Review : Dendeng Batokok Dago, Masakan Padang Tanpa Santan!

Sebenarnya sudah sering lewat dan makan di sini, udah upload di Instagram juga, tapi baru sempat tulis reviewnya sekarang.

Karena signagenya yang lumayan catchy, dan karena teman-teman di grup angkatan -yang pada suka membahas masakan Padang- membahas dendeng batokok, saya jadi kepengen. Nah, kebetulan, si restoran Dendeng Batokok ini ada di dekat kosan saya, kalau jalan kaki masih nyampe lah, masih jauhan Kantor Pos Dago Atas.

Pas masuk ke arena makan, langsung serem, karena takutnya mahal. Interiornya seperti kafe! Di bagian depan, ada display sampel makanan, tapi di dalam kaca. Pesanan kita baru akan dimasak setelah dipesan. Β Tanpa ragu-ragu, langsung pesan Dendeng Batokok. Pesanan cukup cepat lah sampainya, standar resto padang.

Pesannya sih cuma nasi sama dendeng batokok, tapi yang tiba itu nasi-dendeng batokok-kuah sop iga-lalap sayur berupa timun, selada, dan labu siam rebus-serta sambal. Dengan kata lain, bisa dibilang sebagai bakbik-panggang-karo versi sehat dan halal. Syedap.

Kembali ke dendeng batokok. Setelah dimakan, sepertinya daging dendengnya dibakar, karena ada sensasi somkey-nya. Dagingnya empuk dan sambal hijaunya tidak terlalu pedas. Rasa dagingnya juga seperti BPK! Senaaaaang!

Karena senang, jadilah kunjungan berulang kesini, bersama partner-in-crime. Dia doyan juga soalnya. Yasudahlah. Jarang-jarang ini selera makannya setipe. *eh kok jadi curhat ya*

Selain dendeng batokok, ada menu lain seperti nasi goreng, ayam bakar, dan lain-lain. Yang pasti minus santan. Untuk yang lagi clean eating sepertinya juga bisa makan disini πŸ™‚

Ke sini lagi? Nanti ya setelah Lebaran.

===

DENDENG BATOKOK DAGO

Jalan Ir H Juanda (sebelah Borma Supermarket)

Jam buka : 11.00 – 24.00 (pernah malam mingguan disini sampai dikode sama pelayannya)

Harga : di bawah Rp 50.000,- per menu

Advertisements

Review : Sari Sari Aneka Jajanan Pasar, Bandung

Semua berawal ketika negara api menyerang saya jalan kaki ke rumah bos saya, terus di jalan ada tukang klepon enak dan kleponnya baru diangkat dari kukusan. Sayangnya kalau pengen klepon lagi, agak jauh jalannya jadi pegel.

Lalu, baru ingat, kalau sering baca review tentang Sari-Sari di blog yang sering saya kunjungi. Katanya sih enak, kuenya lengkap, dan harganya terjangkau. Selain itu, akhir-akhir ini konsumsi berupa snack dari acara Prodi atau Fakultas selalu pakai Sari-Sari. Kebetulan mau meetup Postcrosser di Jalan Banda juga, jadinya kan sekalian lewat, itung-itung ngirit ongkos.

Jadilah saya mampir ke Sari-Sari demi sebuah klepon. Waktu itu pukul 11.00 WIB.

Posisi Sari-Sari terletak di depan Total Buah Tirtayasa. Gedungnya berbentuk rumah jadul Belanda, kesannya seperti makan di rumah teman. Begitu masuk, bisa dilihat etalase yang menyajikan berbagai kue-kue jajanan pasar serta menu-menu sarapan yang dapat diambil dengan sistem swalayan. Ada juga makanan kering dan cemilan khas Bandung yang dijual di sini, namun di etalase depan kasir. Tampilan interiornya saya suka, terkesan nyaman, dilengkapi dengan hiasan-hiasan berupa gambar dengan penjelasan beberapa kue yang dijual. Desainnya terkesan jadul tapi tidak norak, selain itu etalasenya cantik, jadinya setiap kesini pasti saya foto terus upload ke Instagram πŸ™‚ Sistem belanja di sini adalah ambil makanan yang mau dibeli lalu bayar ke kasir. Nanti di kasir akan ditanyakan apakah akan dimakan di tempat atau dibawa pulang? Kalau dimakan di tempat, makanan yang dipesan akan dipindahkan ke wadah saji berupa piring bambu, mangkok melamin, atau piring keramik, tergantung makanan yang akan dimakan. Di sini teh tawar panasnya gratis dan free refill. Yang membuat serasa di rumah, mug untuk penyajian teh tawarnya tidak ada yang sama πŸ™‚

Cerita klepon tadi bagaimana? Sayangnya, kali ini saya kalah tempur karena kleponnya habis diborong sama seorang ibu, di depan mata saya, karena saya kurang sigap. Yasudahlah. Tapi masih terhibur karena bisa menemukan kroket kentang isi daging dan choi pan, yang susah ditemukan di Bandung Raya ini.

Kali kedua ke sini, masih dengan misi mencari klepon. Klepon dapat, namun choi pan tidak. Maklum, datangnya pukul 11.30, di saat weekend, dan setelah ada kunjungan ibu-ibu yang berwisata ke Bandung menggunakan bus pariwisata. Saat kunjungan ini, melihat kwetiau goreng di etalase, namun tidak sempat beli.

Kali ketiga ke sini, hari Minggu jam 12.00, tiba-tiba ingin kwetiau goreng di Sari-Sari, namun kehabisan, tinggal kroket kentang saja. Yasudahlah. Mungkin harus lebih pagi lagi. Sempat nanya ke kasir di sini tentang jam buka tempat ini, katanya sih pukul 05.00 udah buka, tapi hasil googling saya mengatakan kalau bukanya puku 06.00. Entahlah mana yang benar.

Kali keempat kesini, datang sekitar pukul 09.00, dan sudah ramai saja, padahal weekdays lho! Hari ini akhirnya dapat kwetiau gorengnya :”) Rasanya seperti menang perang! Langsung beli 2, satu buat makan di tempat dan satu lagi untuk bawa pulang. Pas belanja di sini, terlihat bahwa untuk kue-kue yang populer, bisa saja dalam sejam sudah habis.

Jenis kue yang dijual di Sari-Sari memang cukup lengkap, hampir seluruh jajanan pasar di Indonesia yang cukup populer ada di sini. Namun, saran saya, kalau kehabisan, silakan kembali lagi esok hari. Saat kehabisan klepon waktu itu, dapat bocoran dari bagian dapurnya, kalau suatu jenis kue sudah habis maka tidak akan ada restock untuk hari itu.

Untuk soal harga, setiap kue yang dijual di sini harganya sangat terjangkau, memang lebih mahal dari di pasar tradisional namun sama atau lebih murah dari harga kue danusan kampus atau kue di kantin kampus. Makanya saya sampai beberapa kali kesini, hahaha.

Ke sini lagi?

===

SARI SARI ANEKA JAJANAN PASAR

Jalan Sultan Tirtayasa No 17 Bandung (depan Total Buah)

Jam buka : 05.00 – 19.00 (kata kasirnya)

Range harga : di bawah Rp 50.000,- untuk setiap menu

Review : Warung Boncell Kota Baru Parahyangan

Akhirnya setelah didera deadline berlebihan bisa nulis review lagi :’)
Seperti biasa, tempat yang saya review umumnya memberikan pelayanan luarbiasa memuaskan untuk saya yang tampangnya super tidak meyakinkan ini, jadi mestinya sih terpercaya.

Langsung masuk saja ke inti review ya πŸ™‚

Kemarin, secara impulsif, saya dan teman-teman tiba-tiba ingin melihat matahari terbenam. Karena saat itu waktu menunjukkan jam lima sore, maka pilihan yang tersisa adalah Warung Salse Dago dan Kota Baru Parahyangan. Karena teman-teman saya sekalian ingin lari malam, maka pilihan jatuh ke Kota Baru Parahyangan.

Bertujuh, akhirnya kami bergerak menuju Kota Baru Parahyangan dengan menebeng mobil Nina. Oiya, lupa saya jabarkan, saya pergi bersama dengan teman-teman dari Nebengers #TeamBandung lho! Jadi jalan-jalan kami full sharing macem-macem. Ada yang share nyetir, mobil, bensin, biaya tol, parkir, gorengan, bahkan doa! Saya kebagian bayarin parkir sama tol, hehehe. Seru kan? Makanya join Nebengers! *iklan terselubung*

Tiba di Kota Baru Parahyangan jam 6.30 petang, maka cerita mau lihat sunset batal. Karena teman-teman yang Muslim mau shalat, maka pitstop pertama adalah Masjid Al-Irsyad di Kota Baru Parahyangan, yang kami sebut sebagai Masjid Ridwan Kamil, karena yang merancang adalah Kang Ridwan Kamil (Walikota Bandung). Sambil menunggu shalat, saya dan teman saya yang tidak shalat tidur-tiduran di dalam masjidnya, ternyata interiornya bagus ya πŸ™‚ view keluarnya pun keren banget *jadi pengen nanti kalau nikah di chapel yang viewnya bagus, atau outdoor di puncak bukit sekalian yang penting viewnya bagus*

Setelah teman-teman saya shalat Magrib dan Isya, maka perjalanan pun dimulai. Teman-teman saya yang tergabung dalam NebengersBandungRunners (Papato, Ruli, Azkal, Nina) berganti kostum untuk lari malam dengan rute Masjid Al Irsyad – Bale Pare, sedangkan saya, Rhea, dan Alpi masuk ke mobil Nina untuk menuju Bale Pare. Rhea tidak ikut lari karena fisiknya sedang tidak memungkinkan, sedangkan saya dan Alpi tidak lari karena ga bawa perlengkapan lari.

Sampai di Bale Pare, hal yang pertama kami lakukan adalah mencari tempat makan. Oiya, Bale Pare ini merupakan food court outdoor di Kota Baru Parahyangan. Kalau siang hari, di lantai 2 Bale Pare ada studio 4D yang memutar film-film edukasi. Karena Rhea sedang ingin makan yang lebut dan hangat, kami berupaya mencari bubur. Namun tidak ada kios yang menjual bubur. Setelah muter-muter, akhirnya pilihan jatuh pada Warung Boncell karena satu hal sepele, tempatnya tertutup sehingga Rhea yang sedang sakit tidak akan kedinginan.

Saat tiba di Warung Boncell, ada suatu kejutan yang membuat hati kami hangat :’)
Teteh pelayannya sangat ramah, bahkan menanyakan kondisi Rhea yang sedang sakit serta merekomendasikan menu yang bisa dinikmati oleh Rhea supaya lekas sembuh. Rasanya seperti di rumah sendiri πŸ™‚

Akhirnya Rhea memesan nasi dan sup, Alpi memesan bandeng presto, serta saya memesan nasi ayam asam manis. Ayamnya disini bisa dipilih, mau ayam seperti dada paha sayap atau ayam fillet (Dan tentu saja saya pilih fillet). Penyajian di warung ini lumayan klasik, untuk teh hangat disajikan dalam gelas enamel, sedangkan makanan khas Sunda di piring anyaman bambu beralas daun pisang. Makanan lain disajikan di piring melamin. Untuk saus semuanya disajikan terpisah. Pelayanannya pun cukup cepat, sekitar 10 menit makanan sudah terhidang.

Untuk rasa, bandeng prestonya rasanya pas, supnya enak, dan ayamnya biasa saja. Poin plus dari warung ini tetap pada pelayanannya. Saat makanan disajikan, pelayannya menanyakan apakah rasa makanannya cukup atau ada yang kurang. Selain itu, untuk Rhea yang sedang sakit, pelayannya menawarkan untuk menambah merica pada supnya agar stamina Rhea bertambah. Kalau kata teman-teman saya yang cowok, pelayannya nih tipe istri idaman.

Setelah setengah jam menunggu, akhirnya teman-teman NebengersBandungRunners tiba di Bale Pare. Katanya sih kelamaan lari karena kelamaan foto-foto πŸ˜€ Mereka pun memesan menu makanan seperti bandeng presto yang kemudian dibagi rame-rame. Puas ngobrol, dan memang sudah waktunya Warung Boncell tutup, maka kami kembali ke Bandung dengan hati hangat :’)

Oiya, nama pelayannya itu Teh Eka #JustInfo

Kesini lagi? Mungkin. Kalau misalnya teman-teman ngajakin main ke Kota Baru Parahyangan lagi.

====

WARUNG BONCELL

Kawasan Bale Pare, Kota Baru Parahyangan

Jam buka : 09.00 – 22.00

Range harga : di bawah Rp 50.000,- untuk setiap menu

Review : Mom’s Bakery Bandung

Ceritanya, Rabu kemarin, saya bersama Gaby Hanna, Neni Puspa, dan Monica Raphita, mengadakan tour-le-bread keliling Bandung Raya. Entah bagaimana ceritanya, kami berakhir di Mom’s Bakery Bandung, karena Gaby harus mesen cupcakes buat kado temennya yang punya hajatan minggu depan. Katanya Monic sih enak dan cozy tempatnya, saya juga tambah ngomporin karena dulu pernah nyobain cupcakesnya dan emang enak kaaaak ~

Pertama kali nyampe tempatnya, langsung jatuh cinta. Tempatnya tipe-tipe kafe lucu di Bandung, posisi di rumahan, terus tempatnya serasa di rumah sendiri. Pas masuk ke dalam, wanginya enak banget :3 Begitu masuk, langsung disambut dengan deretan pameran isian roti yang menggugah selera, ada roast beef, turkey, smoked beef, smoked chicken, organic lettuce, organic vegetables, dan lain-lain yang keliatannya enaaaaakbanget, sayangnya baru banget makan, jadi ngga sempet mesen, takut nggak muat.

Langsung masuk ke topik utama, mesen cupcakes. Gaby sama Monic langsung nanya-nanya soal pesen cupcakes dekorasi, dan pelayannya menolong sekali, sampai ngasih sampel karya ke Gaby πŸ™‚ Sedangkan saya dan Neni lapar mata, sehingga berakhir dengan memesan roti tawar 70% wholemeal dan sheperds pie untuk saya serta cinnamon rolls untuk Neni.

Di tempat ini, sepertinya cocok banget buat yang mau makan-makan cantik sehat. Sebagai contoh, roti tawarnya sehat banget, mereka pakai olive oil sebagai pengganti butter dan cuma menyediakan dua jenis roti, yaitu multigrain dan 70% wholemeal. Ukurannya juga ada dua, yang small atau yang biasa. Saya tentunya pesen yang small dong, biar nggak jadi PR buat ngabisin rotinya, maklum, nasib anak kos. Untuk isian roti, mereka juga pake madu sebagai pengganti gula, dan sebagian besar menggunakan produk organik.

Yang paling saya suka di tempat ini, untuk sementara adalah sheperd’s pienya. Enak bangeeet! Tante Erla aja kalah! Cinnamon rolls punya Neni juga enak :9 Manisnya pas, sehingga yang ngga suka manis kayak saya bisa makan tanpa eneg. Sebanding lah dengan harga yang ditawarkan.

Oiya, selain roti tawar, sandwich, dan roti-rotian, di sini juga ada pie, cakes, hot coffee, teas, hot chocolates, dan macarons kok!

Kesini lagi? Pasti. Buat nyetok roti dan ngemil sheperds pie. Hahaha.

====

mom’s bakery

Jalan Progo No. 18 Bandung (sebelah Rocca, sejajar Hummingbird)

telepon 022 423 5383 (melayani delivery juga)

Range harga:

rotirotian : Rp 8.000,- sampai Rp 40.000,-

cakes dan pies : Rp 15.000,- sampai Rp 50.000,- per slice

cupcakes : Rp 20.000,- sampai Rp. 40.000,- per buah

sandwiches : Rp 20.000,- sampai Rp 50.000,- per buah

lebih lengkapnya silakan tanya petugasnya, maklum bukan saya yang punya πŸ™‚

Review : Wijde Blik Food and Gallery

Halo, kembali lagi di posting tentang review sesuatu yang mungkin baru, dan tentunya saya suka!

Kali ini saya mau review tentang Widje Blik Food and Gallery, sebuah restoran plus galeri yang ada di pertemuan Jalan Dayang Sumbi, Jalan Tamansari, dan Jalan Sumur Bandung.
Sebenarnya pas mereka baru buka, saya pengen iseng-iseng nyobain makan di sana, namun apa daya, ga sempet-sempet juga. Baru, bulan November lalu saya berkesempatan buat makan di sana, dibayarin sama Ica, katanya sih traktiran ulang tahun :3 Yaudah deh akhirnya meluncur ke sana ~

Pas udah nyampe, kesannya kita kayak makan di tempat semi-outdoor, seru deh! Terus tempatnya kayak artistik gitu, sayangnya lampunya remang-remang, jadi kalau ada diskusi kelompok agak ribet karena susah kalau mau baca-baca atau nulis-nulis.

Masuk ke menu, karena kami ada berempat, maka pasti akan ada empat makanan yang berbeda. Di restoran ini, makanan yang disajikan adalah makanan Indonesia, Barat, Jepang, dan Arab. Saya mesen spageti bolognaise, Ica mesen shawarma, Nanda mesen malaitika, dan Hanni mesen shrimp tempura. Kalau minumannya saya lupa, tapi kami memesan antara teh dan coklat. Tak lupa sosis sama kentang goreng sebagai cemilan, ditambah pannekoek buatan saya dan Ci Wiek yang berhasil diselundupkan.

Pelayannya cukup sigap, bahkan cenderung saling mendahului untuk melayani para pengunjung. Makanan pesanan kami pun bisa dijadwal kapan datengnya, mengingat kami bakal lama di sini (pas pulang baru tau kalau kami di sini selama TIGA JAM SAJA). Pas waktu makanan utamanya dateng, jamnya sesuai dengan pesanan, hanya saja pesanan si Hanni kok gak dateng-dateng ya -.- Tanpa ditanya, setelah beberapa lama, manager restorannya dateng dan minta maaf karena pesenannya Hanni ternyata ga bisa dibikin, karena setelah tiga kali dimasak, dan ga memuaskan melulu hasilnya, baru ketauan kalau udangnya ngga bagus 😦 Yaudah akhirnya diganti sama steak burger deh, dan datengnya cepet.

Makannya dilakukan dengan penuh kebahagiaan. Porsinya pas buat orangorang yang kelaparan seperti kami berempat. Udah selesai makan, kami tiba-tiba dapet buah segar gratis dari kokinya sebagai tanda permintaan maaf karena gagal bikin shrimp tempura. Kami terharu :””’)

Pas adegan bayar-bayar, harganya gak terlalu mencekik leher kok. Sebanding dengan kualitas.

Ke sini lagi? Mungkin.

Widje Blik Food and Gallery

Jalan Dayang Sumbi No. 10 Bandung

fore more info, just check their website here

Range harga : sekitar Rp 10.000,- sampai Rp. 150.000,- untuk setiap menu

that’s how we spent weekend : the nav09 ++ octobest celebration

Ceritanya, hari ini, warga Nav09 yang udah sah dikeluarkan dari ITB lewat Sabuga, berkewajiban ngadain traktiran dengan cara apapun. Masalah pertama, yang ditraktir cuma satu orang dan yang mentraktir ada empat, untunglah datang dua orang sebagai penyelamat dan ada yang gajadi paling ganteng sendiri.

Janjinya sih jam 5 sore, tapi berangkatnya jam 6. Sialnya hp gw ga bisa sms batch seperti biasa, jadi harus ketik manual, makanya banyak yang ga dapet sms. Maaf ya.

Kontraknya sih karokean, tapi karena pada laper, ya mari kita makan dulu. Makannya di Golden Monkey deket kampus, gw yang rekomendasi karena makanannya enak dan relatif murah, udah gitu sofanya banyak dan bisa ramerame ngumpul. Sayangnya banyak asap rokok dan terlalu temaram. Makan heboh udah pake cemilan dengan minum wine dan beer bertujuh ngga sampe 400 ribu rupiah. Buset. Udah gitu pada komen kalau makanannya enak dan KENYANG BANGET. Lucunya, kami duduk di depan cermin gede BANGET dan deket hiasan kepala badak (lelucon lokal).

Tujuan berikutnya, karoke. Kali ini iseng nyoba Diva yang di Jalan Sumatera. Kesan awal, tempatnya kayak bagus-bagus gitu, dan ternyata memang bagus. Milih lagunya pake layar touchscreen, hanya sayangnya ngga user friendly, karena layarnya ngga bisa dipindahin, coba pake layar yang terhubung dengan kabel panjang kayak mike, pasti lebih seru dan ga riweuh. Hari ini gw cuma milih satu lagu karena pilihan lagu dari temen-temen gw KEREN BANGET DAN GW SUKAAA ❀ ❀ ❀ Kok bisa aja hampir 50% lagu pilihan mereka itu lagu kesukaan gw, tanpa gw minta, jadi sayang banget sama kalian! Seneng banget deh pokoknya! Kekurangannya cuma satu, parkir susah banget dan bau rokoknya banget. Kayaknya fix harus keramas banget nih biar bau rokoknya ilang.

Karoke dua jam, terus pulang dianterin, dan siapsiap buat ulang tahun adik PA tersayang, Felicia Blandina. Sempet heboh juga ngasitau ke temen-temen buat sms si Felicia, fufufu.

Anyway, feels very HAPPY!