366 to first quarter

As my age increase, I realize that age is just a number.
And, each year, my hope for the next year, become more realistic than before.
Like a lamp guide a path, the lamp doesn’t show the far object, but the near object, maybe that’s life.

As long as everything is under control, it is OK. When it doesn’t work as planned, just switch to next plan.

Finally, I hope, when I end the first quarter next year, I will have something to be proud of, and, at least, make my parents and big bro happy.

As simple as that.

Advertisements

Pengalaman Daftar S2 di ITB

Ceritanya, yang punya blog ini udah ganti status.
Bukan status single jadi in a relationship (eh tapi kalau yang ini semoga sesegera mungkin), tetapi dari freelance researcher jadi grad student. Minimal ada status kerjaan yang jelas dulu deh setahun ke depan.

Berdasarkan timeline hidup saya sebelum 25 tahun, memang sudah direncanakan kalau tahun 2015 atau 2016 saya akan melanjutkan studi, dan atas anugerah Tuhan emang dapetnya di kampus gajah (lagi). Bukannya anaknya susah move on, tapi memang dikasihnya disini.

Sebenarnya saya sudah daftar di sps itb acid dari saat pendaftaran November 2014 dan Maret 2015, namun karena waktu itu dana belum tercukupi dan masih dalam proses seleksi di suatu perusahaan, makanya saya gak lanjutin. Baru pas April 2015 hati ini mantap untuk lanjutkan studi. Untuk urusan biaya, saya percaya, kalau Tuhan yang nyuruh buat kuliah pasti dananya cukup kok.

Syarat-syarat buat daftar S2 ITB cukup mudah kok dicarinya (dikutip dari sps itb acid), tapi yang saya bahas cuma buat yang Teknik Geofisika yaa

  1. Memenuhi nilai minimum TOEFL ITP 475 atau ELPT 77 dan TPA Bappenas >= 475
  2. Isi formulir online. Isiannya gak susah kok, cuma data diri, alamat, dulu s1nya dimana, dan pernah kerja dimana. Karena saya masih freelance, maka bagian pekerjaan saya kosongkan.
  3. Bukti biaya pendaftaran sebesar Rp. 400.000,- yang dikirim melalui BNI Perguruan Tinggi Bandung, Rekening Penampungan BPP S2/S3 (SPS) No. 0900001035, Jln. Tamansari No. 80 Bandung. Bayarnya bisa di BNI mana saja.
  4. Pernyataan tidak pernah drop out atau mengundurkan diri dari ITB (di atas materai Rp. 6.000,-). Format ada di formulir tambahan magister
  5. Salinan ijazah S1 yang telah dilegalisasi
  6. Transkrip Akademik yang telah dilegalisasi
  7. Foto berwarna 4cm x 6cm sebanyak 3 lembar, klise terbaru
  8. Surat Rekomendasi dari 2 orang (dosen atau atasan). Untuk surat rekomendasi, saya minta dari pakbos saya dan dosen pembimbing 1 saya dahulu. Dosen pembimbing 1 saya malah sempat bercanda pas saya minta surat rekomendasi, katanya khusus saya mungkin surat rekomendasinya satu saja. Nanti saja jelaskan mengapa.
  9. Formulir Tambahan Magister. Di formulir tambahan ini ada lembar yang harus diisi, yaitu daftar prestasi, kegiatan, dan publikasi; serta esai mengapa kita mau mengambil kuliah S2 di ITB.
    Untuk lembar daftar prestasi, kalau memang gak ada boleh dikosongkan, tapi jangan lupa kumpulkan lembar kosongnya pas pengembalian berkas.
    Untuk lembar esai, sejujurnya waktu itu saya bingung mau nulis apa. Akhirnya saya cerita kalau saya mau ngambil kuliah s2 lagi karena emang dari kecil mau jadi geopipis dan pas saya riset, ternyata saya butuh belajar lagi. Selain itu, saya juga menulis kalau nanti sudah lulus bercita-cita jadi geopipis spesialis geoteknik, biar bisa membantu pemerintah bikin bangunan yang bagus.
    Saran saya, untuk formulir tambahan ini, isilah sejujur-jujurnya. Pewawancara suka sekali membahas bagian ini, dan terkadang cukup menentukan lhoo.
  10. Sertifikat Nilai Asli Bahasa Inggris (Score Report) . Saya pakai hasil dari ELPT ITB – daftar di UPT Bahasa ITB, di Labtek 8, harganya cuma Rp. 75.000,- tapi saran saya daftarnya jauh-jauh hari biar ga deg-degan, apalagi kalau mepet waktu pendaftaran. Waktu itu saya daftar awal Maret, dapet tanggal tesnya pas 17 April pas ulang tahun si partner-in-crime Hasilnya lumayan lah, ternyata postcrossing lumayan membantu meningkatkan skill bahasa Inggris saya hahaha
  11. Sertifikat asliΒ Tes Potensi Akademik (TPA).
    atau
    Bagi calon mahasiswa Pascasarjana ITB yang berminat mengikuti TPA membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 325.000,- yang dikirim melalui BNI Cabang ITB, Rekening Penampungan S2/S3 (SPS-ITB) No. 0900001035 Jln. Tamansari No. 80 Bandung (selanjutnya bukti pembayaran dilampirkan dalam berkas lamaran). Karena saya gak sempat urus-urus TPA, jadinya saya ikut tes kolektif di ITB. Ternyata pas saya tes itu diadakan pas bulan puasa, di 10 hari pertama, dan di lantai 4 GKU Timur yang tinggi banget itu jam 7 pagi. Saya sih nggak puasa, tapi masalahnya nyari sarapan dimana ._. Hari sebelumnya lupa nyediain sarapan jadi pagi-pagi ga sempet sarapan. Untung ada biskuit digestive yang bisa dicemil di kamar mandi dan dengan pura-pura batuk saat tes. Hahaha.
    Untuk TPA, saran saya yang penting happy karena benar-benar dikerjakan di bawah tekanan. Gunakan 5 menit pertama buat scanning soal, karena terkadang soal yang gampang itu ada di bagian tengah atau belakang terus soal di nomor-nomor awalnya susah :))
  12. Surat keterangan sehat dari Dokter. Yang ini saya bikinnya di Bumi Medika Ganesha, di Gelap Nyawang. Syaratnya cuma bawa foto 4 x 6 berwarna dan bayar Rp 25.000,-. Pas tes kesehatan ini, saya sempat deg-degan karena saya baru sebulan ikut MCU dan tidak lolos, jadi saya parno takut sakit apa-gitu-yang-parah. Dan ternyata saya sehat-sehat saja.
  13. Berkas lamaran beserta lampiran-lampirannya dimasukkan dimasukkan kedalam 2 map (1 dokumen asli + 1 Β copy) dan selanjutnya disampaikan sendiri atau melalui pos ke Sekolah Pascasarjana – ITB. Untuk cerita berkas lamaran ini, saya melakukan kesalahan yang cukup fatal, yaitu LUPA MENEMPELKAN FOTO DI FORMULIR dan baru nyadar setelah mengumpulkan berkas :))
    Selain itu, untuk yang suka mengarsipkan dokumen, sebaiknya bikin copy berkas dua kali, karena yang asli untuk SPS, dan yang 1 copy untuk prodi yang kita tuju.

Selain pengumpulan berkas, untuk yang bakal mendaftar di Teknik Geofisika ITB, akan ada tes tertulis dan tes wawancara dalam satu hari. Untuk detailnya biasanya diumumkan H-2 atau H-1 sebelum hari tes via sms oleh Mbak Ibu Lilik. Sebenarnya di sps itb acid sudah ada, hanya saja jadwalnya suka berubah, yang mestinya sehari jadi dua hari, dan sebaliknya.

Untuk soal tes tertulisnya benar-benar tentang kemampuan geofisika. Ada 5 soal esai, dan yang harus dijawab itu cukup 4 saja dalam waktu 60 menit. Soal esainya sih lima, tapi di tiap soal ada subpoinnya. Jadi total pertanyaannya lebih dari 5.
Kisi kisinya :
– Pengetahuan dasar tentang seismik (tentang gelombang dan pengolahan data seismik)
– Pengetahuan dasar tentang geolistrik (biasanya yang keluar tentang VES)
– Pengetahuan dasar tentang gayaberat (biasanya seputar koreksi atau membuat contoh respons)
– Pengetahuan dasar tentang magnetik (biasanya seputar koreksi atau membuat contoh respons)
– Kalkulus dasar seputar vektor, integral, divergen
– Pengetahuan dasar tentang ilmu geofisika itu sendiri
Tiap gelombang soalnya gak pernah sama. Saran saya, belajarlah dari seminggu sebelum jadwal tes yang dipost di sps itb acid. Bahannya cukup banyak soalnya. Yang lulusan s1 Teknik Geofisika ITB aja belom tentu bisa jawab :))

Setelah pusing ngerjain tes tertulis, waktunya tes wawancara, biasanya setelah jam makan siang. Tim pewawancaranya biasanya antara 2 – 4 orang (pengalaman saya dan teman-teman saya) dan pasti ada kepala program studi s2/s3 teknik geofiska dan/atau mantan kepala program studi s2/s3 teknik geofisika.
Pertanyaan tes wawancaranya gak susah-susah amat kok, hanya seputar :
– dulu waktu s1 belajar apa
– kalau sudah bekerja, pekerjaannya tentang apa
– mengapa kuliah lagi
– sumber dana dari mana
– nanti mau mengambil jalur geofisika perminyakan atau terapan
– motivation letter dan lembar prestasi yang dikumpulkan (makanya di bagian ini harus jujur)
– topik skripsi waktu s1 dan jelaskan
– nanti mau tesis tentang apa
– pembahasan materi tes tertulis tadi pagi
– dan pertanyaan-pertanyaan kejutan yang tidak seru kalau dibahas disini

Pada saat saya wawancara, kebetulan yang mewawancara adalah semua dosen pembimbing tugas akhir saya (ada dua) dan satu mantan kaprodi. Karena motivasi saya untuk kuliah sudah diketahui dari saat saya menyusun tugas akhir, maka yang mewawancara saya hanya satu orang, yaitu bapak mantan kaprodi. Kebetulan si bapak mantan kaprodi ini adalah profesor bidang seismik dan jawaban saya di bidang seismik pada tes tadi pagi yang banyak salahnya, dan dulu saya diajarkuliah seismik oleh beliau :)) Aku kan maluuuuu. Setelah itu, bapak dosen pembimbing 2 saya menanyakan pertanyaan yang cukup ambigu, yaitu tentang apakah saya sudah move on dan apakah ada rencana menikah saat kuliah terus kenapa dibahas pas wawancara pak kan saya jadi gak fokus. Kayaknya gara-gara saya sering curhat di lab dan kedengaran oleh beliau nih. Pada akhirnya, bapak dosen pembimbing satu saya hanya ngakak-ngakak di ruang wawancara :))

Khusus untuk lulusan s1 teknik geofisika itb yang mau melanjut s2 itb lewat jalur normal (bukan fast track), ternyata belom tentu diluluskan dengan mulus. Untuk kasus ini, yang lebih mempengaruhi adalah track record di S1 dan kegigihan selama mengikuti tes. Beberapa kakak kelas saya ada yang mengulang sampai 3 atau 4 kali baru lulus lho. Namun untuk pertanyaan wawancaranya, jika lulusan s1 teknik geofisika itb ada bedanya sedikit, tergantung dosennya. Kalau teman saya yang wawancara bareng malah disuruh presentasi ulang tugas akhir-nya tanpa pertanyaan lain karena salah satu tim pewawancaranya adalah penguji saat sudangnya, dan kayaknya nggak puas hahaha.

Selesai dari tahapan yang amat melelahkan itu, tinggal menunggu hasil dari seleksi yang diupload oleh sps itb acid sekitar 2-3 minggu dari tanggal tes wawancara.
Puji Tuhan, saya lulus. Yaudah deh gak freelance lagi.

Hope it helps!

Review : Dendeng Batokok Dago, Masakan Padang Tanpa Santan!

Sebenarnya sudah sering lewat dan makan di sini, udah upload di Instagram juga, tapi baru sempat tulis reviewnya sekarang.

Karena signagenya yang lumayan catchy, dan karena teman-teman di grup angkatan -yang pada suka membahas masakan Padang- membahas dendeng batokok, saya jadi kepengen. Nah, kebetulan, si restoran Dendeng Batokok ini ada di dekat kosan saya, kalau jalan kaki masih nyampe lah, masih jauhan Kantor Pos Dago Atas.

Pas masuk ke arena makan, langsung serem, karena takutnya mahal. Interiornya seperti kafe! Di bagian depan, ada display sampel makanan, tapi di dalam kaca. Pesanan kita baru akan dimasak setelah dipesan. Β Tanpa ragu-ragu, langsung pesan Dendeng Batokok. Pesanan cukup cepat lah sampainya, standar resto padang.

Pesannya sih cuma nasi sama dendeng batokok, tapi yang tiba itu nasi-dendeng batokok-kuah sop iga-lalap sayur berupa timun, selada, dan labu siam rebus-serta sambal. Dengan kata lain, bisa dibilang sebagai bakbik-panggang-karo versi sehat dan halal. Syedap.

Kembali ke dendeng batokok. Setelah dimakan, sepertinya daging dendengnya dibakar, karena ada sensasi somkey-nya. Dagingnya empuk dan sambal hijaunya tidak terlalu pedas. Rasa dagingnya juga seperti BPK! Senaaaaang!

Karena senang, jadilah kunjungan berulang kesini, bersama partner-in-crime. Dia doyan juga soalnya. Yasudahlah. Jarang-jarang ini selera makannya setipe. *eh kok jadi curhat ya*

Selain dendeng batokok, ada menu lain seperti nasi goreng, ayam bakar, dan lain-lain. Yang pasti minus santan. Untuk yang lagi clean eating sepertinya juga bisa makan disini πŸ™‚

Ke sini lagi? Nanti ya setelah Lebaran.

===

DENDENG BATOKOK DAGO

Jalan Ir H Juanda (sebelah Borma Supermarket)

Jam buka : 11.00 – 24.00 (pernah malam mingguan disini sampai dikode sama pelayannya)

Harga : di bawah Rp 50.000,- per menu

Review : Sari Sari Aneka Jajanan Pasar, Bandung

Semua berawal ketika negara api menyerang saya jalan kaki ke rumah bos saya, terus di jalan ada tukang klepon enak dan kleponnya baru diangkat dari kukusan. Sayangnya kalau pengen klepon lagi, agak jauh jalannya jadi pegel.

Lalu, baru ingat, kalau sering baca review tentang Sari-Sari di blog yang sering saya kunjungi. Katanya sih enak, kuenya lengkap, dan harganya terjangkau. Selain itu, akhir-akhir ini konsumsi berupa snack dari acara Prodi atau Fakultas selalu pakai Sari-Sari. Kebetulan mau meetup Postcrosser di Jalan Banda juga, jadinya kan sekalian lewat, itung-itung ngirit ongkos.

Jadilah saya mampir ke Sari-Sari demi sebuah klepon. Waktu itu pukul 11.00 WIB.

Posisi Sari-Sari terletak di depan Total Buah Tirtayasa. Gedungnya berbentuk rumah jadul Belanda, kesannya seperti makan di rumah teman. Begitu masuk, bisa dilihat etalase yang menyajikan berbagai kue-kue jajanan pasar serta menu-menu sarapan yang dapat diambil dengan sistem swalayan. Ada juga makanan kering dan cemilan khas Bandung yang dijual di sini, namun di etalase depan kasir. Tampilan interiornya saya suka, terkesan nyaman, dilengkapi dengan hiasan-hiasan berupa gambar dengan penjelasan beberapa kue yang dijual. Desainnya terkesan jadul tapi tidak norak, selain itu etalasenya cantik, jadinya setiap kesini pasti saya foto terus upload ke Instagram πŸ™‚ Sistem belanja di sini adalah ambil makanan yang mau dibeli lalu bayar ke kasir. Nanti di kasir akan ditanyakan apakah akan dimakan di tempat atau dibawa pulang? Kalau dimakan di tempat, makanan yang dipesan akan dipindahkan ke wadah saji berupa piring bambu, mangkok melamin, atau piring keramik, tergantung makanan yang akan dimakan. Di sini teh tawar panasnya gratis dan free refill. Yang membuat serasa di rumah, mug untuk penyajian teh tawarnya tidak ada yang sama πŸ™‚

Cerita klepon tadi bagaimana? Sayangnya, kali ini saya kalah tempur karena kleponnya habis diborong sama seorang ibu, di depan mata saya, karena saya kurang sigap. Yasudahlah. Tapi masih terhibur karena bisa menemukan kroket kentang isi daging dan choi pan, yang susah ditemukan di Bandung Raya ini.

Kali kedua ke sini, masih dengan misi mencari klepon. Klepon dapat, namun choi pan tidak. Maklum, datangnya pukul 11.30, di saat weekend, dan setelah ada kunjungan ibu-ibu yang berwisata ke Bandung menggunakan bus pariwisata. Saat kunjungan ini, melihat kwetiau goreng di etalase, namun tidak sempat beli.

Kali ketiga ke sini, hari Minggu jam 12.00, tiba-tiba ingin kwetiau goreng di Sari-Sari, namun kehabisan, tinggal kroket kentang saja. Yasudahlah. Mungkin harus lebih pagi lagi. Sempat nanya ke kasir di sini tentang jam buka tempat ini, katanya sih pukul 05.00 udah buka, tapi hasil googling saya mengatakan kalau bukanya puku 06.00. Entahlah mana yang benar.

Kali keempat kesini, datang sekitar pukul 09.00, dan sudah ramai saja, padahal weekdays lho! Hari ini akhirnya dapat kwetiau gorengnya :”) Rasanya seperti menang perang! Langsung beli 2, satu buat makan di tempat dan satu lagi untuk bawa pulang. Pas belanja di sini, terlihat bahwa untuk kue-kue yang populer, bisa saja dalam sejam sudah habis.

Jenis kue yang dijual di Sari-Sari memang cukup lengkap, hampir seluruh jajanan pasar di Indonesia yang cukup populer ada di sini. Namun, saran saya, kalau kehabisan, silakan kembali lagi esok hari. Saat kehabisan klepon waktu itu, dapat bocoran dari bagian dapurnya, kalau suatu jenis kue sudah habis maka tidak akan ada restock untuk hari itu.

Untuk soal harga, setiap kue yang dijual di sini harganya sangat terjangkau, memang lebih mahal dari di pasar tradisional namun sama atau lebih murah dari harga kue danusan kampus atau kue di kantin kampus. Makanya saya sampai beberapa kali kesini, hahaha.

Ke sini lagi?

===

SARI SARI ANEKA JAJANAN PASAR

Jalan Sultan Tirtayasa No 17 Bandung (depan Total Buah)

Jam buka : 05.00 – 19.00 (kata kasirnya)

Range harga : di bawah Rp 50.000,- untuk setiap menu

update!

Halo!

Maaf udah lama nggak posting. Sedang sibuk mengerjakan proyek besar pertama saya sebagai kuli geopipis. Walaupun gak ke lapangan tetapi memonitor lapangan dari jauh tuh capek juga ya 😦
Selain itu IBS dan GERD saya kumat 😦

Nanti kalau saya agak luang sdikit, mau posting lagi. Ada tempat makan kesayangan yang baru!

Stay tuned πŸ˜€

Review : Warung Boncell Kota Baru Parahyangan

Akhirnya setelah didera deadline berlebihan bisa nulis review lagi :’)
Seperti biasa, tempat yang saya review umumnya memberikan pelayanan luarbiasa memuaskan untuk saya yang tampangnya super tidak meyakinkan ini, jadi mestinya sih terpercaya.

Langsung masuk saja ke inti review ya πŸ™‚

Kemarin, secara impulsif, saya dan teman-teman tiba-tiba ingin melihat matahari terbenam. Karena saat itu waktu menunjukkan jam lima sore, maka pilihan yang tersisa adalah Warung Salse Dago dan Kota Baru Parahyangan. Karena teman-teman saya sekalian ingin lari malam, maka pilihan jatuh ke Kota Baru Parahyangan.

Bertujuh, akhirnya kami bergerak menuju Kota Baru Parahyangan dengan menebeng mobil Nina. Oiya, lupa saya jabarkan, saya pergi bersama dengan teman-teman dari Nebengers #TeamBandung lho! Jadi jalan-jalan kami full sharing macem-macem. Ada yang share nyetir, mobil, bensin, biaya tol, parkir, gorengan, bahkan doa! Saya kebagian bayarin parkir sama tol, hehehe. Seru kan? Makanya join Nebengers! *iklan terselubung*

Tiba di Kota Baru Parahyangan jam 6.30 petang, maka cerita mau lihat sunset batal. Karena teman-teman yang Muslim mau shalat, maka pitstop pertama adalah Masjid Al-Irsyad di Kota Baru Parahyangan, yang kami sebut sebagai Masjid Ridwan Kamil, karena yang merancang adalah Kang Ridwan Kamil (Walikota Bandung). Sambil menunggu shalat, saya dan teman saya yang tidak shalat tidur-tiduran di dalam masjidnya, ternyata interiornya bagus ya πŸ™‚ view keluarnya pun keren banget *jadi pengen nanti kalau nikah di chapel yang viewnya bagus, atau outdoor di puncak bukit sekalian yang penting viewnya bagus*

Setelah teman-teman saya shalat Magrib dan Isya, maka perjalanan pun dimulai. Teman-teman saya yang tergabung dalam NebengersBandungRunners (Papato, Ruli, Azkal, Nina) berganti kostum untuk lari malam dengan rute Masjid Al Irsyad – Bale Pare, sedangkan saya, Rhea, dan Alpi masuk ke mobil Nina untuk menuju Bale Pare. Rhea tidak ikut lari karena fisiknya sedang tidak memungkinkan, sedangkan saya dan Alpi tidak lari karena ga bawa perlengkapan lari.

Sampai di Bale Pare, hal yang pertama kami lakukan adalah mencari tempat makan. Oiya, Bale Pare ini merupakan food court outdoor di Kota Baru Parahyangan. Kalau siang hari, di lantai 2 Bale Pare ada studio 4D yang memutar film-film edukasi. Karena Rhea sedang ingin makan yang lebut dan hangat, kami berupaya mencari bubur. Namun tidak ada kios yang menjual bubur. Setelah muter-muter, akhirnya pilihan jatuh pada Warung Boncell karena satu hal sepele, tempatnya tertutup sehingga Rhea yang sedang sakit tidak akan kedinginan.

Saat tiba di Warung Boncell, ada suatu kejutan yang membuat hati kami hangat :’)
Teteh pelayannya sangat ramah, bahkan menanyakan kondisi Rhea yang sedang sakit serta merekomendasikan menu yang bisa dinikmati oleh Rhea supaya lekas sembuh. Rasanya seperti di rumah sendiri πŸ™‚

Akhirnya Rhea memesan nasi dan sup, Alpi memesan bandeng presto, serta saya memesan nasi ayam asam manis. Ayamnya disini bisa dipilih, mau ayam seperti dada paha sayap atau ayam fillet (Dan tentu saja saya pilih fillet). Penyajian di warung ini lumayan klasik, untuk teh hangat disajikan dalam gelas enamel, sedangkan makanan khas Sunda di piring anyaman bambu beralas daun pisang. Makanan lain disajikan di piring melamin. Untuk saus semuanya disajikan terpisah. Pelayanannya pun cukup cepat, sekitar 10 menit makanan sudah terhidang.

Untuk rasa, bandeng prestonya rasanya pas, supnya enak, dan ayamnya biasa saja. Poin plus dari warung ini tetap pada pelayanannya. Saat makanan disajikan, pelayannya menanyakan apakah rasa makanannya cukup atau ada yang kurang. Selain itu, untuk Rhea yang sedang sakit, pelayannya menawarkan untuk menambah merica pada supnya agar stamina Rhea bertambah. Kalau kata teman-teman saya yang cowok, pelayannya nih tipe istri idaman.

Setelah setengah jam menunggu, akhirnya teman-teman NebengersBandungRunners tiba di Bale Pare. Katanya sih kelamaan lari karena kelamaan foto-foto πŸ˜€ Mereka pun memesan menu makanan seperti bandeng presto yang kemudian dibagi rame-rame. Puas ngobrol, dan memang sudah waktunya Warung Boncell tutup, maka kami kembali ke Bandung dengan hati hangat :’)

Oiya, nama pelayannya itu Teh Eka #JustInfo

Kesini lagi? Mungkin. Kalau misalnya teman-teman ngajakin main ke Kota Baru Parahyangan lagi.

====

WARUNG BONCELL

Kawasan Bale Pare, Kota Baru Parahyangan

Jam buka : 09.00 – 22.00

Range harga : di bawah Rp 50.000,- untuk setiap menu

first post in 2015

after 30 days passed.

Actually, thank God, I can have survey projects on touristic places, so I can have a vacation during work time.

By the way, this month, after Christmas break given by my boss, I had to perform some researches at touristic places.

First, at Nusa Dua, Bali.
That was my first time flying from Husein Sastranegara Airport in Bandung, after living in this city for five years. I usually use Soekarno-Hatta Airport in Jakarta when it comes to flying business. So excited!
At Bali, I had a survey to map subsurface condition of a-soon-to-be apartment complex site, because it located at a hilltop. The view was amazing, I could see Tol Bali Mandara that located on the sea clearly.
After the survey finished, my client treated us (me and my team) to take a visit to Tanah Lot. What a wonderful survey (or vacation? I’m not sure)

Second, at Tangkuban Parahu site, or around Bandung, to be sure.
My newest soon-to-be research required me to perform a gravity-method-calibration around Bandung-Tangkuban Parahu trail. My team used the classic trail, Museum Geologi-UPI-Alun Alun Lembang-Tangkuban Parahu-Alun Alun Lembang-UPI-Museum Geologi. During the research, my client told me that the newest trail was behind my residence, but they were not sure about the gravity value there.
When my mom and dad knew that I was going to perform a research at Tangkuban Parahu, they asked me to visit my uncles that worked there. My uncles were asking my parents to visit them when my parents at Bandung, but my parents had no time, so my visit there should make my uncles happy (and it did). To be short, the calibration travel could be said as a trip around Bandung for free! (but with responsibility for giving a report to the client)

My mom said, because God knows that my parents couldn’t afford for a vacation, so He gave me some opportunities to have a vacation through those surveys events. Because ‘there are no such thing as a free lunch’, I had to work and make report perfectly, so I can travel more ❀