Review : Warung Boncell Kota Baru Parahyangan

Akhirnya setelah didera deadline berlebihan bisa nulis review lagi :’)
Seperti biasa, tempat yang saya review umumnya memberikan pelayanan luarbiasa memuaskan untuk saya yang tampangnya super tidak meyakinkan ini, jadi mestinya sih terpercaya.

Langsung masuk saja ke inti review ya πŸ™‚

Kemarin, secara impulsif, saya dan teman-teman tiba-tiba ingin melihat matahari terbenam. Karena saat itu waktu menunjukkan jam lima sore, maka pilihan yang tersisa adalah Warung Salse Dago dan Kota Baru Parahyangan. Karena teman-teman saya sekalian ingin lari malam, maka pilihan jatuh ke Kota Baru Parahyangan.

Bertujuh, akhirnya kami bergerak menuju Kota Baru Parahyangan dengan menebeng mobil Nina. Oiya, lupa saya jabarkan, saya pergi bersama dengan teman-teman dari Nebengers #TeamBandung lho! Jadi jalan-jalan kami full sharing macem-macem. Ada yang share nyetir, mobil, bensin, biaya tol, parkir, gorengan, bahkan doa! Saya kebagian bayarin parkir sama tol, hehehe. Seru kan? Makanya join Nebengers! *iklan terselubung*

Tiba di Kota Baru Parahyangan jam 6.30 petang, maka cerita mau lihat sunset batal. Karena teman-teman yang Muslim mau shalat, maka pitstop pertama adalah Masjid Al-Irsyad di Kota Baru Parahyangan, yang kami sebut sebagai Masjid Ridwan Kamil, karena yang merancang adalah Kang Ridwan Kamil (Walikota Bandung). Sambil menunggu shalat, saya dan teman saya yang tidak shalat tidur-tiduran di dalam masjidnya, ternyata interiornya bagus ya πŸ™‚ view keluarnya pun keren banget *jadi pengen nanti kalau nikah di chapel yang viewnya bagus, atau outdoor di puncak bukit sekalian yang penting viewnya bagus*

Setelah teman-teman saya shalat Magrib dan Isya, maka perjalanan pun dimulai. Teman-teman saya yang tergabung dalam NebengersBandungRunners (Papato, Ruli, Azkal, Nina) berganti kostum untuk lari malam dengan rute Masjid Al Irsyad – Bale Pare, sedangkan saya, Rhea, dan Alpi masuk ke mobil Nina untuk menuju Bale Pare. Rhea tidak ikut lari karena fisiknya sedang tidak memungkinkan, sedangkan saya dan Alpi tidak lari karena ga bawa perlengkapan lari.

Sampai di Bale Pare, hal yang pertama kami lakukan adalah mencari tempat makan. Oiya, Bale Pare ini merupakan food court outdoor di Kota Baru Parahyangan. Kalau siang hari, di lantai 2 Bale Pare ada studio 4D yang memutar film-film edukasi. Karena Rhea sedang ingin makan yang lebut dan hangat, kami berupaya mencari bubur. Namun tidak ada kios yang menjual bubur. Setelah muter-muter, akhirnya pilihan jatuh pada Warung Boncell karena satu hal sepele, tempatnya tertutup sehingga Rhea yang sedang sakit tidak akan kedinginan.

Saat tiba di Warung Boncell, ada suatu kejutan yang membuat hati kami hangat :’)
Teteh pelayannya sangat ramah, bahkan menanyakan kondisi Rhea yang sedang sakit serta merekomendasikan menu yang bisa dinikmati oleh Rhea supaya lekas sembuh. Rasanya seperti di rumah sendiri πŸ™‚

Akhirnya Rhea memesan nasi dan sup, Alpi memesan bandeng presto, serta saya memesan nasi ayam asam manis. Ayamnya disini bisa dipilih, mau ayam seperti dada paha sayap atau ayam fillet (Dan tentu saja saya pilih fillet). Penyajian di warung ini lumayan klasik, untuk teh hangat disajikan dalam gelas enamel, sedangkan makanan khas Sunda di piring anyaman bambu beralas daun pisang. Makanan lain disajikan di piring melamin. Untuk saus semuanya disajikan terpisah. Pelayanannya pun cukup cepat, sekitar 10 menit makanan sudah terhidang.

Untuk rasa, bandeng prestonya rasanya pas, supnya enak, dan ayamnya biasa saja. Poin plus dari warung ini tetap pada pelayanannya. Saat makanan disajikan, pelayannya menanyakan apakah rasa makanannya cukup atau ada yang kurang. Selain itu, untuk Rhea yang sedang sakit, pelayannya menawarkan untuk menambah merica pada supnya agar stamina Rhea bertambah. Kalau kata teman-teman saya yang cowok, pelayannya nih tipe istri idaman.

Setelah setengah jam menunggu, akhirnya teman-teman NebengersBandungRunners tiba di Bale Pare. Katanya sih kelamaan lari karena kelamaan foto-foto πŸ˜€ Mereka pun memesan menu makanan seperti bandeng presto yang kemudian dibagi rame-rame. Puas ngobrol, dan memang sudah waktunya Warung Boncell tutup, maka kami kembali ke Bandung dengan hati hangat :’)

Oiya, nama pelayannya itu Teh Eka #JustInfo

Kesini lagi? Mungkin. Kalau misalnya teman-teman ngajakin main ke Kota Baru Parahyangan lagi.

====

WARUNG BONCELL

Kawasan Bale Pare, Kota Baru Parahyangan

Jam buka : 09.00 – 22.00

Range harga : di bawah Rp 50.000,- untuk setiap menu

Advertisements

How to get to Bandung (and return) safely from Cibubur

As I told before, I moved to a place that called ‘middle-of-nowhere’ in this blog, but, to be precise, the place is situated near Mr. SBY’s private house and included in Paspampres’ security area.

The main problem is there are not many choices of public transportation to be used from and Bandung in this area. I write this review to help people decide what transportation that should be used. All the review are based on my own opinion and I’m not being paid from any institution to write this review

So, let the posting begin!

1. Bis MGI Bandung – Cileungsi

Type : Bus with blue color

Route : Terminal Leuwipanjang Bandung – Terminal Cileungsi pp.

Facilities : Air-conditioned, smoking area, television

Schedule : Every day at 06.00 08.00 09.30 11.00 13.00 15.00 17.00, please visit the bus terminal near the departure time for exact schedule, since the bus won’t be depart if there are none passenger during the departure time

Tariff : Rp 55.000 (per November 2013, but sometimes changed during holiday season like Idul Fitri)

Payment method : Cash only

Recommended for people heading to :

Bandung : all around Soekarno Hatta road, Pasirkoja, Kopo

Cibubur : all around Jalan Transyogi, Komplek Citra, Kota Wisata, Legenda Wisata, Cikeas, and Cileungsi

Review:

This is the first ever public transportation I’ve ever tried when visit ‘middle-of-nowhere’. This bus is always departs on time, no matter how much the passenger in it. The crews are helpful, too. The good part of this bus is they don’t do transit at the usual place outside the route, like other buses do to pick up passenger, such as Kampung Rambutan, UKI, and Padalarang. They just go straight forward to the destination and do transit if the place is in the route, like in Pasirkoja, Kopo, and around Cibubur πŸ™‚

Sadly, you need extra time if you want to use this bus from Northern Dago, and the bus sometimes not available at evening.

2. XTrans Shuttle

Type : Shuttle car (or ‘travel’) with orange-or-brown color

Route : Cihampelas Oncom Raos – Pasteur’s xtrans Last Minute Point – Cibubur Point Otomotive Center (near the Cibubur’s flyover that headed to Cibubur Junction. Its place is near Hanamasa Cibubur)

Facilities : Air-conditioned, free bottled mineral water, quite big seat

Schedule : Every two hour between 06.00 to 18.00. Please ask the office for the further details.

Tariff : Rp 85.000 (per November 2013). There is special price for student (Rp 75.000) by showing your Student ID card

Payment method : Cash and all debit card are accepted

Recommended for people heading to :

Bandung : Pasteur, Cihampelas, Northern Dago

Cibubur : all around Jalan Transyogi between Raffles Hills and Cibubur Junction

Review:

Based on my personal experience with any shuttle car, I’ll choose xtrans because of their excellent service, and if there are no cititrans shuttle car at the destination. Their route is near to my place in Bandung and easy to follow, the staffs are also helpful, either in Bandung or Jakarta

The bad part is, their place in Cibubur is very far from my house.

3. Baraya Travel

Type : Shuttle car (or ‘travel’) with white color

Route :

Jatiasih (beside Giant Jatiasih) – Pasteur – Gasibu – PUSDAI – Surapati (at a gas station in front of PUSDAI)

or

Jatiasih (beside Giant Jatiasih) – Tol Buahbatu – Jalan Soekarno Hatta (at the Soekarno Hatta – Buah Batu intersection)

Facilities : Air-conditioned

Schedule :

To and from Buahbatu: 07.00 11.00 15.00 19.00

To and from Surapati : 08.00 12.00 16.00 20.00

Please ask the office for the further details.

Tariff : Rp 70.000 (per November 2013). There is special price for student (Rp 50.000) by showing your Student ID card

Payment method : Cash only

Recommended for people heading to :

Bandung :

Surapati route : Pasteur, Cihampelas, Northern Dago, Cicaheum

Buahbatu route : Buah Batu, Batununggal, Parakan, Kiaracondong, Dayeuhkolot, Moh. Toha

Cibubur : Jatiasih, Komplek Vila Nusa Indah 1 2 3 5, Komplek Bumi Mutiara, Sakura Residence 1 2, Kota Wisata, Legenda Wisata, Komplek Citra, Kranggan, and people that don’t want to feel the Transyogi’s traffic jam πŸ™‚

Review:

This company is known for their cheapest prices if compared with other company with same business. Nowadays their service are good and the customer services are helpful. Sadly they don’t provide bottled mineral water and they have long transit time (about half to one hour) in KM 57 checkpoint, either the paseengers want to use it or not, and I think it quite wasting time.

4. Cipaganti Shuttle

Type : Shuttle car (or ‘travel’) with silver color

Route :

from Bandung : Pasteurpoint (beside Pertamina Gas Station, before Immanuel Church if heading from Jembatan Pasupati) – Cibubur Times Square (in the same complex with Ace Hardware)

from Jakarta:Β Cibubur Times Square (in the same complex with Ace Hardware) – Pasteur (in front of BTC)

Facilities : Air-conditioned, free cup mineral water, quite big seat if compared with xtrans

Schedule : Every two hour from 06.30 to 20.30 if I’m not mistaken. Please ask the office for the further details.

Tariff : Rp 90.000 (per November 2013). There is special price for student (Rp 80.000) by giving your Student ID card photocopy to the staff during transaction

Payment method : Cash and debit card except BCA.

Recommended for people heading to :

Bandung : Pasteur, Surya Sumantri

Cibubur : all around Jalan Transyogi between Komplek Citra Gran Cibubur and Cibubur Junction, Kranggan, Kota Wisata, Legenda Wisata

Review:

The good thing about this shuttle car is the big seat and free – flow drinking water. But there are some bad side too. Although they have many destination around Jakarta and Java Island if compared with other shuttle car company, I’m not recommending you to use this shuttle car. Their service are lousy and sometimes there are different information between the customer service and the staff at the office.

If you want to use taxi in Bandung, like Bluebird etc, after arrive from Jakarta, I’m not recommend you to use this shuttle car because their arrival point is far from other taxis station and you are forced to use their official taxi : Cipaganti Taxi.

That’s the review based on my own experience, the choice is yours.

Arite!: Arisannnya TERRANITA

Hari ini, saya bersama para wanita perkasa (dalam tulisan ini akan disebut sebagai TERRANITA) ditraktir makan sama TERRANITA 2010, sekaligus mengawali rangkaian acara arisan TERRANITA.

Hari ini acaranya di D’Cost Setiabudhi, acaranya seperti biasa, makan, ngobrol, dan, spesial kali ini, kocokannya bukan untuk menang arisan, tapi untuk ngambil kado karena konsep acara kali ini adalah tukar kado. Posisi duduk saya kali ini terpisah sama angkatan saya, karena saya terselip di antara Kak Niya, Kak Sarah, Kak Bilqis (2007) dan Kak Via (2008). Makan gratis kali ini dijatah dan saya segrup dengan kakak-kakak yang tadi disebutkan namanya. Ternyata, grup kami merupakan pemenang makan tercepat se arisan ternit, sampai se tulang-tulangnya bersih, bahkan sampe minta jatah ke grup sebelah sakimg lapernya. Kalau istilah Kak Niya, grup kami kerjanya cepet, tidak terlihat, dan emang paling laper. Udah gitu, grup kami pesen minumnya paling banyak euy (tapi bayar sendiri). Maklumlah, setelah tantangan lihat-makanan-dulu-di-depan-mata-selama-setengah-jam-dan-tahan-air-liur, kami langsung kelaperan. Gak tahan euy.

Habis puas makan, langsung acara tuker kado. Sistemnya kita kayak ngambil nomor undian. Aku dapetnya nomor 30, isinya jajangmyeon dari Kak Anjai πŸ™‚ Kayaknya aku harus belajar bikin jajangmyeon deh, soalnya tadi pada pengen semuaa. Kalau kadu dari aku, nomornya 15 (tinggal dibagi 2), yang dapet si Nyanya. Ngomong-ngomong, dulu jakornya si Nyanya juga ngambilnya di aku. Gatau nih ntar si Nyanya dapet apa lagi, hehehe.

Udah, itu aja laporan hari ini. Makasih yaaa adek-adek 2010 πŸ™‚

Antara Gang Sempit dan Asia Afrika: Sebuah Perjalanan

Ceritanya hari ini saya sama TERRAKRISTAL makan bareng di Restoran Gang Sempit di daerah Pasar Baru. Menunya seperti biasa adalah ayam-kaki-empat. Sebenernya si Bos Nando agak sedih juga karena yang ikut cuma dikit, maklum, akhir bulan. Tapi yasudahlah, karena udah pada ngiler jadinya dijadikan sajah.
Sekitar pukul 19.00, saya, Nando, dan Nuel nyampe di tempat eksekusi, dianterin sama Pabon. Sampe sana, cuma disambut sama Monique dan Simus yang lagi berduaan (jadi inget masa lalu #eeeeeeeh). Sekitar sejaman kemudian, semuanya baru pada ngumpul.Total yang ikutan sekitar 14 orang. Yang paling seru sebelum makan adalah ujian menahan nafsu. Jadi, 15 menit sesudah saya nyampe, makanan baru dipesan lalu beberapa menit kemudian makanannya dihidangkan. Sayangnya, ada beberapa orang yang nyasar jadinya harus ditungguin. Yang (mungkin) gak kuat nahan pada keluar semua, sedangkan saya termasuk orang yang bertahan di dalam (walaupun harus menahan air liur selama setengah jam sambil melihat makanan enak di depan mata, laper lagi). Setelah udah kumpul semuanya, baru doa makan, dan acara makan-makan yang cukup brutal. Maklum, makanannya gak nahan enaknya. Buat yang bisa makan, menunya ada babik kecap (yang lemaknya dikit, jadi gw bisa makan), mi goreng babik, dan babik cah jamur. Buat yang gak pemakan, ada udang asam manis (yang sausnya enak banget), capcai, dan mi goreng ayam. Porsi di Gang Sempit rada brutal banyaknya, kalau dibandingin sama Bakmi Fajar yang ada di deket rumah dan biasa dipesen nyokap, masih banyakan Gang Sempit, tapi khusus untuk mi goreng saya masih lebih suka Bakmi Fajar karena pake mi basah yang bulet-bulet itu, gak kayak Gang Sempit yang bentuk mi-nya kayak Bakmi G*M. Saking gak nahan enaknya, ada yang tadinya gak makan jadinya malah ikutan makan dan yang niatannya diet jadi kalap makan. Maklum, enak banget sih rasanaya. Kebanyakan pada mesen buat makan disini lagi, saking enak dan murahnya. Abis makan, langsung ngobrol-ngobrol buat minta masukan dan mendengar curhatan. Pas lagi di tengah acara, ternyata temen Navs saya, Merwyn dan teman-teman CC-nya makan di Gang Sempit juga, jadinya JoshNick sama Vanno pindah haluan ke Merwyn.
Udah kenyang dan bahagia makan, sekitar pukul 20.30 kami kembali ke aktivitas masing-masing, yang mau futsal gratis ke YPKP, yang mau pulang ya silakan kembali. Sebelumnya, Nuel beli bola ubi di depan Gang Sempit yang enak banget menurut saya dan teman-teman (ubinya kerasa manisnya pas dan tepungnya gak banyak, kalau masih panas garing banget), rupanya dia ikut ketagihan setelah tadi nyicipin punya Pauline. Setelah beli bola ubi, Saya, Nando, dan Nuel berencana naik angkot, tetapi sebelumnya kami jalan kaki dahulu menyusuri Jalan Asia Afrika buat ketemu sama Dago-Kalapa (karena saya lupa kalau mau ketemuan sama Dago-Kalapa naik angkot yang mana dulu). Sepanjang jalan, ketemu sama Alun-Alun Bandung yang ada mesjidnya. Tak lama kemudian, di sebelah kiri kami ada Gedung Merdeka yang buat Konferensi Asia-Afrika yang dulu sering kami temui di buku pelajaran sejarah. Ternyata pada malam hari masih banyak orang yang beraktivitas di sekitar sana, seperti komunitas skateboard yang sedang berlatih, orang-orang yang belajar fotografi, atau orang yang hanya sekadar mengobrol dengan rekannya sambil menikmati malam. Agak jauh sedikit, kami melintasi Hotel Savoy Homann di sebelah kanan, lalu gedung-gedung tua yang cukup apik di kiri kanan jalan. Serasa seperti kembali ke saat-saat bersejarah yang diceritakan di buku pelajaran sejarah dahulu, apalagi didukung dengan gedung-gedung tua yang cukup apik dan penerangan yang elegan, tidak terlalu silau, tidak terlalu gelap, sehingga cukup menimbulkan nuansa artistik. Tidak lupa kami melewati Nasi Goreng PR yang cukup tersohor itu. Sayangnya kami baru makan jadi saya tidak berani memesan satu porsi untuk dibawa pulang. Sekitar beberapa ratus meter kemudian, suasana romantisme gedung tua berubah menjadi deretan gedung bank di kiri kanan jalan. Saya, Nando, dan Nuel kadang-kadang tertawa melihat gedung bank yang berderetan sepanjang jalan, sepertinya hampir 80% bank di Indonesia punya cabang di sana. Apalagi ada bentuk gedung bank yang kadang seperti menonjol sendiri, seperti gedung bank yang hanya berupa sebuah rumah terjepit di anatara dua bank yang gedungnya tinggi, atau gedung bank berdesain ultramodern di antara gedung berdesain klasik. Selama jalan malam itu, saya jadi teringat kembali saat wisata bersama keluarga menyusuri jalan di Singapura. Bedanya, di sana trotoarnya lebih bersahabat sehingga lebih nyaman di jalan, sedangkan di sini trotoarnya kurang nyaman, terkadang saya, Nando, dan Nuel harus berjalan di jalanan kendaraan karena tidak bisa lewat. Sekitar 15-20 menit kemudian, kami tiba di persimpangan Simpang Lima untuk naik angkot Dago-Kalapa ke arah Dago. Saya pulang ke kosan, sedangkan Nando dan Nuel ke beskem.
Demikianlah perjalanan hari ini. Maaf postingnya kepanjangan.

Total Kerusakan:
Menu lauk di Gang Sempit: sekitar Rp 30.000,- sampai Rp 40.000,- per porsinya, tapi satu porsi bisa untuk 2-4 orang saking banyaknya
Nasi Putih: Rp 4.000,-
Bola ubi: satunya Rp 700,- tapi kalau beli tiga buah jadinya Rp 2.000,-
Bayar angkot: aslinya sekitar Rp 3.000,- per orang, tapi ditambahin karena udah malem

Lembang ‘Trip’

Hari Sabtu kemarin, saya sama temen-temen jalan-jalan ke Lembang, untuk mengunjungi situs Sesar Lembang. Perjalanan dimulai pukul 06.15 dari kosan saya yang terletak di puncak bukit. Karena buru-buru, jadinya gak sempat menyiapkan makan siang berupa bihun goreng(padahal bahannya udah disiapin). Terpaksa deh membeli nasi kuning dekat kosan. Buru-buru lari ngejar angkot untuk ke kampus, ngintip sebentar ke kosan teman, dikirain saya ketinggalan, ternyata malah saya yang duluan.

Dari kosan, saya naik angkot ke kampus yang merupakan titik pertemuan kami. Ternyata saya sampai kampus duluan, malahan masih sempat pakai sepatu, dandan sedikit *eh, sama sarapan pagi. Sampai kampus baru sadar kalau nanti di situs yang dikunjungi gak ada makan siang, yaudah pasrah kelaparan aja deh.

Berangkat pukul 07.30 bersama Om Gusde, Pak Budi Brahmantyo, sama Waskito. Pas sampai Kafe Halaman, si Om galau mau lewat mana, akhirnya diarahkan jalan ke situsnya sama Pak Budi. Karena lewat ‘jalan tol’, jadinya kami sampai terlalu cepat, sekitar 20 menitan kali. Waskito langsung meninggalkan kami untuk menjemput rombongan yang lain, jadinya saya sama OmGusde nemenin Pak Budi nungguin bocah-bocah yang belum nyampe tersebut. Pak Budi sibuk bikin sketsa, saya sama si Om mengambil gambar melalui ponsel, kalau ada yang gak dimengerti kami curi-curi untuk nanya ke Pak Budi. Tidak lama kemudian, Isal sama Nunu sampai di situs. Karena rombongan kelamaan datangnya, Pak Budi ngajakin kami ngopi i warung dekat situs tersebut. Isal sama Pak Budi ngemil sambil minum kopi, saya sama Om Gusde nyobain hampir semua cemilan di warung tersebut. Udah kenyang, karena si bapak duitnya berwarna biru, akhirnya kami dibayarin. Jadi gak enak, makasih ya, Pak!

Beberapa menit setelah kami meninggalkan warung tadi, rombongan pun datang. Langsung aja sama Pak Budi diajakin naik ke Gunung Batu, situs pertama yang kami kunjungi. Di sana kami dijelaskan tentang Sesar Lembang dan asal usulnya. Setelah dirasa kurang puas jika melihat dari perhentian pertama kami, si bapak ngajakin lagi buat naik ke puncak gunung. Rombongan pada mendengarkan penjelasan Pak Budi tentang cekungan Bandung (dan ternyata banyak fakta unik yang baru saya ketahui), sedangkan saya, Om Gusde, dan beberapa teman sibuk mengagumi keindahan Kota Bandung dari puncak Gunung Batu. Setelah sesi di puncak gunung selesai, kami turun untuk menuju perhentian selanjutnya. Karena saya fobia ketinggian, maka saya turun duluan biar gak panik ketinggalan.

Dari Gunung Batu, kami menuju singkapan Sesar Lembang yang ada di dekat Bosscha sebagai situs kedua yang dikunjungi kali ini. Pas udah dekat Bosscha, Pak Budi menunjuk ke arah suatu bukit untuk memberitahu kami bahwa itulah situs berikutnya. Saya hampir menjerit karena tempat itu tinggi sekali (saya fobia ketinggian) . Ternyata setelah tiba di situs tersebut, masih lebih ngeri Gunung Batu. Situs kedua yang dikunjungi merupakan singkapan sesar Lembang yang terletak di tengah kebun cabe dan kol dekat Observatorium Bosscha (tau gini bawa nasi, terasi, garam, bawang, ulekan, dan ikan asin goreng buat makan siang). Lebih elit dikit daripada kebun bapak saya. Saya sama Om Gusde baru pertama kali ke arah Bosscha, keliatan deh bingungnya sambil mikir Bosscha di mana, jadinya si bapak dengan antusias menunjukkan Bosscha di mana. Kata beliau, kalau mau ngeliat bintang dateng ke Bosschanya malem hari, tapi kalau mau ngeliat pemandangan sekitarnya datengnya siang-siang. Hampir saja saya sama Om Gusde nanyain kebunnya Pak Ardiwilaga (yang di Petualangan Sherina) dimana. Karena rombongan kelamaan datang, saya, Om Gusde, dan Pak Budi masih sempat foto-foto dulu. Bahkan si bapak karena kelamaan nunggu malah mencari pohon untuk berteduh sambil mendengarkan lagu jazz. Ternyata si bapak gaul dan asik juga, sepertinya. Beberapa menit kemudian, rombongan datang dan acara dilanjutkan lagi. Ternyata acaranya mulai kecepetan, jadi masih pada sempet nanya ke bapaknya. Puas deh.

Abis jalan-jalan belajar tentang Sesar Lembang, lanjut acara keakraban sampai sore. Seru deh, pokoknya πŸ™‚ Pulangnya sekitar pukul 16.00 bareng Nando, Ajay, Om Gusde, sama Ovy. Tadinya mau lanjut ke Punclut atau Majalaya, namun karena udah pada tepar jadinya langsung pulang. Pokoknya seneng banget abis jalan-jalan soalnya pemandangannya keren banget dan banyak ilmu baru yang didapat.

Keesokan harinya, muka langsung belang, perih banget rasanya, kayaknya efek terbakar sinar matahari (sunburn). Langsung ga berani keluar rumah untuk beberapa hari, kalau keluar-keluar ya pake sunblock. Kayak ke pantai aja.

 

ternyata oh ternyata

seminggu ini super hectic ngursin urusan registrasi akademik, tiap hari kerjanya bolak balik kosan-kampus-kosan. bukan untuk kuliah. bukan buat motivasi lain. cuma buat ngurus masalah akademik.

hari pertama, nyampe Bandung, niatan ngambil transkrip. transkripnya belom jadi, katanya si bos belom tanda tangan. langsung pulang, tunggu sampai besok harinya.

hari kedua, udah niatan mau bobo cantik, liat nilai di situs keramat, ada yang T. super panik, mana temen gw si pakar akademik bilang gw harus ngurus ke dosen-dosen karena gw pindah kelas, mau nangis rasanya, soalnya udah sering banget ngurusin mata kuliah yang T ini karena alasan-alasan absurd seperti tugas gw tidak sengaja hilang setelah dikumpulkan, padahal catatan kriminal gw ga ada. ke TU (lagi), niatan cek transkrip biar bisa disambi nanya dosennya dimana, ternyata katanya nilai gw T karena kesalahan sistem. terharu rasanya. transkrip pun didapat.

hari ketiga, ngurusin masalah akademik. udah di loket, ternyata ada berkas yang ga ada karena gak dikasi tau di laman petunjuk dan peraturan yang berlaku adalah yang di loket. udah mulai stres. ke TU lagi, urus berkas terakhir itu, ternyata butuh fotokopi KSM. udah capek hati, pulang ke kosan, nelpon nyokap malah disemprot balik, tambah males. jadinya sore ke TU, nyerahin syaratnya, sekalian ke himpunan buat kumpul tahun baruan, biar gak rugi.

hari keempat, niatan mau perwalian sama bos wali. setelah semalaman begadang galau mata kuliah, pagi-pagi bangun telat untuk suatu urusan. soal milih mata kuliah, udah dua kali ngeprint karena ganti mata kuliah dan pas berangkat kuliah galau lagi dan berniat mengganti. sampai kampus telat, belomsarapan sama sekali, dan langsung diajakin olahraga pagi, rasanya keleyengan banget, langsung cabut pas menjelang tepar, daripada kumat lagi dan rugi 6 bulan. abis olahraga pagi, curi-curi sarapan, tapi udah gak kuat buat makan, jadinya sepertiga yang biasa. abis makan, masih keleyengan, perwalian sama bos wali. kata beliau pas gw dateng, transkrip semester ini belom ada dan beliau butuh itu, ditambah lagi form perwalian gw yang udah dikumpulin belom ada. terus si bos bilang terancam perwalian besok dan besok beliau tidak dijamin bisa ditemui. ke TU (lagi), niatan ngambil form perwalian, malah dititipin transkrip buat mahasiswa perwalian si bos. lanjut lagi perwalian, galau lupa ganti mata kuliah, ditunda lagi karena printer dan laptop si bos lagi error, sekalian si bos nitip map buat form perwalian gw, biar oke katanya. balik dulu ke acara sama temen, terus curi-curi lagi print form perwalian edisi ketiga sekalian beli map, terus perwalian lagi. tepar.

pulang ke rumah, ternyata gw baru sadar kalau sekarang lagi siklus bulanan. pantesan gampang emosian.

Kelas Kecantikan Farmadays

Hari ini saya ikut Beauty Class yang diadakan oleh HMF Ars Praeparandi ITB. Niatan ikut Beauty Class sebenarnya cuma supaya bisa make peralatan makeup dengan baik dan benar karena tingkat kebodohan saya dalam hal ini sangat besar. Selain itu, segenap keluarga kosan dan keluarga di rumah saat mendukung πŸ™‚ Lumayaaan.

Pas masuk, dapet goodie bag dari The Body Shop dan Wardah. Dari Body Shop dapetnya sabun, body lotion, dan spons mandi. Β Dari Wardah dapetnya lipstik sama sunscreen. Lumayaaan. Posisi tempat duduknya berkelompok, saya bareng Kak Alin dan Talitha, terpisah dengan geng TERRANITA.

Sesi pertama diisi oleh perwakilan dari Body Shop. Beliau menjelaskan bagaiman cara perawatan kulit tubuh yang baik, habis mandi langsung pake lotion biar kulit tetep lembab. Lalu setiap minggu diusahakan pake body scrub dan/atau body mask. Kalau pake body mask, susunan mandinya jadi mandi, scrubbing, masking, dibilas, terus pake lotion.

Abis sesi dari The Body Shop (yang bikin ngiler pengen beli produknya), langsung dilanjutkan dengan makeup class dengen Wardah. Di sini dijelasin step by step makeup yang baik dan benar dan warna serta dandanan yang cocok untuk segala suasana. Karena saya sukanya yang simpel, maka makeup yang diaplikasikan pada muka saya tipis-tipis aja, gak menor kieu, malahan kata mbaknya saya mengaplikasikannya terlalu tipis. Pokoknya hasilnya lebih keren deh πŸ™‚ Jadi pengen sering make makeup, tapi rebek ah.

Abis Beauty Class, malem-malem si mama nelepon, saya ngasitau kalau saya udah bisa dandan, mama malah bersorak kegirangan.