Review : Warung Boncell Kota Baru Parahyangan

Akhirnya setelah didera deadline berlebihan bisa nulis review lagi :’)
Seperti biasa, tempat yang saya review umumnya memberikan pelayanan luarbiasa memuaskan untuk saya yang tampangnya super tidak meyakinkan ini, jadi mestinya sih terpercaya.

Langsung masuk saja ke inti review ya 🙂

Kemarin, secara impulsif, saya dan teman-teman tiba-tiba ingin melihat matahari terbenam. Karena saat itu waktu menunjukkan jam lima sore, maka pilihan yang tersisa adalah Warung Salse Dago dan Kota Baru Parahyangan. Karena teman-teman saya sekalian ingin lari malam, maka pilihan jatuh ke Kota Baru Parahyangan.

Bertujuh, akhirnya kami bergerak menuju Kota Baru Parahyangan dengan menebeng mobil Nina. Oiya, lupa saya jabarkan, saya pergi bersama dengan teman-teman dari Nebengers #TeamBandung lho! Jadi jalan-jalan kami full sharing macem-macem. Ada yang share nyetir, mobil, bensin, biaya tol, parkir, gorengan, bahkan doa! Saya kebagian bayarin parkir sama tol, hehehe. Seru kan? Makanya join Nebengers! *iklan terselubung*

Tiba di Kota Baru Parahyangan jam 6.30 petang, maka cerita mau lihat sunset batal. Karena teman-teman yang Muslim mau shalat, maka pitstop pertama adalah Masjid Al-Irsyad di Kota Baru Parahyangan, yang kami sebut sebagai Masjid Ridwan Kamil, karena yang merancang adalah Kang Ridwan Kamil (Walikota Bandung). Sambil menunggu shalat, saya dan teman saya yang tidak shalat tidur-tiduran di dalam masjidnya, ternyata interiornya bagus ya 🙂 view keluarnya pun keren banget *jadi pengen nanti kalau nikah di chapel yang viewnya bagus, atau outdoor di puncak bukit sekalian yang penting viewnya bagus*

Setelah teman-teman saya shalat Magrib dan Isya, maka perjalanan pun dimulai. Teman-teman saya yang tergabung dalam NebengersBandungRunners (Papato, Ruli, Azkal, Nina) berganti kostum untuk lari malam dengan rute Masjid Al Irsyad – Bale Pare, sedangkan saya, Rhea, dan Alpi masuk ke mobil Nina untuk menuju Bale Pare. Rhea tidak ikut lari karena fisiknya sedang tidak memungkinkan, sedangkan saya dan Alpi tidak lari karena ga bawa perlengkapan lari.

Sampai di Bale Pare, hal yang pertama kami lakukan adalah mencari tempat makan. Oiya, Bale Pare ini merupakan food court outdoor di Kota Baru Parahyangan. Kalau siang hari, di lantai 2 Bale Pare ada studio 4D yang memutar film-film edukasi. Karena Rhea sedang ingin makan yang lebut dan hangat, kami berupaya mencari bubur. Namun tidak ada kios yang menjual bubur. Setelah muter-muter, akhirnya pilihan jatuh pada Warung Boncell karena satu hal sepele, tempatnya tertutup sehingga Rhea yang sedang sakit tidak akan kedinginan.

Saat tiba di Warung Boncell, ada suatu kejutan yang membuat hati kami hangat :’)
Teteh pelayannya sangat ramah, bahkan menanyakan kondisi Rhea yang sedang sakit serta merekomendasikan menu yang bisa dinikmati oleh Rhea supaya lekas sembuh. Rasanya seperti di rumah sendiri 🙂

Akhirnya Rhea memesan nasi dan sup, Alpi memesan bandeng presto, serta saya memesan nasi ayam asam manis. Ayamnya disini bisa dipilih, mau ayam seperti dada paha sayap atau ayam fillet (Dan tentu saja saya pilih fillet). Penyajian di warung ini lumayan klasik, untuk teh hangat disajikan dalam gelas enamel, sedangkan makanan khas Sunda di piring anyaman bambu beralas daun pisang. Makanan lain disajikan di piring melamin. Untuk saus semuanya disajikan terpisah. Pelayanannya pun cukup cepat, sekitar 10 menit makanan sudah terhidang.

Untuk rasa, bandeng prestonya rasanya pas, supnya enak, dan ayamnya biasa saja. Poin plus dari warung ini tetap pada pelayanannya. Saat makanan disajikan, pelayannya menanyakan apakah rasa makanannya cukup atau ada yang kurang. Selain itu, untuk Rhea yang sedang sakit, pelayannya menawarkan untuk menambah merica pada supnya agar stamina Rhea bertambah. Kalau kata teman-teman saya yang cowok, pelayannya nih tipe istri idaman.

Setelah setengah jam menunggu, akhirnya teman-teman NebengersBandungRunners tiba di Bale Pare. Katanya sih kelamaan lari karena kelamaan foto-foto 😀 Mereka pun memesan menu makanan seperti bandeng presto yang kemudian dibagi rame-rame. Puas ngobrol, dan memang sudah waktunya Warung Boncell tutup, maka kami kembali ke Bandung dengan hati hangat :’)

Oiya, nama pelayannya itu Teh Eka #JustInfo

Kesini lagi? Mungkin. Kalau misalnya teman-teman ngajakin main ke Kota Baru Parahyangan lagi.

====

WARUNG BONCELL

Kawasan Bale Pare, Kota Baru Parahyangan

Jam buka : 09.00 – 22.00

Range harga : di bawah Rp 50.000,- untuk setiap menu

Advertisements

first post in 2015

after 30 days passed.

Actually, thank God, I can have survey projects on touristic places, so I can have a vacation during work time.

By the way, this month, after Christmas break given by my boss, I had to perform some researches at touristic places.

First, at Nusa Dua, Bali.
That was my first time flying from Husein Sastranegara Airport in Bandung, after living in this city for five years. I usually use Soekarno-Hatta Airport in Jakarta when it comes to flying business. So excited!
At Bali, I had a survey to map subsurface condition of a-soon-to-be apartment complex site, because it located at a hilltop. The view was amazing, I could see Tol Bali Mandara that located on the sea clearly.
After the survey finished, my client treated us (me and my team) to take a visit to Tanah Lot. What a wonderful survey (or vacation? I’m not sure)

Second, at Tangkuban Parahu site, or around Bandung, to be sure.
My newest soon-to-be research required me to perform a gravity-method-calibration around Bandung-Tangkuban Parahu trail. My team used the classic trail, Museum Geologi-UPI-Alun Alun Lembang-Tangkuban Parahu-Alun Alun Lembang-UPI-Museum Geologi. During the research, my client told me that the newest trail was behind my residence, but they were not sure about the gravity value there.
When my mom and dad knew that I was going to perform a research at Tangkuban Parahu, they asked me to visit my uncles that worked there. My uncles were asking my parents to visit them when my parents at Bandung, but my parents had no time, so my visit there should make my uncles happy (and it did). To be short, the calibration travel could be said as a trip around Bandung for free! (but with responsibility for giving a report to the client)

My mom said, because God knows that my parents couldn’t afford for a vacation, so He gave me some opportunities to have a vacation through those surveys events. Because ‘there are no such thing as a free lunch’, I had to work and make report perfectly, so I can travel more ❤

earlier is sometimes better. happy 23!

I’m not a person that taboo-ing to congratulate someone’s birthday before his or her birthday, although some people in Indonesia taboo-ing that.

at least, for me, this year most of my birthday wishes are coming earlier than it should.

starts from greetings from pals at Postcrossing,

then an earlier birthday dinner with my ex-partner-in-crime a week before my birthday,

and a surprise cake from my landlady and housemates.

sometimes it is OK to come earlier, tee-hee.

hope for a prosperity year and permanent job this year. AMEN!

(at least, today, one of my birthday wishes is granted. today is raining. YAY!)

Some things about Myanmar

Last month, I was having my first overseas business trip to Yangon, Myanmar (later we called it as MTrip). In my opinion, Myanmar is a mysterious country, because the information that you gathered on Internet is not as same as reality and also with the knowledge from the embassy.

*switch to Bahasa Indonesia*

Buat bangsa Indonesia, Myanmar merupakan salah satu negara yang bisa dikunjungi buat backpackingan seru! Percaya nggak, di luar penginapan dan tiket pesawat, saya cuma mengeluarkan biaya 40 USD untuk 4 hari, atau setara dengan Rp 600.000,- (kurs 1 USD = 12k rupiah), dan 50% nya buat oleh-oleh kayak postcard, kaos, dll. Itu aja udah bikin koper penuh. Jadi, buat yang pengen wisata buat nambah pengalaman aja, bisa murah banget ~

Langsung aja ya, ini beberapa bocoran kalau misalnya pengen ke Myanmar (info per September 2014, bisa aja ganti)

1. Ibukota Myanmar namanya Naypyidaw (CMIIW), bukan Yangon. Baru pindahan beberapa waktu lalu.

2. Khusus Warga Negara Indonesia, Vietnam, Kamboja, Laos, dan Filipina, KE MYANMAR BEBAS VISA. Artinya cukup bawa paspor tanpa harus apply visa ke kedutaan. Asal cuma tinggal di sana kurang dari 14 hari. Info ini valid dari petugas kedutaan, dan buktinya saya sendiri lolos meja imigrasi sana.

3. Gak ada penerbangan langsung ke Myanmar. Harus transit Singapura, KL, atau Thailand. Silakan pilih yang termurah sesuai skyscanner.com. Jangan lupa pas pesan tiket pesawat untuk mencantumkan opsi halal food/muslim food untuk yang berpantang, jika penerbangannya menyediakan makanan.

4. Untuk soal hotel, saya kurang tahu karena dipesankan sponsor. Tapi, berdasarkan info yang beredar, hotel-hotel bintang 3 ke atas harga kamar per malam sekitar 60 – 90 USD, dan sudah dilengkapi sarapan pagi. Kalau untuk hostel saya kurang tahu, karena dikasihnya hotel.

5. Mata uang Myanmar, kyat (dibaca : chat) hanya bisa ditukarkan di money changer di Myanmar. Dari Indonesia sebaiknya bawa USD yang mulus tak bercacat, kalau bisa ada pecahan-pecahan kecilnya biar ngga ribet.

6. Konvensi di Myanmar : 1 USD = 1000 kyat, tapi di money changer biasanya harganya beda, 1 USD antara 800 – 950 kyat, tergantung nominal USD yang ditukarkan dan keberuntungan. Saran saya, kalau misalnya datang berkelompok, barengan aja nukerin ke kyat pake lembaran 100 USD, bedanya per 1 USD bisa 50 kyat. Kan lumayan 😀
PS : nuker di bandara sama bank lokal sama aja.

Oiya, pada beberapa daerah turistik, bayarnya pake USD, seperti kalau mau masuk ke Shwedagon Pagoda. Makanya bawa nominal USD yang kecilan (seperti 1 USD) dan lembarannya bagus, supaya bisa bayar pake uang pas. Berdasarkan pengalaman, kalau bayar pake nominal gedean, suka dikasih kembalian pake lembaran yg bulukan, dan mereka ngga mau nerima USD yang bulukan.

Sama, tukarkanlah USD dengan kyat secukupnya, kecuali mau menjadikan lembaran kyat sebagai kenang-kenangan ketika tiba di Tanah Air.

7. Tempat wisata yang terkenal : Yangon, Bagan, Mandalay. Tapi saya baru ke Yangon aja. Sila googling tentang ketiga tempat tersebut.

8. Untuk para penggemar sarung dan sendal jepit, saya sarankan agar kedua benda tersebut dijadikan benda wajib selama di Myanmar, karena semua orang pake sarung dan sendal, mulai dari kuli bangunan sampai pejabat negara. Oiya, sarung mereka namanya longyi (atau longji). Bahannya lebih kaku dari sarung yang biasa dipake ke mesjid.

Kalau mau ngasih kenang-kenangan ke warga lokal, sebaiknya sarung khas Indonesia, karena pasti kepake. Apalagi kalau ngasihnya sarung batik.

9. Soal makanan dan minuman, harganya relatif sama dengan di Indonesia, tapi wine dan beer jauh lebih murah karena di Myanmar ada kebun penghasil anggur dan gandum. Selama di sana saya puas nge-wine agar alergi tidak kumat.
Sebagai contoh:

  • harga mi instan cup sekitar 300 kyat atau sekitar 4000 rupiah.
  • bir satu kaleng sekitar 900 kyat atau sekitar 10000 rupiah

di hotel tempat saya menginap, harga bir dan wine sama dengan harga jus.

10. Untuk teman-teman muslim, soal makanan halal saya kurang tahu, tapi setahu saya sudah ada beberapa muslim restaurant di Myanmar, seperti di dekat Shwedagon Pagoda. Namun, kata dosen saya yang muslim, sebaiknya kalau mau makan di resto coba cek dulu apakah mereka menyediakan menu bab*ik atau tidak, atau lebih baik pilih opsi vegetarian saja (di Myanmar banyak vegetarian food juga). Jika terlalu waswas, beberapa makanan instan di minimarket Myanmar sudah mencantumkan opsi halal, bahkan sebagian diimpor dari Indonesia dengan bungkus yang umum kita lihat 🙂

11. Kalau misalnya mau naik taksi, sebaiknya minta tolong orang lokal untuk menawar tarif taksinya, agar tidak kena tipu. Taksinya nggak pake argo soalnya. Biasanya tarif orang lokal sama orang asing beda antara 500 – 1000 kyat.

12. Banyak nanya sama orang lokal, terutama yang bisa bahasa Inggris, terutama kalau mau pergi kemana-mana. Minta tolong dituliskan alamat yang akan dituju dengan bahasa Myanmar, biar nggak nyasar dan diputar-putar.

13. Butuh peta gratis? Bisa diambil di Tourist Center di Bandara. Bahkan kadang di hotel tersedia juga atlas kota yang bisa dipinjam.

14. Anda butuh kartupos? Bisa dicari di Yangon Central Post Office, Bogyoke Market, atau di Airport. Kalau pengirimannya bisa ke Yangon Central Post Office atau di Airport Post Office, cuma waktu terimanya cukup bertaruh sih. Bisa nyampe atau enggak.

Biaya kirim ke luar negeri dari Myanmar : 500 kyat pake perangko, 1000 kyat buat registered mail.

15. Suka nawar kalau belanja? Silakan gunakan skill ini saat beli oleh-oleh. Barang-barang bisa ditawar harganya, bahkan bisa diskon kalau belinya banyakan.

16. Yang terkenal dari Myanmar adalah kerajinan batu jade sama pagodanya, jadi, kalau mau cari suvenir, ya sekitar tema itu lah. Kata yang suka sama perhiasan, kalung sama gelang batu jadenya bagus dan murah 🙂 Bisa lah dijadikan opsi oleh-oleh.

Kalau gantungan kunci sama gelang umumnya harganya 1 USD, boleh ditawar kak kalau beli banyakan.

17. Sebagian besar bangsa Indonesia, terutama suku tertentu, mukanya mirip dengan warga Myanmar lokal. Contohnya, saya. Bahkan beberapa kali saya diajak ngomong pake bahasa Myanmar karena disangka orang lokal.

*kejadian ini juga terjadi di Thailand*

Sebaiknya kemiripan ini jangan digunakan untuk beberapa keuntungan sesaat, seperti masuk ke taman hiburan. Beberapa taman hiburan memungut tarif masuk hanya bagi warga asing, warga lokal gratis, ya, jadi jangan nyamar ya :p

Sementara itu dulu ya, semoga membantu kalau ada rencana pengen ke Myanmar, kali aja ada rejeki dan tentunya promo tiket 😀

Review : Picco Pasta

Saya suka makanan yang asin gurih tapi ga terlalu berlemak dan gak bikin eneg. Saya juga suka dengan pasta, apalagi yang dipanggang. Maka, ketika ada promosi pasta enak murah bakal saya kejar!

Saya tahu Picco Pasta pas tiba-tiba ada iklannya di timeline akun twitter saya. Kebetulan lokasinya deket daerah saya, di daerah Dipatiukur sana dan dari review di timelinenya, harga ga mahal-mahal amat dan servis memuaskan. Yasudah mari kita coba.

Pas ke sana, emang tempatnya kecil nyempil, tapi suasananya enak kok. Mbak dan masnya sigap serta ramah. Kalau beruntung, bisa lesehan di mezzanine-nya. Suasananya emang kayak di rumah, jadi nyaman banget. Kursinya juga empuk :9 Buat yang merokok, ada smoking area juga. Oiya, kalau beruntung, bisa dapet colokan. Asik!

Langsung aja masuk ke makanannya. Sejauh ini, saya udah nyobain keempat rasa pasta panggangnya (terniat sepanjang sejarah review makanan, target nyobain semua menu di javan steak aja belom kesampean sampe sekarang), dan yang saya rekomendasikan adalah Picco Classic (pasta panggang dengan saus bolognaise) dan Picco Spicy (pasta panggang dengan spicy tuna). Sayang sekali, kalau urusan pasta dengan saus krim, sepertinya masih belum menemukan proporsi yang pas, karena saya cenderung eneg 😦 Oiya, walaupun porsinya gede (lebih besar dari lasagna dan pasta panggang pijahat) tapi saya biasanya pesen dua porsi, maklum, pasti pas makan disini selalu belom makan siang.

Kalau soal minuman, biasanya saya pesan air mineral. Tapi pernah juga nyicipin minuman spesial mereka (lupa namanya, pokoknya sejenis virgin mojito dengan berbagai macam rasa) yang rasanya seger banget. Gelasnya juga lucu kak!

Kesini lagi? Pasti!

=====

PICCO PASTA

Jalan Dipatiukur (depan Nasi Goreng Mafia)

Jam buka : 12.00 – 21.00

Tutup setiap hari Kamis

Range harga : di bawah Rp 20.000,- untuk setiap menu

 

Review : Registrasi a.k.a Buat PO BOX di Bandung Raya

Ceritanya, karena rumah saya mau pindahan (lagi) ke middle-of-nowhere (literally) maka nyokap nyuruh bikin PO BOX supaya kalau orang mau ngirim tagihan, e.g. membership S*EG atau S*PE dan postcrossing gampangan dikit dan pasti ga basah (mestinya sih) 

yowes, dengan ditemani Mbak Hani, temen aku dari postcrossing, jadilah kami ke KP Bandung Asia Afrika, Mbak Hani mau ngirim postcard dan aku mau bikin PO BOX. Lagian udah jam 2 juga, KP deket kocan juga udah tutup (dan emang tadinya udah bimbang antara Asia Afrika atau Dago karena masalah waktunya)

Puji Tuhan banget bareng sama Mbak Hani, jadinya ngurus PO BOX lancar ihiy!

Langsung aja, berikut cara ngurus PO BOX di Bandung Raya, per Juli 2014 :
1. Lapor ke kamar PO BOX, bilang buat perorangan, kalau ditanya alasannya, biasanya untuk sahabat pena atau surat-suratan atau kirim2 kartupos. Hal ini biasa ditanya karena ada dua jenis tarif sewa PO BOX, yaitu perorangan atau perusahaan, biasanya perusahaan itu buat naruh lamaran kerja dan tarifnya 1.5 kali perorangan, makanya wajar aja bapaknya nanya.
2. Bawa fotokopi KTP sesuai kota yang merupakan lokasi kantor posnya. Kalau kita perantau, bawa fotokopi ktp kita dan temen yang domisilinya sesuai kantor posnya
Misalnya aku bikin PO BOX di Bandung tapi KTP-ku bukan Bandung, maka aku bawa fotokopi KTP aku dan temanku yang KTP-nya Bandung. Inilah kenapa bersyukur banget ditemenin Mbak Hani, karena KTP-nya Cimahi Raya. Tapi gatau kalau di tempat lain gimana, apakah diperbolehkan atau engga. Kalau di Bandung sih boleh. Mending tanya ke petugasnya daripada ngotot-ngototan, karena peraturannya memang KTP sesuai kota tempat kantor pos.
3. Isi formulir. Di kolom nama, tulis nama pemohon, kolom alamat tulis alamat kita, dan di kolom nomor telepon tulis nomor telepon kita. Kalau misalnya kita pake KTP temen, alamatnya pake alamat temen yang dipinjem KTP-nya. Pastikan temen anda bener-bener mempercayai anda dalam urusan peminjaman identitas ini.
4. Pilih nomor cantik a.k.a alamat kodeposnya. Pastikan lokasinya sesuai fengshui dan mudah dijangkau oleh badan. Biasanya petugasnya bakal merekomendasikan beberapa nomor, tapi kalau ga sreg minta daftar nomor yang kosong aja terus pilih nomornya dari situ. Kalau mau minta nomor customized juga bisa, tapi harganya mahal. Mending pakai yang ada aja. Toh banyak yang kosong juga.
5. Bayar ke bapaknya, lalu tunggu diberi slip pembayaran dan alamat PO BOX kita.
6. Kalau di Bandung Asia Afrika, langsung disuruh bapaknya untuk tunggu pemasangan kunci loker PO BOX kita, sekitar 15 menitan, lalu kunci pun diberikan, dicek lancar apa enggaknya, dan akhirnya PO BOX bisa dipakai Kalau di tempat lain gatau juga apakah disuruh tunggu apa engga, kalau dari hasil browsing sih bisa tunggu sampai 3-7 hari baru ambil kunci.

Harganya berapa? (per Juli 2014)
Kalau perorangan Rp 84.000,- per tahun (nomor PO BOX biasa), tapi gatau juga di tempat lain
Untuk nomor PO BOX customized (kayak yang buat undian2 itu), harganya Rp 100.000,- per bulan, tapi gatau juga kebijakan di tempat lain
Biaya pasang kunci Rp 30.000,- kata bapaknya kuncinya standar internasional dan bentuk lubang kuncinya emang kayak kotak pos arr*egui yang dijual di a*ce hardware. Biaya ini dibayar pas registrasi pertama aja atau pas kuncinya ilang.

Bisa dibuat dimana sih PO BOX?
Kata bapaknya, PO BOX bisa dibuat di kantor pos yang kepemilikan gedungnya merupakan milik PT Pos Indonesia, biasa ditandai dengan posisi kantor pos yang di satu kavling sendiri atau bentuk kantor posnya seperti rumah berhalaman. Kalau di Bandung, banyak kok yang nyediain PO BOX, gak harus ke Asia Afrika, bisa ke Cipaganti, Dago, Lembang, atau beberapa kantor pos yang bentuknya rumah. Jadi kalau yang bentuknya kios pos atau di ruko2 gitu biasanya ga ada PO BOX-nya ~ Gampangnya, biasanya PO BOX ditemukan di Kantor Pos Besar di kota/kecamatan.

Begitulah kira-kira ~ Jika ada kesamaan dengan posting di KPI, memang yang nulis sama kok, aku juga hihihi ~
Jangan lupa main ke alamat pos baruku yaa~

Review : Bakso (atau Bakwan) Malang di kota Bandung

Beberapa hari yang lalu, saya pengen banget makan bakso malang (di Bandung Raya bilangnya bakso, kalau di Malang bilangnya bakwan, bakso di bandung = penthol di malang). Kali ini pengennya yang agak authentic rasanya, gak kayak bakso malang kw 99 yang biasanya lewat kocan jam 12 siang (walaupun enak juga sih). Yaudah deh saya hunting bakso malang biar hati gembira (terus besoknya makan buah seharian) ~

Syarat bakso malang enak buat saya :

  • Kuahnya ga berasa mecin banget
  • Kuahnya berasa kaldu sapi, garam, dan bawang putihnya dengan proporsi yang pas
  • Siomaynya ga berasa aci, sebaiknya berasa dagingnya, kayak pangsit rebus enak (saya memang sangat suka pangsit rebus siomay rebus dan segala bentuk kulit tepung tipis diisi adonan daging dan dikukus atau direbus, bukan digoreng)
  • Basonya ga terlalu kenyal dan ga berasa kayak tepung direbus
  • BONUS : Kalau bisa saos tomatnya saos tomat jawa timuran yang rasanya tomat banget dan manis banget. awas aja kalau sambelnya pedes. Oiya kalau misalnya ada bihun yang kekenyalannya mirip konyaku, tambah nilai plusnya

Empat dari lima syarat di atas terpenuhi, maka itu merupakan kebahagiaan untuk saya ~

FYI, semua bakso malang yang saya review harganya relatif sama (sekitar Rp 5.000,- untuk setiap buah bakso urat besar, untuk item yang lain pasti harganya sekitar atau di bawah itu. Bakso malang umumnya dihitung per pcs item, sesuai yang mau kita makan aja). Kalau minuman saya gak ngereview, biasanya bawa air mineral botol sendiri.

Semua kunjungan dilakukan saat lapar berat dan katanya kalau lapar semua berasa enak, jadi mestinya waktu itu indera perasa saya nggak korslet.

Langsung aja yaa review bakso malang yang udah pernah saya cobain di Bandung ~

1. Bakso Malang Bom Jalan Maulana Yusuf No 4 Bandung

Kenapa ditaruh di nomor 1? Karena baso ini merupakan baso malang pertama yang saya cobain di Bandung Raya. 

Lokasinya sederetan sama GKI Maulana Yusuf, tapi lebih ke arah Total Buah. Patokannya itu kliniknya dr Kelly.

Tempat ini memenuhi 4 dari 5 kriteria saya di atas, siomay rebusnya enak, baksonya juga. Sayangnya saosnya pake saos botolan khas mamang-mamang bakso Bandung, jadi kurang berasa deh buat saya.

Suasananya emang relatif sepi sih dari yang lain, tapi percayalah, rasanya enak kok 😀 Saya aja kalau lagi main ke dukomsel pasti nyempetin kesini buat makan.

Kalau dari faktor tempat, Bakso Malang Bom yang paling homey dari yang lain.

=====

2. Bakso Kota Cak Man cabang Foodcourt BIP Bandung

Kenapa nyobain yang ini? Karena waktu ngumpul bareng temen-temen N*A*V 2009 yang lalu, ada yang mesen makanan di sini dan saya jatuh cinta sama saosnya yang warnanya otentik banget sama saos tomat jawa timuran. Cetek banget emang.

 Yaudah pada kesempatan selanjutnya, saya nyobain makan di sini, demi si saos tomat. Seperti biasa, pesan bakso dan siomay rebus. Pelayanan cukup cepat, dan bumbu tambahan yang disediakan banyak, kayak cuka garam sambal kecap dan saostomat :’)

Langsung saja kita review saos tomatnya. Enak :”) Serasa balik ke masa kecil dimana dulu setahun sekali liburan ke Batu Malang pas summer (nama acara disamarkan) dimana bakso malang gerobakan udah enak banget pake bihun kayak konyaku dan saya sempet bela-belain bungkus saosnya doang, literally. jadi kangen bakwan mentawai batu deh, sama gado-gado bo*plo gerobakan kw1 harganya (karena ngga sampe 5000 rupiah padahal bumbunya kayak boplo, namanya juga gerobakan -_- ) yang ada di batu. abaikan ngelanturnya.

Kembali ke review, selain saos tomatnya yang emang enak menurut saya, siomaynya  sama baksonya juga enak. sayang ukurannya kecil. tempatnya juga nyempil di tengah foodcourt.

=====

3. Bakso Malang Mandeep cabang Jalan Purnawarman (depan XL Purnawarman, di pojokan setelah belokan ke BEC)

Sejujurnya, saya belom pernah ke Mandeep pusat. Tapi karena waktu itu saya salah naik angkot, makanya makannya disini.

Kalau Bakso Mandeep emang udah terkenal di Bandung Raya, katanya sih enak, jadi saya iseng aja nyobain di sini. Waktu terakhir ke sini rada maleman, masih rame banget ngantrinya, tapi pas juga dateng waktu mereka lagi restock.

Pertama makan kesini, langung aja cobain siomay rebusnya sama baso, jangan lupa pake kuah. Sayangnya waktu itu mie sama bihunnya lagi habis padahal laper :(( Jujur saja, setelah masuk mulut, saya jatuh cinta sama siomaynya. Enaak kayak dimsum ~ Jadi nyesel ngambilnya kurang  dan gengsi untuk ngambil lagi 😦 Kuahnya juga enak, baksonya lembut ~

Sama seperti Bakso Bom, sayangnya pake saos mamang-mamang baso Bandung.

=====

4. Baso Malang Enggal, cabang Jalan Pasteur Bandung (dekat flyover Pasupati)

Iseng nyobain ke sini karena hampir semua orang merekomendasikan kesini, katanya sih enak, dan reviewnya juga oke. yaudah demi semangkok baso jadinya saya ke sana, tapi ke cabangnya yang di pasteur, kata review orang-orang sih rasanya sama aja, dan tempatnya lebih enak.

baru masuk ke tempatnya, ajegile ramenyoo ~ sayangnya saya lagi sial, di depan saya ibu-ibu yang bolak balik di antrian jadi yang lain lama ngunggu gara-gara dia 😦

yaudah, lagsung ambil bakso dan siomay, kali ini pake kresol gara gara laper mata. kalau soal preparation, bakso enggal lebih sigap, buktinya disediakan mangkok piring kecil dan plastik buat bungkus ~

pelayanan dari masnya terlalu sigap malahan, saya belom bayar dia udah siap. setelah dapet meja, marilah kita makan ~ anehnya kuah basonya cenderung plain di mulut saya, beda dengan baso-baso lain yang rasa kaldu sapinya berasa tanpa ditambah apa-apa. untunglah baso dan siomaynya enak. mungkin selera orang beda-beda kali ya.

lokasinya cukup gede dan nyaman kalau buat diajak rame-rame, kayaknya emang segmennya buat keluarga banget.

sama seperti yang lain, saosnya kayak saos mamang-mamang baso bandung

=====

 

demikian review saya tentang baso malang di bandung. sesungguhnya saya tidak dibayar untuk menulis posting ini, malahan saya yang bayar ke mereka untuk beli semangkok baso

demikian ~