer dan sinopsisnya. Setelah nonton trailer dan sinopsis, langsung mikir, “Ini film bukan gw banget.” Maklum (maaf) I’m not a Moslem and I’m not a Minangnese. Selain itu, film-film dan sinetron-sinetron zaman sekarang menurut saya kebanyakan jualan ayat dan terlalu menggurui, sehingga kaum-kaum seperti saya kadang ga bisa mencerna isi film, malah kadang serasa dihakimi. Masalah mulai muncul saat film ini cuma ditayangkan di Miko Mall di Kopo, dan itu berarti ekstra perjuangan, dari utara ke selatan menerjang macet sampai pegal. Dengan latar belakang seperti itu, saya langsung pasang ekspektasi serendah mungkin, setidaknya kalau filmnya tak sesuai ekspektasi masih ada popcorn caramel CGV Blitz yang menghibur.

Sesuai judul, film ini membahas dua hal esensial pada masyarakat Minang, yaitu Surau (tempat ibadah) dan Silek (silat, atau kesenian). Film dibuka dengan tayangan adegan yang cukup kontras, yaitu pertandingan kejuaraan silat antar SD dan pensiunan dosen yang sedang membereskan rumahnya. Adegan antara anak SD tersebut (yang ternyata bernama Adil) dan pensiunan ini sering sekali berganti-ganti sepanjang sepertiga film, sehingga di awal saya menyangka film ini adalah flashback dari pensiunan dosen tersebut, dan ternyata bukan. Adegan saat Adil dan teman-temannya yaitu Kurip dan Dayat bertemu dengan si bapak pensiunan (yang ternyata bernama Pak Johar) menegaskan bahwa ini bukan film biografi. Baru di adegan ini saya nyambung sama ceritanya, yaitu pencarian guru silat terbaik.

Kaitan antara Surau dan Silek digambarkan dengan manis di film ini, tanpa kesan menggurui dan menghakimi yang saya takutkan sebelumnya. Bila disimpulkan, pesan utama pada film ini berfokus pada pembentukan karakter atau akhlak yang baik. Suatu pesan yang universal, namun dikemas dengan nuansa religi. Satu kalimat dari Pak Johar yang paling saya suka :

Lahir silek untuk menambah teman, batin silek untuk mendekatkan diri ke Tuhan.

Bukankah makna silek tersebut dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari?

Melalui film ini, saya salut kepada yang punya ide, karena film ini berhasil memotret sisi Islami dan Minang secara humanis. Kesan orang Minang yang agamis terlihat secara natural di film ini, mungkin karena didukung oleh mayoritas aktor lokal. Hal yang paling berkesan bagi saya adalah sudut pengambilan gambar dan kualitas kejernihan gambar. Serasa nonton film 3D! Pemandangan yang ditampilkan pun sangat indah, kalau tidak tahu bahwa setting film ini di tanah Minang, mungkin kita serasa di film ala Shaolin, bila memperhatikan latar belakang gunung dan Tembok-Besar-Cina wannabe (yang saya penasaran mau ke sana karena bagus banget). Sayang tidak banyak bioskop yang menayangkan film ini, seandainya banyak, siapa tahu film ini bisa menyusul kesuksesan Laskar Pelangi.

Terlepas beberapa adegan yang masih membingungkan (kalau dibahas nanti malah jadi spoiler), film ini layak tonton untuk semua usia, menurut saya. Kalau sempat, tontonlah film ini.

Note:

This post is featured as the blog post for #30thFFB program, held by @ffbcomm_

You can find any reviews, informations, and discussion about Indonesian film using that hashtag.

Advertisements

Review : Dear Nathan (The Movie, 2017)

Dear Nathan adalah salah satu film yang diangkat dari novel. Berkaca dari pengalaman nonton film yang diadaptasi atau berdasarkan sebuah buku, saya berusaha melupakan alur cerita di buku saat menonton film ini, karena kalau dibandingkan dengan buku suka kecewa.

Film ini diangkat dari karya wattpad @eriscafebriani dengan judul sama. Langsung aja ke ceritanya ya. Film ini berkisah tentang dua orang anak SMA, yaitu SALMA (Amanda Rawles) dan NATHAN (Jefri Nichol). Salma adalah murid pindahan dari Bandung yang bersekolah di SMA Garuda. Awal mula cerita dibuka dengan penggambaran bahwa Salma hidupnya lurus-lurus aja dan sesuai dengan pelajaran PPKn. Sayangnya, di hari pertama sekolah, Salma terlambat tiba di sekolah sehingga terancam tidak bisa belajar di sekolah karena pagar sudah terkunci. Untunglah ada seorang siswa yang mau menolong supaya Salma bisa menyelinap masuk sekolah. Belakangan Salma tahu bahwa siswa penolong itu bernama Nathan, murid paling berandal seantero sekolah yang agak emosian, sehingga sering berantem. Sebagai murid baik-baik, tentu Salma berusaha menjauhi orang macam Nathan. Namun, masalah datang ketika Nathan dengan terang-terangan mengejar cinta Salma dan membuat heboh satu sekolah. Berbagai cara digunakan Salma untuk menghindar, tapi sepertinya kesempatan-kesempatan tak terduga justru mengantarnya semakin dekat dengan Nathan. Saat Salma semakin dekat dengan Nathan, ternyata Salma baru tahu kalau ada yang melatarbelakangi kenapa Nathan bisa jadi berandalan, sehingga Salma pun bersimpati dan perlahan jatuh cinta. Saat cinta Salma tumbuh, dia ingin merubah Nathan menjadi Nathan yang baru. Tapi gak mudah ternyata cerita cinta Salma dan Nathan. Akankah mereka bertahan? Akankan masalah yang dihadapi Nathan bisa diatasi? Akankan Nathan tobat? Kalau penasaran, nonton aja filmnya ~

Pas nonton film ini, saya seakan terbawa ke masa lalu. Pertama, setting lokasi SMA Garuda tuh mirip banget sama SMP saya, mulai dari posisi gerbang, posisi kantin, sampai papan peribahasa! Selain itu, peraturan SMA-nya mirip sama SMA saya, kalau telat masuk ya dikunciin di luar, dan ada pemeriksaan seragam sebelum masuk ke area sekolah. Detail pendukung film juga digambarkan dengan wajar, seakan mengenang masa SMA.

Alur cerita film ini tergolong ringan, natural, masuk akal, dan gak dibuat-buat kayak sinetron. Masalah yang diangkat pun khas masalah remaja, mulai dari masalah percintaan sampai masalah keluarga. Mungkin karena saya sering menemukan masalah yang dihadapi Nathan dan Salma, ya, makanya saya bilang nggak lebay. Joke yang digunakan pun mudah dipahami oleh remaja saat ini, namun, pada beberapa scene, gombalnya terlalu berlebihan. Adegan skinship antara Salma-Nathan pun masih dalam batas wajar remaja Indonesia, palingan juga pegangan tangan sama pelukan kalau naik motor. Penempatan soundtrack menurut saya juga sudah tepat sehingga saya bisa menikmati filmnya tanpa keberisikan. Sebagian besar soundtrack karya Hivi pun enak didengarkan, bahkan sampai sekarang ada di playlist Spotify saya. Sayangnya terdapat masalah pada beberapa detail, namun kalau nggak terlalu dipikirkan sih nggak terlalu mengganggu cerita juga. Sama, saran aku, pas adegan toko buku, mestinya yang disorot tuh bukunya eriscafebriani, kan itung-itung ngiklan gratis :p

Bila dibandingkan dengan karya wattpad dan novel berjudul sama, terdapat sedikit perbedaan alur cerita, sehingga bisa dianggap bahwa film ini diangkat dari sebuah karya tulis. Saran saya, anggaplah karya tulis tersebut dan film ini sebagai dua karya berbeda, sehingga nggak merusak ekspektasi.

Some quotes :

Kalau aku terlalu taat aturan, ntar nggak ada waktu mikirin kamu, dong? –Nathan kepada Salma

Aku masih bisa nunggu, tapi inget, nunggu itu ada batas kadaluarsanya –Nathan

*seketika inget si ex-partner-in-crime**dikeplak*

Note:

This post is featured as the blog post for #30thFFB program, held by @ffbcomm_

You can find any reviews, informations, and discussion about Indonesian film using that hashtag.

Review : Tips of being a non-Moslem women in Nanggroe Aceh Darussalam

Ceritanya awal tahun lalu saya ada survei di Banda Aceh. Buat orang Indonesia, ke Aceh artinya harus berpakaian dan berlaku sopan mengikuti hukum syariat Islam. Nah, kalau laki-laki sih gampang, kalau perempuan gimana?

Sempet googling masalah ini juga, soalnya bingung juga kan pakai baju gimana disana, takutnya salah dan ujung-ujungnya ditangkap polisi syariah. Menurut gossip yang beredar juga katanya perempuan ga boleh pake celana panjang dll dan ga boleh memperlihatkan lekuk badan. Tambah bingung deh. Hasil dari googling bermacam-macam, yang satu bilang harus pake kerudung dan ga boleh pakai celana, yang satu bilang santai aja, boleh pakai celana. Tambah bingung dah.

Akhirnya saya tanya ke teman saya yang asal Aceh tapi dia Muslim, mengenai syarat berpakaian untuk wanita non muslim. Dia bilang sih yang penting sopan, boleh celana panjang, pake syal buat tutup kepala, dan bawa KTP ke mana mana in case kena razia polisi syariah karena pake syal. Jika dilihat KTP-nya nonmuslim sih santai aja. Karena orang Aceh-nya yang ngomong, yaudah saya percaya aja.

Hari berangkat ke Aceh pun tiba. Saya udah ready pake pashmina buat penutup leher, biar pas di bandara Aceh tinggal pake aja. Kali ini pesawat transit di Kualanamu, akhirnya sebagai orang Karo KW 99 nyobain juga bandaranya. Ternyata saya over ekspektasi tentang bandara ini, tapi desainnya oke juga, menyesuaikan kebiasaan masyarakat yang biasanya banyakan yang nganter daripada yang berangkat, jadinya penumpang pas masuk ke ruang tunggu benar benar tinggal boarding aja. Pas di ruang tunggu, makin minder karena penumpang berhijab semua, serasa salah kostum sendiri. Maka diputuskan pas nyampe di Aceh, langsung pake pashmina. Sampai di Aceh, ternyata ada beberapa flight yang sampe barengan, dan saya melihat kenyataan bahwa

GA SEMUANYA BERHIJAB. BAHKAN ADA IBU-IBU PAKE T-SHIRT LENGAN PENDEK SAMA CELANA PENDEK.

Tapi selama di Aceh saya pake syal penutup kepala kok, walaupun turun-turun juga syalnya, namun ga dipermasalahkan oleh orang sana. Demikian. Hal ini saya lakukan selama kerja dan jalan-jalan di Aceh. Pas udah mau balik Bandung, di bandara saya lepas syal lagi, dan orang-orangnya santai aja.

Kata driver yang jemput kami di bandara Aceh, memang di bagian kota seperti Banda Aceh masalah berpakaian lebih longgar, karena boleh pakai celana panjang, namun kalau di daerah pedesaan yang cukup konservatif, ngga boleh pakai celana panjang, bolehnya model gamis atau rok panjang. Bahkan beliau cerita, dulu kalau perempuan bonceng motor engga boleh duduk ngangkang, harus menyamping, namun sekarang diperlunak karena pernah ada kejadian cewek kebelit bajunya atau kerudungnya gitu di roda motor. Belum lagi kejadian jatuh karena duduk menyamping. Bayanginnya aja udah serem L

Setelah masalah berpakaian, sekarang masalah jalan-jalan. Kalau di sini dan harus jalan sama cowok yang bukan saudara, ayah, atau suami, tidak boleh berduaan. Lebih baik jalan sendiri-sendiri atau cari teman untuk menemani, soalnya di sini ga boleh berduaan kalau bukan mahramnya. Kalau ketauan berduaan sama polisi syariah, gosipnya langsung dinikahkan. Kemarin pas jalan jalan saya udah antisipasi, jadinya diusahakan kalau keluar pasti bertiga.

Walaupun kesannya ribet, orang Aceh paling semangat kalau menerima tamu. Mereka berusaha membuat tamu betah, bahkan ini pertama kalinya survei tanpa biaya konsumsi dan snack, mana snack-nya jus dan free flow kopi Aceh ~

Hope it helps, and don’t worry to visit Aceh!

Review : Perpanjang STNK ‘online’

Karena rumah saya baru pindahan (lagi) dan rumah saya yang baru rada jauh dari yang lama, cukup ribet kalau ngurus pajak di Samsat deket rumah saya yang lama. Mengingat sekarang zaman online, akhirnya saya mengusulkan kalau tahun ini coba perpanjang STNK online (dan langsung disetuju oleh orang tua saya, karena otomatis ongkos lebih murah dan enggak ribet sama sekali)

Kebetulan kendaraan kami plat-nya B, dan berdasarkan link ini, kalau kendaraan plat B bisa ikutan program Samsat online. Nah, sistem Samsat online itu terkoneksi secara online sehingga dimanapun data kendaraan kita bisa diakses oleh Samsat lain (selama masih satu jaringan dengan Samsat tersebut) *CMIIW* Di tiap region kebijakan bayarnya beda-beda, dan belum semua region di Indonesia punya kebijakan ini. Please google for more information of this issue.

Pas cari-cari di Google, ternyata untuk urus STNK dari daerah saya bisa ke Samsat Jakarta Selatan. Lokasinya di komplek Polda Metro Jaya (KOMDAK) tapi masuknya dari Jalan Gatot Subroto. Dari pintu masuk, gedung Samsat Jakarta Selatan ada di sebelah kiri. Waktu ke sini, saya nyoba transjakarta pink yang program barunya Pak Ahok, ternyata bener isinya cewek semua, mulai dari driver, kenek, dan penumpang. Transjakarta pink ini agak ketat, misalnya kita bawa anak kecil atau relatives laki-laki, ga bisa nebeng, harus naik yang regular. Pokoknya gender harus female. Kalau naik transjakarta, turun di halte Semanggi (dan rasakan sensasi jalan muter-muter panjang banget)

Masuk di Samsat, security dan document check dulu. Jadi, pas masuk ke Samsat, sebelum cek tas sama cek badan lewat metal detector, petugas akan nanya keperluan kita ke sana, dan mengecek apakah dokumen yang dibutuhkan sudah lengkap atau belum. Kalau belum ya disuruh pulang. Setelah masuk ke area perang, untuk urus STNK online lintas daerah diarahkan ke loket paling ujung sebelah kiri (kalau ga salah namanya SAMSAT TIGA PROVINSI) Pas sampai loket, langsung tunjukkan KTP, STNK, dan BPKB. Oiya, alamat di STNK dan BPKB harus sama dengan KTP, dan petugas cuma terima e-KTP. Orang di depan saya ditolak aplikasinya, karena alamatnya beda, padahal cuma satu huruf L Setelah dirasa dokumen kita lengkap, petugas menyerahkan formulir yang harus diisi (padahal kalau perpanjang di tempat Bu Airin ga ada acara isi formulir, come on Pak Ahok, masa kalah sama provinsi baru?) Fotokopi KTP, STNK, sama BPKB bisa di lantai 2 Samsat. Setelah formulir diisi dan selesai fotokopi, balik lagi ke loket tempat ambil formulir. Petugas akan verifikasi sebentar lalu menyerahkan dokumen asli. Setelah itu, tunggu panggilan dari kasir buat bayar pajak kendaraan bermotor dan ambil slip bayar, stnk, sama plastic bungkusnya. Yang dibayar Cuma PKB + SWDKLLJ, ga ada admin fee J Pas urus di sini, saya menghabiskan waktu sekitar 15 menit, sudah termasuk isi formulir, lari ke tempat fotokopian, dan tunggu bayar. Salah satu ibu yang bareng saya bilang kalau sejak kebijakan STNK online ada, dia selalu perpanjang STNK di sini soalnya cepet.

Tahun depan mungkin ganti plat lagi karena KTP bakal dipindah semua, for convenience reason, tapi daerahnya gosipnya bisa STNK Online dan lebih keren lagi sistemnya.

Hope it helps!

Review : Lapor Pajak Spesial untuk yang belum berpenghasilan (jika sekian tahun lalu belum lapor tapi ga mau bayar denda)

Halo! Maaf udah lama ga posting. Ternyata jadi mahasiswa master banyak tugasnya, terus sekarang sejak pertengahan tahun lalu harus ‘struggling with something’ (maaf dirahasiakan ya, I’m going to make it a separate post when I’m ready, tapi gatau kapan sih. Hahaha). Pokoknya intinya sekarang hidup harus seimbang both physically and mentally J

Langsung aja ke inti permasalahan, ya, soal pelaporan pajak. As a Christian, there are a lot of verses in Bible that teach us to obey the government we live in and make sure that we make an impact to the place we live in. The verses are available in Old and New Testament. Dalam kasus ini adalah lapor (dan) bayar pajak. Nah, sejak saya ngurus NPWP tahun lalu, kewajiban lapor pajak udah ada, cuma masalahnya ada beberapa :

Tahun I : Mau lapor pajak tapi salah dikasih formulir sama petugasnya. Salah sendiri datengnya pas mepet deadline (tanggal 20-an Maret) jadinya dilayani sama petugas outsorce yang mungkin belom fasih banget sama jenis formulirnya, dan saya mau nanya formulir yang diisi yang mana, malah dikasih formulir 20 lembar dan kudu diisi semua (padahal isinya ada nama PT, nama bendahara dll. Kan saya minta buat perorangan, bukan badan usaha!) . Masa saya dikasih 20 lembar formulir dan kudu diisi semua?! Padahal cuma mau lapor pajak nihil doang. Temen saya yang ngurus pajak nihil di kantor pajak yang sama malah lebih santai, dia cuma tanda tangan doang (katanya) dan bukti pajaknya keluar.

Tahun II : Ceritanya saya dapet honor bulanan dari penelitian pak bos, katanya dipotong pajak 6%, tapi pas minta receipt honor ngga dikasih sama orang TU karena dinilai honor satu tahun tersebut belum melewati nilai Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Mau lapor lagi tapi trauma sama peristiwa tahun lalu, dan googling ternyata ga harus lapor pajak, yaudah deh ga lapor.

Tahun III (sekarang) : Sengaja dateng di awal bulan Maret demi mendapat kepastian mengenai laporan pajak saya. Sempet nanya ke temen yang urus laporan pajak nihil tahun lalu, ternyata mulai tahun ini diarahkan pelaporan pajak pake e-Fin. Yaudah saya cus ke KP. Pas di KP, ternyata tenda pelaporan pajak baru dipasang dan kantor pajaknya agak sepi sehingga bisa bebas nanya-nanya. Pas sampai KP, saya menanyakan ke petugas kebersihan sama mamang satpam tentang masalah saya, dan saya diarahkan ke helpdesk KP untuk diskusi, biar semua jelas adanya, karena googling malah ga nemu jawabnya dan jadi bingung sendiri. Akhirnya ke meja helpdesk deh.

Sampai di meja helpdesk, saya bertanya ke petugas pajak apakah kalau penghasilan di bawah PTKP harus lapor apa tidak. Kata beliau sih sebenarnya TIDAK WAJIB LAPOR, tapi karena punya nomor NPWP, jadinya malah WAJIB LAPOR. Kalau telat lapor dendanya Rp 100.000,- yang dibayar pas pelaporan. Saya udah pucet aja, mana honor belum turun lagi L Namun, petugas pajaknya memberi pencerahan, katanya kalau ga mau ribet lapor, selama belum berpenghasilan (tetap) yang di atas PTKP, ajukan saja PE-NON-EFEKTIF-AN NPWP. Jadi, sampai punya penghasilan tetap di atas nilai PTKP, akun NPWP kita sifatnya dormant, sehingga kita dibebaskan lapor wajib tahunan, dan bebas dari denda Rp 100.000,- Nanti kalau udah punya penghasilan tetap di atas PTKP baru diaktifkan lagi akun NPWP-nya di kantor pajak yang mengeluarkan NPWP kita.

Lessons learned :

  • Kalau urus urus di kantor manapun, kadang-kadang mamang satpam lebih tau daripada orang outsorcing
  • Uruslah pelaporan pajak sebelum bulan Maret supaya lebih santai. Sebaiknya pake e-Fin biar ngga ribet lapornya
  • Bingung gimana isi formulir pelaporan pajak? Biasanya di kantor pajak ada kelas belajar mengisinya

Hope it helps!

officially 25.

Maaf lama ga posting, ternyata jadi mahasiswa banyak tugasnya, walaupun tahun ini jarang dinas luar. Semoga tahun depan bisa jalan-jalan berbayar lagi hehehe.

Akhirnya yang nulis blog ini tambah tua lagi. Tahun ini umur 25 tapi kelakuan masih aja kayak bocah. Dulu pas kecil, mikirnya kalau udah umur 25 mestinya udah punya anak dan kerjaan, tapi kenyataannya sementara ini masih single dan masih jadi mahasiswa (tapi mahasiswa pascasarjana)

Untuk tahun depan, doa saya nggak muluk-muluk. Tesis lancar, gelar master di tangan sebelum abang saya dapat gelar masternya, dan punya kartu pegawai sendiri alias dapat pekerjaan tetap. Sekalian semoga usaha bapak mama abang lancar, keluarga sehat-sehat, dan rukun-rukun selalu.

Gak aneh-aneh amat, kan?

Review : Mengurus Mutasi Kendaraan Bermotor

Disclaimer : Cerita ini terjadi bulan Januari 2016. Perubahan harga dan prosedur berlaku, menyesuaikan dengan lokasi pembaca. Info lebih detail silakan tanya Samsat terdekat.

Sebagai warga negara yang sedikit baik, si bapak mengamanahkan agar motor bekas yang umurnya lebih dari 20 tahun itu supaya diurus STNK-nya. Harga motornya sih gak seberapa, tapi kalau ditangkap polisi itu lumayan bikin malu.

Kenapa perpanjang STNK urusannya jadi balik nama? Jadi, ceritanya, kalau mau perpanjang STNK itu butuh KTP asli dari orang yang namanya tercantum di STNK. Nah, masalahnya, kan si bapak beli motor bekas dari pihak kedua, dan pihak pertama pemilik motor sebelumnya cuma ninggalin fotokopi KTP doang. Makanya si pak polisinya nyuruh balik nama aja sekalian.

Nah, prosedur balik nama yang akan saya tuliskan merupakan balik nama di kawasan Polda Metro Jaya, tepatnya Jakarta Timur vs Tangerang Selatan

HARI 1.
Langkah pertama adalah ke Samsat asal dari kendaraan bermotor, dalam cerita ini merupakan Samsat Jakarta Timur. Tempatnya bisa di-googling aja, pokoknya patokannya tuh halte busway Kebon Nanas. Ada papannya yang lumayan gede juga kok. Dari halte busway kira-kira lima menit jalan kaki kalau jalannya lama banget.

Pas sampai di samsat, langsung masuk di area cek fisik buat gosok nomor rangka dan mesin. Karena kondisinya motor si bapak ga bisa dibawa ke samsat karena jauh banget, maka saya pake lembar cek fisik bantuan (yang sampai sekarang saya ga tau gimana cara dapatnya). Setelah cek fisik, langsung ke fotokopian terdekat, fotokopi KTP, STNK, BPKB. Petugas fotokopinya udah tau kok, kalau bingung bilang aja mau fotokopi buat balik nama.

Setelah urusan fotokopi, lanjut ngantri buat legalisir di loket 2. Di sini kasih fotokopi KTP, STNK, BPKB, dan lembar cek fisik buat dilegalisir. Nah nanti petugasnya nanya tujuan legalisir bukti cek fisik, bilang aja balik nama dan sebutkan tujuannya sesuai domisili KTP kita. Di sini bayar Rp 40.000,- lalu tunggu dipanggil untuk dapat hasil legalisir. Nah nanti nama yang dipanggil tuh nama yang di STNK ya,bukan nama kita. Hahaha.

Setelah dapat hasil legalisir, baru masuk ke gedung samsat yang depan untuk ke loket mutasi. Nah gedung samsatnya agak tricky dalam perhitungan lantai, kalau di floor directionsnya bilangnya lantai dasar – 1 – 2 – 3 tapi petugasnya taunya lantai 1 – 2 – 3 – 4, biar gak bingung saya bilangnya lantai 1 -2 – 3 – 4 ya.

Untuk urus balik nama, kita diarahkan ke loket 5 di lantai 2, posisinya paling ujung dekat tangga. Petugasnya bakal minta paket legalisir cek fisik dan mengecek kelengkapan berkas serta menyerahkan formulir yang harus diisi. Karena ceritanya motor bekas itu belum dibayar pajaknya selama tiga tahun enam bulan, maka saya harus bayar pajaknya dulu. Sialnya saya mengurusnya di awal Januari, saat Sunset Policy berakhir, makanya diketawain petugasnya :)) Karena belum bayar pajaknya lebih dari setahun, maka saya harus ke loket khusus di lantai 3 buat penerbitan surat tagihan pajaknya. Di loket ini saya menyerahkan paket legalisir cek fisik tadi untuk diterbitkan surat tagihan pajaknya. Tunggu sebentar, lalu datanglah surat tagihan pajaknya. Kalau kasusnya kayak saya yang lebih sekian bulan, nanti tagihan pajak pada sesi ini dibulatkan setahun ke bawah, dan sisanya baru dibayar di sesi berikutnya, jadi jangan seneng dulu kalau tagihannya kurang. Kemudian gunakan tangga terdekat dari loket tadi untuk naik ke lantai 4 untuk bayar tunggakan pajak. Di lantai 4, langsung serahkan surat tagihan pajak ke loket Jasa Raharja untuk penerbitan lembar tagihan asuransi. Setelah lembar tagihan asuransinya diterbitkan, langsung serahkan surat tagihan pajak + tagihan asuransinya di loket Bank DKI. Tunggu sebentar hingga nama yang di STNK dipanggil. Kemudian kita lunasi pembayaran pajak dan ambil tanda terimanya. Setelah dapat tanda terima bayar bajak, kemudian kumpulkan paket legalisir cek fisik, tanda terima bayar pajak, kwitansi pembelian kendaraan bermotor yang bermeterai Rp 6000,- dan tanggalnya maksimum seminggu dari aplikasi, serta formulir yang sudah diisi ke loket 5 di lantai 2. Kalau misalnya kwitansinya bermasalah, kayak saya yang tanggalnya setahun sebelum aplikasi, bisa diganti kok, kata petugasnya tanggalnya seminggu sebelum aplikasi biar harga jual kendaraan nggak turun. Selain menyerahkan dokumen yang dibutuhkan, di loket ini bayar Rp 150.000,-
Petugas akan memberikan tanda terima yang menyatakan waktu permohonan balik nama kita selesai diproses. Standarnya sih maksimum 16 jam kerja dari pengajuan aplikasi, dengan 1 hari kerja itu 8 jam, maka maksimum 2 hari lah dari pengajuan aplikasi. Nah, kata bapaknya maksimum ngambilnya 3 hari kerja setelah tanggal yang ditulis.

Total pengeluaran hari 1 :
Legalisir cek fisik : Rp 40.000,-
Fotokopi : Rp 6.000,-
Bayar biaya mutasi : Rp 150.000,-
Total : Rp 196.000,- (belom termasuk bayar pajak dan transport)

Saran : Sebaiknya dalam kondisi sehat, karena capek juga jalan dari tempat cek fisik ke lantai 2 – 3 – 4 – 2. Mana tangganya curam, lagi. Saya malah saking kecapekannya malah nyasar beberapa kali 😦

HARI 2.
Pagi-pagi ke Samsat Jakarta Timur, langsung ke loket 5 di lantai 2 untuk menyerahkan tanda terima aplikasi balik nama. Kemudian petugas akan mengarahkan kita ke loket fiskal. Dari loket fiskal, kita diberi surat tagihan buat bayar kekurangan pajak yang belum dibayar. Kemudian balik lagi ke loket Jasa Raharja untuk penerbitan tagihan asuransi (formalitas aja kok, isinya kalau nggak salah sih cuma bayar fee 3000 rupiah), lalu menyerahkan surat tagihan + tagihan asuransi buat bayar kekurangan pajak. Setelah mendapat bukti pelunasan, kembali ke loket 5 di lantai 2, ambil berkasnya, tanda tangan di buku tamu dan dadah dadah sama petugasnya  lanjut ke loket fiskal. Di loket fiskal, serahkan berkas dari loket 5 untuk diterbitkan surat fiskal. Di bagian ini, akhirnya nama yang dipanggil adalah nama kita. Setelah dapat surat fiskal, langsung ke bagian arsip di lantai 1 belakang (ada tulisannya) untuk ambil arsip surat kendaraan.

Karena selesai jam 11 pagi, langsung jalan ke Samsat Tangerang Selatan. Untuk Samsat Tangerang Selatan, ada dua pilihan, yang di Ciputat (Jalan RE Martadinata, dekat komplek polisi) atau di Serpong (sebelah Disdukcapil Tangerang Selatan, dekat Sinarmas World Academy). Saya pilihnya yang Ciputat, soalnya gampangan ke situ dan berdasarkan pengalaman bapak saya, antriannya JAUH LEBIH PENDEK dari di Serpong. Dan ternyata beneran sih. (ga dibayar sama petugasnya)

Di Samsat Ciputat, langkah pertama adalah legalisir cek fisik lagi (tapi gak bayar sih). Kemudian, setelah nanya sama petugasnya, saya diarahkan untuk fotokopi berkas di fotokopian belakang, bilang aja buat balik nama, nanti petugasnya akan meminta berkas yang dibutuhkan untuk difotokopi. Setelah fotokopi selesai, langsung ke lantai 1 buat ambil map dan formulir. Isi formulir sebisanya (yang diisi yang ada keterangannya di KTP kita, nomor telepon kita, dan yang ada di STNK aja, kalau ga ada keterangannya nggak usah) kemudian masukkan berkas + formulir + BPKB lama ke dalam map yang disediakan. Map tersebut kemudian diserahkan ke loket 2.2 di lantai 2. Sambil menyerahkan map, tunjukkan KTP kita, tunggu sebentar dan kita akan menerima bukti pengambilan STNK dan BPKB. Kemarin sih nunggu 10 menitan lah. Kalau berdasarkan pengumuman, di Samsat Ciputat waktu proses aplikasi maksimum 8 jam, dan di Samsat Serpong maksimum 16 jam. Jadi bapak saya gak bohong kalau dibilang lebih cepet ngurus di Ciputat. Kata petugasnya, acara bayar STNK-nya nanti aja pas pengambilan STNK, dan estimasi biaya STNK bisa ditanyakan di loket RC di sebelah loket 2.1, supaya tahu kalau balik lagi bawa uang berapa :)) Ngambil STNK-nya juga terserah asal nggak lupa aja.

Total pengeluaran hari 2 :
Legalisir cek fisik : Rp 0,-
Fotokopi : Rp 6.000,-
Total : Rp 6.000,- (belom termasuk bayar pajak dan transport)

HARI 3.
Setelah dapet cuti dari pak bos, akhirnya bisa balik buat ngambil STNK 😀 Dengan membawa uang cash secukupnya, tanda terima, dan BPKB, saya balik lagi ke Samsat Ciputat. Langsung masuk, serahkan tanda terima ke loket 2.2, dan tunggu dipanggil sama kasir. Beda, ya, sama di Samsat sebelumnya, jadi di sini elderly friendly dan gak bikin pegel. Hahaha. Cuma nunggu dipanggil kasirnya agak lamaan, karena nunggu kuota jumlah orang yang mengurus balik nama dipenuhi dulu baru diproses. Di sini baru bayar pajaknya, langsung diserahkan bukti tanda terima, dan tinggal tunggu STNK diserahkan. Saat ambil STNK, nanti petugasnya menjelaskan untuk ambil plat kendaraan baru dan pengurusan BPKB. Katanya sih pengurusan BPKB bisa kolektif, biayanya 230ribu, waktunya antara 2-3 minggu. Terus ditakut-takutin kalau ngurus langsung biayanya 210 ribu. Tapi karena saya anaknya rada mager ke Ciputat, mending ngurus sendiri aja.

Setelah dapat STNK, langkah pertama adalah ambil plat di lantai 1. Kumpulkan lembar STNK yang warna kuning, lalu tunggu dipanggil. Setelah dapat plat, langsung ke bagian arsip di sebelah tempat ambil plat, bilang mau pinjam berkas buat fotokopi untuk keperluan urus BPKB ke Komdak. Tunjukkan lembar STNK yang biru, kemudian petugas akan menyerahkan berkas yang diperlukan. Balik lagi ke fotokopian, fotokopi berkas yang dipinjamkan bagian arsip + STNK, kemudian kembalikan berkas yang dipinjam ke bagian arsip.

Langkah selanjutnya adalah urus BPKB ke Komdak alias Polda Metro Jaya. Nah, pintu masuk Kondak ada dua, kalau pake kendaraan pribadi, ojek, atau taksi, masuknya dari pintu Jalan Gatot Subroto (yang gapuranya gede). Kalau pake transjakarta kayak saya, bisa juga turun di halte Polda, terus masuk dari pintu pejalan kaki yang nyelip di samping jembatan penyeberangan. Jalannya rada jauh, tapi lebih mendingan daripada Jembatan Penyeberangan Semanggi. Nah di sini langsung ke gedung Ditlantas (yang warna biru). Sebelum masuk, kita antri untuk cek kelengkapan berkas seperti set fotokopian berkas + BPKB + KTP. Kalau berkas dirasa lengkap oleh petugas, nanti akan diberi struk nomor antrian. Langkah selanjutnya adalah antri formulir di sebelah kiri bagian informasi. Karena itungannya mutasi, maka saya diberikan formulir tulis tangan. Setelah dapat formulir, langsung bayar biaya BPKB di BRI yang terletak di ujung gedung. Biaya urus BPKB dalam rangka mutasi adalah … Rp 80.000,- untuk kendaraan roda dua dan Rp 100.000,- untuk kendaraan roda empat. Untung ngurus sendiri. Hahaha. Sambil menunggu antrian dipanggil, bisa digunakan untuk isi formulir. Ketika antrian dipanggil, langsung serahkan berkas + bukti bayar, lalu petugas akan memberikan tanda terima yang menyatakan BPKB selesai 1 minggu kalender dari tanggal pengajuan aplikasi. Berarti gw dikerjain orang Samsat ._. Tapi ngambilnya boleh telat, yang penting inget. Hahaha. Pas ngambil BPKB nanti, yang dibawa adalah fotokopi STNK dan fotokopi KTP yang ngambil. Sampai sekarang (waktu penulisan post ini) BPKB-nya belom diambil. Jadi aja belom.

Total pengeluaran hari 3 :
Fotokopi : Rp 2.000,-
Biaya urus BPKB : Rp 80.000,-
Total : Rp 82.000,- (belom termasuk bayar pajak dan transport)

Nanti pas ambil BPKB akan saya ceritakan lagi ~

Jadi, setelah dihitung-hitung, total biaya urus mutasi balik nama adalah
Rp 196.000,- + Rp 6.000,- + Rp 82.000,- = Rp 284.000,- belom termasuk pajak dan transport.
Bila ditotal, biaya beli motornnya si bapak + biaya urus mutasi + tunggakan pajak dll MASIH LEBIH MURAH dari harga pasaran motornya. Si bapak hepi, sekeluarga hepi karena ga rugi. HAHAHA

Di save dulu lah, kali aja disuruh ngurus mutasi lagi.

Hope it helps!